Pangdam IM Isi Ceramah Ramadhan di Masjid Raya | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pangdam IM Isi Ceramah Ramadhan di Masjid Raya

Pangdam IM Isi Ceramah Ramadhan di Masjid Raya
Foto Pangdam IM Isi Ceramah Ramadhan di Masjid Raya

URI.co.id, BANDA ACEH – Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI Moch Fachrudin SSos menjadi penceramah sebelum shalat tarawih dan witir di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Kamis (1/6/2017).

Di hadapan jamaah, ia mengajak semua masyarakat Aceh untuk senantiasa jeli dan bijaksana dalam menyikapi fenomena sosial yang dinamis yang sering terjadi saat ini.

“Ramadhan adalah salah satu momen yang tepat untuk kita jadikan sebagai peluang mawas diri dari berbagai godaan dan rongrongan,” katanya yang datang bersama Sahli bidang Hukum dan Humaniter, Kol Caj Dr Ahmad Husein Sipahutar MA.

Melalui ceramahnya, Pangdam juga mengajak masyarakat untuk terus bersyukur kepada Allah karena bisa hidup dalam negara yang berideologi Pancasila.

“Bukan hanya itu, kita sebagai bangsa telah memiliki konsensus bersama untuk tetap menjaga dan memelihara Indonesia sebagai sebuah bangsa yang telah mendapat legitimasi dari Allah SWT,” katanya.

Pangdam memberi contoh sila pertama dalam butir Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini memiliki nilai filosofi yang sama dengan aqidah umat Islam khususnya. Tidak hanya itu, sila ini juga mengandung makna bahwa semua warga Indonesia harus meyakini akan kebenaran agama yang dianut namun tetap menghormati orang lain yang berbeda keyakinan.

“Salah satu bukti kita sudah ikut dalam kehidupan berbangsa adalah dengan menampilkan sikap yang mencerminkan nilai dari “saya Indonesia, saya Pancasila” adalah melalui prilaku maaf memaafkan. Jangan merasa rendah karena kita meminta maaf atas kesalahan yang kita perbuat, karena justru orang yang mau meminta maaf adalah orang yang mulia di sisi Allah SWT,” ujarnya.

Orang yang dengan segera memaafkan kesalahan orang lain, tambahnya, akan disayang Allah dan juga disayang manusia. Ia juga meminta masyarakat jangan mudah menyalahkan orang lain hanya karena berbeda sudut pandang, beda paham atau beda keyakinan.

“Sesungguhnya kita juga sama dengan mereka, sama-sama meyakini paham masig-masing. Apabila terdapat perbedaan dalam bidang agama maka tempuhlah jalan musyawarah, karena Al-Qur’an mengisyaratkan hal tersebut. Lakum dinukum wa liya din adalah pedoman kita dalam beragama,” pungkasnya. (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id