“Kami tak Bisa Melihat, tapi Bisa Membaca Quran” | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

“Kami tak Bisa Melihat, tapi Bisa Membaca Quran”

“Kami tak Bisa Melihat, tapi Bisa Membaca Quran”
Foto “Kami tak Bisa Melihat, tapi Bisa Membaca Quran”

JARI-JARI itu menari lincah di atas Alquran. Setiap sentuhan mengeluarkan kalimat pujian dan peringatan dari Allah Swt. Ketiadaan penglihatan tidak menyurutkan para tunanetra ini untuk melantunkan Kitabullah dengan merdu.

Lantunan ayat suci Alquran langsung terdengar ketika kaki baru menginjak halaman depan sebuah gedung milik Dinas Sosial Sumatera Utara (Sumut) di Jalan Sampul, Medan Petisah. Semakin jauh kaki melangkah, sumber suara yang begitu syahdu semakin jelas terlihat.

Di ruangan belakang bagian dalam gedung tampak sekumpulan wanita sedang khusyuk mengaji, sedangkan kelompok pria mengambil tempat di ruangan bagian luar. Ruangan ini sangat sederhana. Mirip kantin yang sudah lama tidak terpakai.

Aktivitas mengaji ini tidak biasa, karena Quran yang digunakan model braille.

Ya, Alquran jenis ini memang hanya bisa dibaca oleh para tunantera. Bila dilihat sepintas, Alquran ini hanya berisi lembaran kertas putih. Namun, begitu jari-jari dilekatkan pada lembaran itu baru terasa susunan berupa titik yang menonjol.

“Kami tidak bisa melihat, tapi bisa membaca Quran,” itulah yang diucapkan Wakil Ketua DPD Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Sumut, Syaiful Bakti Daulay, kepada Serambi di Medan, Kamis (1/6).

Pertuni Sumut sudah rutin mengajarkan membaca Alquran braille sejak sepuluh tahun lalu. Dimulai dengan kegiatan mengaji antarsesama jebolan dinas sosial, pengajian ini perlahan menjelma menjadi komunitas yang besar. Makanya tidak heran bila dalam dua bulan selalu ada jamaah yang khatam.

“Kalau sekarang ini antara 55 sampai 60 orang,” sebut Syaiful.

Tidak ada kesulitan berarti bagi jamaah dalam melafazkan ayat demi ayat yang ditransfer melalui jari tangannya. Jari pada tangan kanan terlihat lincah meresapi tulisan pada lembaran Alquran, sedangkan jari tangan kiri fokus merasakan setiap baris yang dibaca.

Tiga instruktur yang disediakan Pertuni pun tidak dibuat kesulitan. Sesekali bacaan yang keliru justru diluruskan oleh jamaah lain. Instruktur lebih bertindak sebagai mentor untuk menjelaskan makna dari surat yang dibacakan jamaah.

“Kalau bicara kesulitan, ya hanya pada soal dana,” kata Syaiful berterus terang.

Bendahara DPD Pertuni Sumut Edi Sayhputra menimpali selama ini mereka hanya mampu memberi honor kepada masing-masing instruktur Rp 75.000 per pekan atau Rp 300.000 bila instruktur tersebut mengajar sebulan penuh. Disadarinya nilai itu sangat tidak layak karena ilmu Alquran sangat penting bagi manusia.

“Hudallinnas. Kita mengajarkan tentang petunjuk hidup bagi manusia,” terangnya.

Keterbatasan dana ini juga menyebabkan mereka hanya mampu menyubisidi transportasi peserta pengajian Rp 20.000. Padahal, ongkos yang dikeluarkan peserta berkisar Rp 40.000 hingga Rp 50.000.

Selama ini DPD Pertuni Sumut beroperasi dengan mengandalkan donasi perorangan. Sementara dari pemerintah sama sekali tak ada. Meski begitu, kondisi yang serbaterbatas ini tidak membuat pengajian terhenti. Ayat demi ayat terus dibaca dengan jelas oleh mata-mata yang buta, tapi mereka melihat dan membaca dengan mata hati. (rahmad wiguna) (uri/ilviana/ebriyani/SF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id