Payung Masjid Raya belum Bersensor | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Payung Masjid Raya belum Bersensor

Payung Masjid Raya belum Bersensor
Foto Payung Masjid Raya belum Bersensor

* Lantai Banyak yang Retak-retak

BANDA ACEH – Jumat (2/6) kemarin, Tim Laboratorium Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) turun ke lokasi pemasangan payung di Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Kota Banda Aceh untuk melihat tali seling payung yang putus hari Rabu (31/6) lalu.

Tali seling itu putus, diduga karena payung belum dilengkapi alat sensor angin. Hal itu terbukti dan diakui Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) pelaksana proyek bahwa hidrolik 12 unit payung itu belum dilengkapi alat sensor tekanan angin.

Sebaliknya, Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menilai alat sensor tekanan angin itu sangat urgen untuk proyek payung elektrik di kompleks MRB. “Kalau alat sensor tekanan angin belum dipasang di bagian hidrolik otomat pada payung yang besar maupun yang kecil, ini sangat berbahaya. Operator tak bisa mengetahui besaran tekanan angin, sehingga tali seling bisa putus dan kain terpal membran payung bisa robek karena tekanan angin di atas kemampuan daya tahannya,” kata Rektor Unsyiah, Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng kepada KPA Pelaksana Proyek Landscap dan Infrastruktur MRB Mizwan, di Masjid Baiturrahman Kota Banda Aceh, Jumat (2/6).

Tim Lab FT Unsyiah turun ke lokasi pemasangan payung Masjid Raya, kata Samsul Rizal, karena pada hari Rabu (31/5), payung nomor 11 di kompleks masjid tersebut tidak bisa dibuka. Alasan penjaga, karena tekanan angin sangat kencang, sehingga seling pengikat kain terpal payung itu pun terlepas.

Tim Unsyiah menurunkan sejumlah doktornya untuk menganalisis kondisi payung yang tidak kembang tersebut sebagai bahan analisis terhadap kekuatan kain terpal membran payung.

Dalam misi ini, Tim Lab FT Unsyiah dipimpin langsung Dekan FT Unsyiah, Dr Ir Mirza Ibrahim Hasan, didampingi Dr Ir Abdullah, Dr Ir Taufiq Saidi, Dr Ir Alfian, dan sejumlah saf Lab FT Unsyiah.

Di lapangan, Tim Lab FT Unsyiah juga mewawancari KPA Pelaksana Proyek MRB, Mizwan. Tim Lab mempertanyakan pertama, apakah payung yang sedang diuji coba itu sudah dilengkapi sensor tekanan angin di bagian hidroliknya? Mizwan mengaku, belum dipasang, karena payung tersebut sedang dalam masa uji coba.

Perlu dipasang
Menanggapi jawaban Mizwan tersebut, Dekan FT Unsyiah Mirza Ibrahim Hasan dan anggota Tim Lab menyatakan, alat sensor angin itu perlu dipasang pada saat masa uji coba. Tujuannya untuk mengetahui pada tekanan knot berapa payung bisa dibuka dan pada saat tekanan knot angin berapa pula, payung tidak boleh dibuka atau akan tertutup secara otomatis. Ini penting agar seling payung tidak putus/copot dan kain membran payung tidak robek.

Menurut Mirza, alat sensor angin yang tidak dibawa pada masa uji coba itu merupakan kesalahan besar yang dilakukan konsultan perencana dan pengawasan pemasang payung.

Sebelum kain terpal payung masjid dipasang, Tim Lab FT Unsyiah pernah minta diuji dulu di Lab Unsyiah. Tapi, pihak konsultan perencana dan pengawas payung MRB saat itu tidak memberikannya. Sekarang ini, ada satu payung, yakni payung nomor 2 di sayap kiri, ujungnya sudah kelihatan koyak.

“Tapi karena payungnya tinggi di atas dan jauh dari mata, tidak kelihtan dengan jelas. Namun, setelah difoto dan dizoom pakai hp, barulah robeknya kelihatan,” ujar Mirza.

Di sisi lain, Tim Lab Unsyiah juga meminta uji kain membran terpal payung MRB. Menurut Mirza, itu dilakukan untuk mengetahui kekuatan payung dan untuk bahan penelitian Lab FT Unsyiah. Jika kain membran terpal payungnya sewaktu-waktu koyak, akibat termakan usia dan tekanan angin yang terlalu kencang, maka bisa diketahui jenis kain membran yang bagaimana yang boleh dipasang ke depan untuk menggantikan kain membran terpal yang kini koyak.

Sekarang ini, kata Mirza, jika Pemerintah Aceh minta bantu kepada Lab Unsyiah untuk memeriksanya, karena belum diizinkan konsultan perencana dan pengawas payung, kita tidak mengetahuinya.

Selain itu, lanjut Rektor Unsyiah, Samsul Ruzal dan Dekan FT Unsyiah Mirza, pihaknya telah memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Aceh untuk membeli mobil tangga jalan, guna perbaikan payung yang rusak/terbakar. Belilah kualitas yang bagus, seperti yang digunakan di Masjid Nabawi, Madinah.

Tapi, yang diusulkan KPA kepada pelaksana pembeli mobil tangga berjalan itu, bukan seperti yang diusul Lab FT Unsyiah, melainkan mobil tangga yang hanya bisa bergerak satu arah vertikal saja. Harga mobilnya memang jauh dibawah harga mobil tangga yang bisa bergerak segala arah yang diusul Lab FT Unsyiah.

“Tapi, kita khawatir, kalau mobil tangga berjalan vertikal itu yang dibeli, tidak lama dipakai, mobil tangganya akan rusak. Kalau itu yang terjadi, musibahnya dua kali lipat. Pertama, payung yang rusak tidak bisa diperbaiki, mobil pengangkutnya tidak bisa digunakan,” ujar Mirza.

Sementara itu, Rektor Unsyiah, Prof Samsul Rizal mengatakan, pengadaan mobil tangga berjalan BRM itu kasusnya bisa seperti pengadaan mobil pemadam kebakaran (damkar) yang sekarang kasusnya telah diserahkan jaksa ke Pengadilan Tipikor di Banda Aceh. (her) (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id