The Praak Band, ‘Nang Ning Nong . .’ | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

The Praak Band, ‘Nang Ning Nong . .’

The Praak Band, ‘Nang Ning Nong . .’
Foto The Praak Band, ‘Nang Ning Nong . .’

Nang ning nong…

cok gari peudieng inong

nyang na pasangan

cukop seunang han peue tanyong

nang nginang nginang nginong

Wang wing wong…

wah ulee lon sang bingong

ngon saboh leting…

oh te lon ngieng kana inong…

 BEGITULAH sepenggal lirik lagu Nang Ning Nong yang menjadi satu single andalan dalam album perdana The Praak Band bertitel The Praak, yang mulai dipasarkan Senin (5/6) ke seluruh Aceh hingga Malaysia. Lirik lagu dalam single tersebut diciptakan oleh Medya Huss yang merupakan seorang seniman Aceh.

Lirik demi lirik dalam single tersebut dibawakan secara apik oleh M Insya alias Pele (vokal), Irvanda Saputra (bassis), Yuda Setiawan (drummer), Ebone (lead guitar), dan Semy (gendang) dengan aliran musik dangdut Melayu.

“Sebenarnya gak ada bahasa nang ning nong, itu lebih ke senandung sebuah suara sudah gak tau mau ngomong apa, gak ada kata-kata lagi,” tutur Manajer The Praak, Suryadi alias Dedex KTB yang juga didampingi sang vokalis The Praak Band, M Insya kepada Serambi di Banda Aceh, Sabtu (3/6).

Dalam single Nang Ning Nong tersebut, kata Dedex menceritakan seorang laki-laki yang melihat teman-teman kuliahnya sudah menikah dan mempunyai anak. Bahkan si lelaki itu juga sempat menanyakan kepada temannya itu siapa wanita yang dibonceng sepeda olehnya, yang ternyata itu adalah istrinya.

“Sehingga ada percakapan dalam single itu seperti, kenapa tidak ada undangan, dan temannya itu menjawab tidak ada acara hanya kecil-kecilan,” kata Dedex menirukan percakapan dalam video klip lagu tersebut.

Dalam album perdana ini, sebut Dedex berisi 10 single lagu, di antaranya Nang Ning Nong, Nek Lakee Cuco, Raja Praak, Becak Online, dan Kucing Itu Miong. Sementara, pencipta liriknya banyak melibatkan pelaku seni di Aceh, seperti Medya Huss (Nang Ning Nong), Andie SR (Raja Praak), dan Safrizal Geunta Donya (Bintangku dan Saye Tau You).

Band yang sejak 2016 resmi bergabung di bawah label musik D2x Management ini menyuguhkan genre musik rock, dangdut, reggae, pop, serta slow rock. Bahkan The Praak juga mampu menggabungkan berbagai aliran musik dalam satu lagu, contohnya single Kucing itu Miong mengkombinasikan musik dangdut dan pop.

“Mereka bisa bersanding dalam satu harmoni musik sehingga dapat memberi nuansa baru di blantika musik Aceh. Selain itu lengkap dengan lirik-lirik plesetan yang terinspirasi dari lagu aslinya, ditambah dengan improvisasi personel saat tampil di atas pentas. Ini merupakan momen yang banyak ditunggu-tunggu oleh para Soe Prak, sebutan untuk fans The Praak Band,” ujarnya.

Penggarapan album itu sendiri, kata Dedex berlangsung selama empat bulan yang dimulai pada awal 2017 lalu dengan lokasi syuting di tiga tempat yaitu Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang. Menurutnya, banyak juga kesulitan yang dihadapi selama proses penggarapan album perdana tersebut, karena pihaknya ingin memberikan nuansa baru untuk disuguhkan kepada masyarakat.

“Jadi terkadang proses syuting ini bentrok dengan jadwal konser. Selama setahun ini, minimal satu bulan sekali selalu ada kegiatan konser baik itu besar maupun kecil. Diharapkan dengan adanya album ini maka jadwal mereka dapat lebih banyak lagi,” harap Dedex yang turut diaminkan oleh M Insya.

M Insya alias Pele yang merupakan vokalis The Praak Band juga berharap agar album perdana ini dapat diterima secara baik oleh masyarakat. Sebab pihaknya menawarkan nuansa baru dengan menggabungkan semua aliran musik dalam satu lagu. “Sejauh ini saat konser dapat diterima oleh masyarakat,” demikian tutupnya. (mawaddatul husna) (uri/sih/ebrinaldy/AF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id