Puasa dan Kelembutan Hati | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Puasa dan Kelembutan Hati

Puasa dan Kelembutan Hati
Foto Puasa dan Kelembutan Hati

Oleh Drs. H. Sulaiman Abda, M.Si Wakil Ketua DPRA Email: [email protected]

SATU renungan penting pada bulan Ramadhan 1438 H ini adalah; Mengapa kekerasan menjadi bagian dari semua pihak untuk memperjuangkan kebenaran? Di dunia politik, kekerasan hadir untuk yang disebut perjuangan memenangkan pihak yang diklaim lebih benar. Dalam penegakan hukum, kekerasan hadir untuk menuntut agar pihak yang tidak benar dihukum. Di jalanan kekerasan juga hadir untuk menumpas gangster yang meresahkan warga.

Kini, kekerasan verbal seperti mata pedang yang saling bertemu untuk mempertahankan apa yang oleh kedua pihak disebut kebenaran. Padahal, jika benar semua pihak berdiri di garis kebenaran, maka sejatinya yang muncul adalah keindahan hidup. Tapi, mengapa saat kebenaran bertemu kebenaran, malah yang hadir adalah saling ejek mengejek, saling menista satu sama lain, saling membuka aib, dan saling melemahkan posisi satu sama lain sebagai sesama anak bangsa?

Di bulan Ramadhan ini, semua manusia beriman diwajibkan berpuasa, menahan diri dari segala seuatu yang dapat membatalkannya. Kalau direnungi lebih dalam, berpuasa bukanlah wilayah manusia. Manusia pada dasarnya makhluk yang berkehendak untuk makan dan minum, serta lainnya. Jadi berpuasa atau tidak berkehendak untuk makan dan minum serta lainnya bukanlah wilayah manusia melainkan wilayah ilahiah. Allah Swt saja yang tidak berkehendak atas segala sesuatu, seperti kehendaknya manusia pada makan dan minum serta lainnya.

Jadi, mengapa manusia beriman diwajibkan berpuasa yang bermakna mencontohi sifat-sifat Allah? Tentu ada maksudnya, satu di antaranya adalah agar manusia beriman memiliki sifat-sifat Allah, seperti rahman dan rahim. Sifat-sifat yang memungkinkan manusia beriman untuk menjadi penebar kasih sayang kepada semua manusia dan makhluk Allah lainnya, sebagaimana Allah menebar kasih sayangnya kepada semua makhluk-Nya.

Kasih sayang adalah hati yang lembut, hati yang mudah tersentuh, hati yang bersedia menolong, bahkan hati yang mengedepankan maaf ketimbang marah. Inilah manusia yang sadar dengan kasih sayang Allah mengatasi kemurkaan-Nya. Dengan kasih sayang Allah saja, manusia memiliki kesempatan setiap saat untuk memperbaiki dirinya, sebelum jatah hidupnya berakhir di dunia.

Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari, bahwa ketika Allah Swt selesai menciptakan alam semesta ini dengan segala dimensi yang ada, kemudian Ia menulis di atas ‘arsy: “Sesungguhnya rahmat (kasih sayang)-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku”. Kasih sayang tertinggi dari Allah yang wujud di bumi ini adalah Nabi Muhammad saw, sebagaimana firman-Nya, “Dan tidaklah Kami (Allah) mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai (pembawa) rahmat bagi segenap alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).

Pada diri Rasul seluruh teladan hidup berkumpul. Nabi saw teladan terbaik dalam menghadapi segala macam rintangan dan tangan yang ada di muka bumi, dan tiadalah Rasul menghadapinya kecuali dengan kasih sayang, baik di masa biasa maupun di masa perang.

Kalau saja Nabi saw hanya mengedepankan kebenaran, misalnya soal kebenaran siapa Tuhan yang sebenarnya, semua akan berhenti pada kebenaran masing-masing dan lahirlah sikap saling mengejek Tuhan. Jika saja yang diajarkan Nabi semata kebenaran teoritis sudah pasti saling klaim akan terjadi dan ujungnya juga saling ejek. Tapi Nabi dan sahabat memperlihatkan keindahan hidup di bawah cahaya Islam, sehingga klaim kebenaran yang tidak aplikatif dalam hidup tunduk kepada keindahan cahaya Islam.

Melalui puasa Ramadhan –ibadah rahasia antara orang beriman dengan Tuhannya– insan beriman diajak untuk melatih menahan diri, bukan hanya dari makan dan minum serta yang dapat membatalkan puasa, tapi juga dari segala sesuatu yang dapat mengurangi makna terdalam dari menahan diri. Melalui puasa Ramadhan, Allah Swt langsung mendidik insan beriman untuk membuka pintu-pintu bagi masuknya cahaya Ilahi ke dalam diri. Dengan cahaya Ilahi inilah insan beriman menjadi khalifah yang lebih baik, yang sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Allah Swt melalui Rasul-Nya.

Orang-orang yang hidup dengan standar Alquran dan sunnah Rasul sudah pasti insan-insan yang berakhlak dengan akhlak kasih sayang, akhlak yang semua orang dan makhluk akan selamat, tenteram, damai, dan bahagia dalam cahaya kasih sayang insan bertakwa.

Tidak ada perkataaan yang keluar dari insan bertakwa kecuali ucapan dan perkataan yang menyenangkan, menggugah, dan menyadarkan. Jika ada ucapan yang menakutkan adalah ucapan yang melukiskan pedihnya siksa neraka. Tidak ada tindakan yang muncul kecuali tindakan yang melindungi, meneladani, dan jika ada tindakan melawan itu adalah tindakan membela diri, mempertahankan dari serangan musuh, bukan tidakan yang justru menambah banyak musuh, dan bukan tindakan yang membuat musuh hilang hormat kepada insan bertaqwa.

Begitu indahnya akhlak dari manusia bertakwa dalam kebenaran Islam sehingga bagi mereka yang memiliki kepercayaan lain hanya ada satu pilihan, yaitu saling berkerja sama untuk menjaga negara dari pihak lain, seperti wujudnya Piagam Madinah di masa Nabi saw dulu. Ini semua wujud karena dari kebenaran Islam terpancar keindahan hidup dan berkehidupan, sehingga siapapun dari agama dan kepercayaan apapun rela hidup dalam kepemimpinan muslim. Orang-orang merasa dan percaya akan selamat berada di bawah kepemimpinan Islam.

Lahirnya kepemimpinan Islam dalam mengelola kehidupan tidak lain hasil dari kemampuan insan beriman dalam mengendalikan nafsu yang dapat merendahkan manusia bersebab menonjolnya nafsu amarah dan nafsu lawwamah. Guna memastikan manusia menjadi insan yang baik, maka perlu dilatih pengendalian nafsu sehingga yang hadir adalah nafsu muthmainnah. Jadi, Ramadhan adalah bulan men-tarbiyah hati agar ia menjadi raja yang baik.

Jika hati sebagai raja baik, mengutip ulasan Ibnu Taimiyah, maka seluruh prajurit (kepala, mata, telinga, mulut, hidung, tangan, kaki dan lainnya) akan baik pula, sebaliknya jika hati sebagai raja buruk, maka semua prajurit akan buruk pula. Dan untuk mendidik hati sebagai raja, Allah langsung yang memberi penilaian, dan Allah juga yang langsung memberi ganjaran. (uri/atih/artanto/RH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id