Kampung Wakaf Milik Sultan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kampung Wakaf Milik Sultan

Foto Kampung Wakaf Milik Sultan

OLEH ZULKHAIRI ARAFAH FARABY, Mahasiswa Administrasi Bisnis, Uludag University, melaporkan dari Turki

ISTANBUL dan Ankara. Inilah dua kota penting bagi Turki. Istanbul menjadi ibu kota Usmani sejak Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel kemudian berganti nama menjadi Islambol (Islam melimpah).

Cikal bakal Dinasti Usmani justru dimulai dari Bursa sebelum dipindah ke Edirne setelah kekalahan Usmani dari Timur Leng. Rumah-rumah, istana, dan masjid dihancurkan, rata dengan tanah. Beruntungnya, Cumalikkizik dan Kizik-kizik lainnya bertahan sampai sekarang.

Cumalikkizik (baca: Jumalekkezek) merupakan perkampungan tua di pinggiran Kota Bursa yang berumur lebih dari 700 tahun. Cumalikkizik berasal dari kata “Cuma”, berarti Jumat dan “Kizik” bermakna perempuan. Dari dulu perkampungan ini selalu ramai pada hari Jumat, baik oleh aktivitas perdagangan maupun shalat Jumat berjamaah.

Perkampungan bersejarah ini terletak di Distrik Yildirim, kurang lebih 10 km ke arah timur Kota Bursa. Tapi tak perlu khawatir, karena ada banyak dolmus (angkot Turki) jurusan Cumalikkizik, apalagi ada metro (kereta bawah tanah) yang bisa diakses dari mana saja. Anda hanya perlu turun di Stasiun Cumalikkizik, kemudian teruskan perjalanan dengan otobus hingga sampai di kaki Gunung Uludag.

Perkampungan ini dibangun Sultan Orhangazi sebagai perkampungan wakaf. Mata pencaharian masyarakatnya adalah bercocok tanam dan berdagang. Tanamannya pun beragam, mulai dari anggur, raspberry, dan gandum. Hasil panen tersebut kemudian dijajal pada hari Jumat di lapangan pintu gerbang masuk perkampungan.

25 Ferbuari 2000 Cumalikkizik ditetapkan Unesco sebagai cagar budaya warisan dunia. Perkampungan ini mulai dikenal dunia ketika menjadi lokasi syuting drama Turki berjudul “Henna in the Snow”. Drama tersebut meraih sukses di eranya, kemudian muncullah rogram tv lainnya yang tertarik untuk meliput keunikan Cumalikkizik.

Rumah-rumah Cumalikkizik masih mempertahankan kemurnian arsitektur Usmani. Dua atau tiga rumah saling terhubung ke jalan kampung dengan satu pintu gerbang yang terbuat dari kayu. Di samping pintu berdiri kokoh tembok pembatas rumah yang tinggi. Tembok-tembok tersebut terbuat dari tanah liat ataupun pahatan batu. Dinding rumah di sini ada yang terbuat dari pecahan batu bercampur tanah liat, batu bata zaman Usmani, tripleks, bahkan ada yang hanya terbuat dari tanah liat dicampur dengan serabut rumput.

Hal unik lainnya adalah bentuk jendela di lantai atas yang membentuk pola geometris dan buncit ke depan. Cumalikkizik bisa dibilang mirip dengan “rumoh Aceh”, di mana dapur, kamar tidur, dan ruang tamu berada di lantai atas. Artinya, setiap rumah mempunyai tangga masuk ke ruang utama. Sedangkan di lantai dasar diberi papan penutup yang berfungsi sebagai gudang penyimpanan hasil panen kebun, kayu bakar, ataupun tempat penyimpanan peralatan kebun.

Jalan-jalan kampung yang menghubungkan rumah ke rumah juga terbuat dari pecahan batu yang ditumbuk rata, tapi diberi celah di tengahnya agar air hujan atau salju cair dapat mengalir ke sungai.

Cumalikkizik terdiri atas 270 rumah. Beberapa di antaranya sedang dalam proses restorasi. Hanya 180 di antaranya berpenghuni dan 85 dari rumah tersebut terdaftar sebagai model bangunan Dinasti Usmani.

Pemerintah daerah juga memasang tv touchscreen di gerbang masuk perkampungan untuk memandu turis-turis lokal maupun mancanegara.

Keasrian Cumalikkizik tak hanya pada bangunannya, melainkan juga gaya hidup masyarakat setempat. Gaya hidup ala Usmani masih melekat di kampung yang berpenduduk 750 jiwa ini. Cara berpakaian, cara memasak, dan memanggang roti semuanya masih sama dengan 700 tahun lalu. Tapi mereka bukan primitif. Penduduknya juga menggunakan handphone atau tv layaknya penduduk kampung lainnya. Hanya saja dari segi tertentu sentuhan modern tak dapat diterima. Cara hidup dan dekorasi kamar juga disesuaikan dengan perubahan musim.

Cumalikkizik kini menjadi objek wisata andalan Provinsi Bursa. Lambat laun mata pencaharian masyarakat pun mulai berubah. Mayoritas masyarakat setempat kini beralih untuk membuka restoran-restoran “Kahvalti” (untuk sarapan) dengan menggunakan teras rumah sebagai rumah makan dan pembeli dapat menyaksikan langsung proses pembuatan makanan yang masih menggunakan cara tradisional.

Perhatian serius terhadap tempat-tempat bersejarah tak hanya dilakukan di Provinsi Bursa, tapi juga di seluruh Turki. Cumalikkizik merupakan bagian dari ribuan tempat bersejarah yang mendapat perhatian khusus. Pemerintah pusat dan provinsi terus bekerja untuk mempertahankan dan merawat tempat-tempat bersejarah.

Benda-benda sejarah peninggalan Bizantium, Dinasti Selçuk, Dinasti Usmani, maupun era republik masih utuh dan terjaga. Tujuannya, untuk mendidik anak-anak bangsa agar cinta dan menghargai jasa pendahulu yang berjuang membangun Turki. Di sisi lain, aneka peninggalan sejarah tersebut mampu mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara ke Turki setiap tahunnya.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/sih/ebrinaldy/AF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id