Tugu Simpang Lima yang Inspiratif | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Tugu Simpang Lima yang Inspiratif

Tugu Simpang Lima yang Inspiratif
Foto Tugu Simpang Lima yang Inspiratif

Oleh Zulhadi Sahputra dan Izziah

TUGU baru Simpang Lima Kota Banda baru saja diresmikan. Kehadirannya banyak memunculkan interpretasi tentang konsep dan bentuk desain tugu yang dibangun. Ada yang mengagumi, mempertanyakan dan ada juga yang menyatakan ketidakpahaman akan desain tersebut secara terang-terangan. Respons yang variatif seperti itu adalah wajar, mengingat memang belum semua masyarakat sepenuhnya paham mengenai konsep desain Tugu Simpang Lima yang sebenarnya.

Bukan sedikit yang berpikir bahwa tugu tersebut “sekadar” asal jadi dan malah dituding meniru bentuk-bentuk tertentu. Namun berapa banyak yang tahu bahwa sebenarnya proses desain tugu tersebut menghabiskan waktu yang tidak singkat dan atas dasar riset, dengar pendapat dan diskursus yang disandarkan pada disiplin keilmuan yang berkompeten di bidangnya. Intinya, desain yang “sederhana” ini tercipta melalui proses panjang, yang justru tidak sederhana.

Ada empat konsep dasar yang dielaborasi dalam pengembangan desain Tugu Simpang Lima Banda Aceh, antara lain: Konteks lokasi, isu desain, karakter desain dan budaya perusahaan Bank Bukopin. Mengapa Bank Bukopin? Karena tugu ini direvitalisasi oleh Bank Bukopin bekerja sama dengan Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh.

Proses perencanaan
Yang pertama adalah konteks lokasi. Dalam proses perencanaan, kondisi eksisting kawasan perencanaan dan konteks lokasi menjadi hal penting yang dipertimbangkan dalam proses desain ini. Tugu Simpang Lima Banda Aceh merupakan satu landmark yang terletak pusat kota yang memiliki sejarah dan memori sebagai tempat yang sering dijadikan lokasi penyampaian aspirasi dan demonstrasi.

Pada konteks lokasi, ada empat eksplorasi konsep yang diterapkan pada desain, antara lain: axis-oriented (sumbu), urban oase, multi-purposes building, dan landmark Kota Banda Aceh. Sesuai namanya, lokasi tugu ini memiliki lima persimpangan jalan protokol yang selalu padat, yaitu: Jalan Tgk HM Daud Beureuh, Jalan T Panglima Polem, Jalan Sri Ratu Safiatuddin, Jalan Diponegoro, dan Jalan T Angkasa Bendahara. Aksis ini direspons dengan menciptakan bentuk tugu yang berorientasi menghadap kelima aksis (sumbu) jalan yang ada pada sekitar kawasan.

Konsep urban oase diterjemahkan dengan menghadirkan lansekap taman kecil dan Kolam Air Mancur sebagai elemen pendukung untuk memberi nilai lebih terhadap tugu. Keberadaan taman dan Kolam Air Mancur tersebut diharapkan mampu berkontribusi untuk mengendalikan iklim mikro dalam menurunkan suhu di sekitar tugu.

Kemudian, konsep multi-purposes sculpture diterjemahkan melalui penciptaan bentuk tugu yang bukan hanya mengedepan estetika saja, namun juga aspek yang fungsional. Sesuai dengan latar belakang konteks lokasi tugu sebagai tempat yang sering dijadikan lokasi penyampaian aspirasi dan demonstrasi, maka desain tugu yang baru ini justru memberi “ruang” yang lebih nyaman untuk itu.

Semakin hari kota akan semakin berkembang menyesuaikan diri. Identitas kota dapat dipertahankan, namun tidak tertutup kemungkinan bahwa perkembangan kota bisa melahirkan identitas baru. Kehadiran tugu baru ini diharapkan tetap bisa menjadi penanda kota (landmark) menggantikan tugu yang lama.

Isu desain
Konsep dasar desain yang kedua adalah isu desain. Isu desain yang diangkat dalam desain ini adalah isu-isu kekinian yang berhubungan dengan lokalitas, identitas, dan karakter Kota Banda Aceh saat ini. Ide awal perencanaan tugu ini diambil dari bentuk Pintoe Aceh, sesuai dengan permintaan Ibu Wali Kota Banda Aceh. Bentuk yang ditransformasikan adalah setengah Pintoe Aceh yang kemudian dieksplorasi melalui beberapa proses dengan memasukkan nilai-nilai dari konsep kota madani.

Tugu tersebut berjumlah lima pilar utama yang merujuk pada lima Rukun Islam. Pilar tersebut berbentuk setengah Pintoe Aceh yang menjulang ke atas. Bentuk Pintoe Aceh akan terlihat secara abstrak dari view tertentu. Beberapa menilai bahwa tugu ini bentuknya asimetris. Padahal “ketidaksimetrisan” itu disengaja sebagai bagian dari desain yang dinamis; agar visualisasi yang tercipta lebih kaya dan beragam jika dilihat dari berbagai sudut di Simpang Lima itu sendiri.

Belum lagi ada yang mengait-ngaitkan bentuk tugu dengan lambang partai politik tertentu. Padahal tudingan tersebut sama sekali tidak relevan. Betapa banyak hal yang menunjukkan kemiripan di dunia ini meskipun tidak ada kaitannya sama sekali, misalnya bentuk bulan sabit yang sering dijadikan logo organisasi, lambang negara dan sebagainya dengan tujuan dan makna masing-masing. Adalah sebuah kemustahilan pula mengaitkan proses desain dan pembangunan tugu ini dengan negosiasi pada partai politik tertentu. Kalau memang benar melibatkan partai politik tertentu, pasti pihak Bank Bukopin dan pemerintah kota akan langsung menolak mentah-mentah ide dan konsep desain tugu tersebut.

Satu prinsip kota madani yang diterjemahkan dalam desain tugu ini adalah konsep hablum-minallah dan hablum-minannas. Konsep ini diterjemahkan dengan mentranformasikan bentuk yang mengerucut ke atas (vertikal) sebagai simbol hablum-minallah. Sedangkan konsep hablum-minannas sendiri diterjemahkan melalui bentuk kaki tugu, yang jika terlihat dari atas akan membentuk sebuah transformasi rangkulan yang berkesinambungan dan tidak berujung.

Asmaul husna yang diterapkan pada konsep awal memiliki filosofi sebagai jembatan atau media menyatukan konsep hablum-minannas menuju hablum-minallah. Ini memiliki filosofi bahwa, jika warga kota saling bahu membahu dan saling bekerja sama dalam membangun Kota Banda Aceh dengan mengikat diri pada konsep hablum-minallah, maka visi isi kota madani akan tercapai.

Mengenai perubahan konsep asmaul husna menjadi ornamen Pintoe Aceh, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal sudah menjelaskan bahwa setelah melakukan audiensi dengan MPU, para ulama tidak setuju dengan dibuatkannya tulisan asmaul husna tersebut. Menurut para ulama, Tugu Simpang Lima merupakan pusat demonstrasi masyarakat kota, sedangkan tulisan asmaul husna merupakan tulisan yang sangat sakral. Oleh sebab itu, tidaklah sesuai disandingkan dengan berbagai aksi demonstrasi tersebut.

Identitas kota
Desain ini juga memasukkan unsur identitas kota Banda Aceh. Hal ini dinisbatkan pada Hari Jadi Kota Banda Aceh, 22 April, di mana hari jadi sebuah kota adalah sesuatu yang memorable bagi setiap masyarakat kotanya. 22 Buah jumlah lampu taman adalah bermakna tanggal jadinya Kota Banda Aceh, sedangkan 4 tingkatan tugu ini bermakna bulan jadinya Kota Banda Aceh (April).

Bentuk tugu didesain ikonik dan estetis dengan konsep bentuk modern dan dinamis sebagai etalase penada kawasan Simpang Lima Banda Aceh. Sebagaimana telah dijelaskan diatas, bahwa tugu ini tidak didesain untuk sekadar menjadi sculpture atau landmark kota, namun juga fungsional sebagai ruang publik kota. Desain Tugu Simpang Lima ini diharapkan mampu menggambarkan nilai seni, filosofi, karakter, dan cita-cita yang mencerminkan keberadaan, dinamika, dan orientasi futuristik, baik bagi wilayah maupun warga kotanya, dengan mempertimbangkan keharmonisan dengan konteks lokasi kawasan.

Tugu Simpang Lima ini direvitalisasi oleh Bank Bukopin bekerja sama dengan Pemerintah Kota Banda Aceh. Oleh karena itu salah satu konsep yang di transformasikan dalam desain adalah 3 dari 5 budaya Perusahaan Bukopin: respect others, excellent, dan dedicated to customers. Ketiga budaya tersebut diterjemahkan dengan menghadirkan desain yang respek terhadap kebutuhan masyarakat kota, memberi nilai tambah bagi lingkungan sekitar, dan berkontribusi terhadap perkembangan Kota Banda Aceh. Pada setiap ujung tugu juga akan dipasang kamera CCTV.

Keberadaan Tugu Simpang Lima bagi warga Kota Banda Aceh diharapkan dapat menimbulkan rasa bangga dan cinta kotanya, serta menimbulkan apresiasi, inspirasi, dan daya tarik bagi para pemangku kepentingan dalam beraktivitas membangun Kota Banda Aceh. Harapan ke depan, bukan hanya tugu saja yang diperindah, Pemko Banda Aceh juga dapat menata kawasan Simpang Lima secara keseluruhan seperti jalur pejalan kaki, papan reklame, dan lain-lain. Semoga!

Zulhadi Sahputra, ST, MT. dan Dr. Ir. Izziah, M.Sc., Dosen Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Darussalam, Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/sih/ebrinaldy/AF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id