Berdamai dengan Bumi | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Berdamai dengan Bumi

Berdamai dengan Bumi
Foto Berdamai dengan Bumi

Oleh Muhammad Irfan Alfarisi

HUTAN adalah satu aset paling berharga yang dimiliki oleh bumi dan makhluk hidup. Hutan bukan hanya sebagai habitat berbagai flora dan fauna melainkan juga sebagai sumber daya alam bagi rakyat dalam hal mewujudkan kedaulatan pangan, kelestarian lingkungan, kesejahteraan ekonomi dan kesejahteraan sosial. Namun sangat disayangkan, pemerintah sebagai mandataris rakyat belum mampu mengelola hutan dengan bijaksana.

Berbagai pengelolaan hutan yang dilakukan pemerintah hanya mengandalkan prinsip maksimalisasi keuntungan semata yang juga hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Sehingga kepincangan sosial dalam tatanan masyarakat semakin terlihat jelas dan ini merupakan satu kejahatan terburuk kapitalisme.

Ironisnya pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur selalu memberikan ancaman untuk alam. Salah satu ancaman yang paling besar adalah penggundulan dan alih fungsi hutan. Akibatnya keseimbangan ekosistem hutan dan lingkungan manusia terganggu. Contoh nyata adalah bencana alam yang terus saja terjadi belakangan ini di beberapa daerah di Indonesia tidak lain karena disebabkan oleh rusaknya fungsi hutan. Kemudian konflik ruang antara manusia dan satwa liar yang semakin sering terjadi. Rusaknya habitat satwa liar menyebabkan mereka harus masuk ke pemukiman penduduk untuk mencari makan, dan yang akan terjadi adalah kerugian bagi kedua pihak.

Berdasarkan data yang dipublikasi oleh Statistik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2015, luas hutan indonesia mencapai 120.773.441,71 hektare. Sedangkan Aceh sendiri memiliki total hutan seluas 3.557.928 hektare. Namun sangat disayangkan, dalam berbagai informasi yang dihimpun melalui internet selama sembilan tahun terakhir hutan di Aceh mengalami kerusakan parah hingga mencapai 290.000 hektare.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan tingginya angka deforestasi ini, yaitu buruknya tata kelola hutan dan aktivitas perambahan hutan ilegal. Faktor lainnya adalah para pemangku kepentingan yang tamak yang bermain mata dengan para pebisnis demi meraup dollar, sehingga melegalkan proyek-proyek yang jelas-jelas merusak hutan.

Banjir adalah bencana ekologis yang saban tahun terjadi di Aceh. Baru-baru ini di Aceh Tenggara 12 Desa diterjang banjir bandang. Selain curah hujan yang tinggi, kerusakan hutan yang menyebabkan bencana ini terjadi. Hutan yang tadinya berfungsi sebagai pengatur air dan pencegah erosi kini sudah berubah fungsi menjadi lahan baru. Bencana ekologis seperti ini akan tetap berlanjut setiap tahunnya jika pemerintah Aceh mengabaikan penyelamatan hutan dari tangan-tangan jahil. Ini adalah salah satu pekerjaan rumah untuk jajaran pemerintah Aceh yang baru kedepannya.

Menyelamatkan alam
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan pemerintah Aceh dalam meyelamatkan alam, antara lain: Pertama, penghijauan kembali hutan yang rusak atau reforestasi. Ini satu upaya untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem. Tindakan ini merupakan proses pemulihan suatu ekosistem ke keadaan sebelum terjadi kerusakan. Dalam hal ini pemerintah perlu membuat sebuah aturan tegas untuk setiap aktivitas pembalakan liar. Sehingga aktivitas yang merugikan lingkungan ini bisa segera diatasi di Aceh. Hal lain yang terpenting adalah para pejabat pemerintahan memiliki niat tulus untuk menyelamatkan alam dan tidak main mata dengan para pebisnis serta berani menolak proyek-proyek kapitalis yang mengancam lingkungan.

Kedua, pemanfaatan energi baru terbarukan. Pengoptimalan energi terbarukan di Aceh masih cukup kecil, diharapkan kedepannya pemerintah berani menginvestasikan anggaran dalam penyediaan energi terbarukan. Karena sumber energi ini bersifat ramah terhadap lingkungan dan memiliki cadangan yang tidak pernah habis, serta pengembangan energi terbarukan dapat digunakan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Sehingga sumber energi terbarukan diharapkan memiliki peran aktif dalam skenario diversifikasi energi dimasa yang akan datang.

Ketiga, pertanian yang berkelanjutan. Ini adalah salah satu upaya untuk mengurangi impor dan menekan penggunaan bahan kimia yang berdampak buruk pada lingkungan. Dalam pelaksanaannya, pertanian berkelanjutan identik dengan pertanian organik. Dalam program ini, pemerintah, ilmuwan pertanian, dan petani saling bekerja sama sebagai mitra dalam melakukan inovasi. Pertanian berkelanjutan bisa dijadikan sebagai tulang punggung untuk mewujudkan kedaulatan pangan.

Keempat, Pembangunan infrastruktur berwawasan lingkungan. Hal ini bertujuan untuk terciptanya keseimbangan antara pembangunan dan pemeliharaan lingkungan hidup. Sehingga dampak risiko bencana dan kerusakan lingkungan dari sebuah pembangunan dapat dicegah dan diperhitungkan dengan sedetil mungkin. Selain itu, setiap pembangunan yang dicanangkan pemerintah mampu diorientasikan menuju keadilan sosial dan kesejahteraan sosial.

Kelima, pemberdayaan masyarakat kawasan hutan dan desa. Pola hidup masyarakat Aceh masih sangat konsumtif. Dalam hal ini, pemerintah harus memfasilitasi para masyarakat kawasan hutan dengan alat-alat produksi dan meningkatkan lahan garapan yang telah ditentukan tanpa harus membuka lahan baru. Selain itu pemerintah bisa membekali setiap desa di Aceh dengan ilmu kewirausahaan dan ekonomi kreatif berkelanjutan untuk mengolah potensi yang ada didesa masing-masing. Jika pemerintah memang serius, lambat laun pola masyarakat konsumtif akan berubah menjadi pola masyarakat produktif.

Selain menjadi tugas pemerintah, rakyat juga wajib turun tangan dalam menjaga kelestarian hutan. Apalagi hutan Aceh termasuk paru-paru dunia yang wajib dilindungi. Selain banyak hal yang telah dijabarkan diatas, ada berbagai cara sederhana untuk menjaga bumi. Misalnya dengan menggunakan energi listrik dan air seperlunya, tidak membuang sampah sembarangan, dan melakukan kegiatan yang bermanfaat untuk alam.

Akhirul kalam, sebuah cuplikan sajak Zarathustra, sang dinamit akan menutup tulisan ini, “Sungguh yang paling agung pada diri manusia adalah jiwanya yang selalu memberi tanpa mengharapkan pengembalian dan terima kasih.” Billahi fii sabilil haq fastabiqul khairat.

* Muhammad Irfan Alfarisi, S.T., alumnus Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Email: [email protected] (uri/atrya/ratama/SP)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id