Puasa dan Globalisasi Pangan Halal | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Puasa dan Globalisasi Pangan Halal

Puasa dan Globalisasi Pangan Halal
Foto Puasa dan Globalisasi Pangan Halal

Oleh Ahmad Humam Hamid

KETIKA puasa tiba, sulit kita bedakan manakah yang paling menonjol, ibadah atau makanan? Masjid ramai –walaupun berkurang sejalan dengan perjalanan puasa– makanan tidak kurang, bahkan terus bertambah, sampai memasuki puncaknya pada lebaran Idul Fitri. Kalau pengamatan ini benar, dapatlah disimpulkan bahwa perencanaan dan persiapan yang paling hebat bagi orang Aceh dalam menyambut puasa adalah makanan. Bagaimana mungkin di bulan yang seharusnya makanan berkurang karena jumlah jam makan berkurang, justeru naik, baik jumlah maupun ragam?

Apakah hanya umat Islam di Aceh saja yang terobsesi dengan makanan selama bulan puasa? Jawabannya ternyata tidak. Hampir seluruh umat Islam di belahan dunia manapun –hatta yang paling miskin sekalipun– mempunyai fenomena yang sama ketika Ramadhan tiba; makanan. Sebut saja, misalnya, catatan survei 2016 di negara-negara Saudia Arabia, Uni Emirat Arab, dan Mesir, menemukan dari 53% responden yang menyatakan akan membeli lebih banyak selama bulan puasa, 93% dari mereka menyatakan porsi terbesar belanja adalah makanan, minuman, dan kebutuhan dapur lainnya (Gulf News, 2017). Media-media Eropa dan Amerika Utara, dan Australia juga melaporkan belanja makanan umat Islam selama bulan puasa meningkat.

Umat Islam, kini tersebar di mana-mana di dunia, dan jumlahnya semakin meningkat. Negara-negara yang dulu hampir tidak ada umat Islam, kini telah mulai ada, walaupun minoritas. Namun, kalau dibandingkan 30 atau 50 tahun lalu, pertambahan jumlahnya sangat signifikan. Saat ini dari 6,9 miliar penduduk bumi, jumlah umat Islam lebih dari 1,6 miliar atau sekitar 23%, nomor dua setelah pemeluk Kristen yang berjumlah 2,2 miliar, sekitar 31%. Akibat tingginya angka kelahiran, diperkirakan umat Islam akan menyamai jumlah pemeluk Kristen pada 2070, masing-masing pada angka 32,3%, dan akan menjadi nomor satu jumlahnya pada pengujung abad ke-21 yakni 34,9%, melebihi pemeluk Kristen 33,8% (Pew Rersearch Center, 2015)

Puasa dan pangan halal
Ketika pangan, puasa, dan jumlah umat Islam ditelusuri, maka terasa benar ada sesuatu yang penting, yakni “nilai ekonomi” makanan halal. Hal ini menjadi lebih terang kalau kita melihat kepada realitas demografi dan kenaikan taraf hidup masyarakat negara-negara mayoritas muslim dalam 20 tahun terakhir. Sebaran demografi masyarakat Islam di Amerika, Eropa, dan Australia dan peningkatan kemajuan sosial ekonomi negara-negara Islam, kini dengan nyata terlihat dari gempuran terhadap konsumen dengan produk-produk makanan halal.

Pada puasa 2016, sebuah rantai supermarket terkenal di Inggris; Tesco, memperoleh nilai penjualan 30 miliar poundsterling atau sekitar Rp 2,1 triliun. Tesco dengan bangga mengumumkan berbagai produk halal yang diikuti dengan discount yang cukup menarik. Rantai supermarket terkenal lainnya seperti Waitrose, Sainsbury’s, Sommerfiield, dan Asda juga menjual makanan halal yang lumayan banyak. Dengan jumlah masyarakat muslim sekitar 3 juta jiwa, pasar Inggris selama bulan puasa dan hari raya semakin menunjukkan keramaian dan pembelian yang hampir meyerupai penjualan menjelang Natal dan tahun Baru.

Walaupun tidak seheboh Inggris, negara-negara lainnya di Eropa, terutama Perancis dan Jerman juga mempunyai angka penjualan makanan halal yang cukup besar. Konsumen muslim di Amerika Serikat dan Kanada juga sangat antusias menyambut puasa dengan berbagai makanan halal. Australia juga mempunyai fenomena yang mirip. Semua itu bagaimanapun menunjukkan bahwa bulan puasa adalah bulan yang paling mulia dan sakral bagi umat Islam, dengan ciri ibadah dan kasih sayang, dengan makanan sebagai sarana pemersatu.

Sangat strategis
Peningkatan permintaan pangan halal pada bulan puasa, terutama di negara-negara minoritas Islam sesungguhnya hanya secuil dari cerita besar pangan halal internasional. Hal ini penting untuk diketahui karena ketika jumlah pemeluk Islam yang lebih dari sekitar 1,6 miliar dengan kecendrungan pertumbuhan yang terus meningkat, maka jumlah makanan yang harus memenuhi jumlah mulut mereka menjadi sesuatu yang sangat strategis dari pandangan ekonomi dan perdagangan.

Nilai perdagangan pangan halal internasional pada 2015 mengisi 20% dari nilai perdagangan makanan global dengan nilai total pengeluaran pemeluk Islam untuk makanan 1.128 triliun dolar atau sekitar Rp 14,664 triliun (TSIEG Report, 2016). Angka ini dalam beberapa tahun terakhir telah dan akan tumbuh dengan sangat cepat. Dengan pertumbuhan penduduk dan pertambahan pendapatan, baik di negara-negara Islam mayoritas, maupun negara Islam minoritas, dapatlah dibayangkan masa depan pangan halal.

Lihat saja pembangunan dan peningkatan pendapatan di negara Islam mayoritas seperti Indonesia, Turki, Malaysia, dan sebagian negara Arab dan Teluk. Demikian juga pertumbuhan ekonomi India, Cina, dan Rusia yang pemeluk Islam-nya ketika dikombinasikan mencapai lebih dari 300 juta. Demikian juga dengan pertumbuhan jumlah pemeluk Islam yang sangat cepat, bahkan akan berganda dalam satu atau dekade ke depan di Eropa, Amerika, dan Australia.

Tidaklah mengherankan dengan potensi konsumen yang begitu besar, maka perusahaan besar Internasional yang pemiliknya bukan muslim pun sudah masuk dengan sangat cepat dan besar dalam sektor pangan halal. Perusahaan pangan terbesar di dunia yang telah masuk ke sektor pangan halal seperti Nestle (Swiss), Cargil (Amerika Serikat), Unilever (Belanda), Hebei Kangyuan Islamic Food (Cina), Nema Food Company (Saudi Arabia) dan Kawan Foods (Malaysia). Hampir semua mulut umat Islam di dunia, setiap hari bertemu dengan produk mereka atau perusahaan lain yang sama dengan mereka. Adagium uang tidak mengenal dan memeluk agama manapun agaknya sangat terbukti dari fenomena pangan halal global yang cukup banyak berasal dan dimiliki oleh perusahaan non muslim.

Harus bekerja keras
Tiga kata, “tsunami”, “konflik”, dan “perdamaian”, yang berasosiasi dengan Aceh di media-media besar Internasional beberapa tahun lalu, kini telah bertambah satu kata lagi, “cambuk”. Sebut saja misalnya, dua kejadian cambuk terakhir telah menghiasi wajah koran the New York Times, Washington Post, the Guardian, CNN, AlJazeera, South China Morning Post, dan Der Spiegel. Aceh nampaknya harus bekerja keras untuk menambah satu kata lain yang sangat relevan dengan wajah negeri syariah, yakni halal foods. Potensi dan peluang itu kini tampak sangat terbuka dengan menjadikan Aceh sebagai satu calon pusat pangan halal internasional.

Dengan status negeri syariah, Aceh berpotensi untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dengan klaim besar dan lantang Aceh means halal (Aceh sama dengan halal). Yang penting untuk dicatat, pangan halal tidaklah semata-mata monopoli perusahaan besar. Sangat terbuka peluang UKM dan bahkan usaha rumah tangga di berbagai daerah di Aceh untuk ikut berpartisipasi. Hanya saja yang dibutuhkan sekarang adalah keseriusan pemerintah membangun strategi pemihakan untuk pengembangan SDM UKM makanan halal, penguatan riset di universitas, promosi produk dan kegiatan expo pangan halal internasional, serta regulasi makanan halal yang lebih serius dari apa yang berlaku secara Nasional hari ini.

Aceh harus segera berbenah dengan mulai memperbaiki image daerah di mata ivestor. Kesan Aceh sebagai kawasan yang konfliknya belum selesai, pemerintah daerah yang tidak kapabel, tidak konsisten, tidak ramah investasi, harus egera dihilangkan. Selanjutnya, memulai sesuatu yang baru dibutuhkan kesabaran. Lihat saja Malaysia mulai serius menekuni pangsa pangan halal sejak 1974 secara konsisten. Hasilnya, saat ini Malaysia menjadi satu pusat rujukan pangan halal global, baik karena jumlah investasi, keragaman korporasi produk pangan halal domestik maupun internasional, riset dan pengembangan, dan komitmen pemerintah yang luar biasa.

Fakta pertumbuan jumlah umat Islam di tahun-tahun mendatang, dan peningkatan pendapatan yang semakin menggeliat adalah pasar. Lagi pula makanan adalah sebuah komoditi yang tak pernah hilang sampai dunia kiamat. Suatu hari kelak insya Allah, nama Aceh dan pangan halal akan menjadi materi bahasan di TV, radio, ataupun majalah Bloomberg, dan bahkan The Economist sekalipun.

* Prof. Dr. Ir. Ahmad Humam Hamid, M.A., staf pengajar Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh. Email: humamhamid@yahoo.com (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id