Beratnya Cobaan Iman Berpuasa di Tiongkok | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Beratnya Cobaan Iman Berpuasa di Tiongkok

Beratnya Cobaan Iman Berpuasa di Tiongkok
Foto Beratnya Cobaan Iman Berpuasa di Tiongkok

OLEH AL-ZUHRI, Ketua Komunitas Pelajar Aceh-Tiongkok (Cakradonya) Region Wuhan, melaporkan dari Wuhan, Tiongkok

AKHIR-AKHIR ini, beberapa pesan mulai ditujukan ke email, obrolan facebook, dan instagram saya. Sebagian ada yang bertanya tentang apa keistimewaan Ramadhan di luar negeri dan bagaimana suasana berpuasa di negeri minoritas muslim. Ada juga yang ingin mengonfirmasi kebenaran berita tentang komunitas muslim Xinjiang yang katanya dilarang melakukan puasa.

Beberapa waktu lalu saya juga sempat diwawancarai awak media cetak dan online untuk melengkapi tulisannya tentang figur seseorang. Dalam kesempatan itu, kami turut membicarakan apa makna di balik segala akivitas Ramadhan. Kemudian, kenapa umat Islam mau merelakan diri berlapar-lapar dan dahaga sejak fajar hingga matahari tenggelam. Saya jelaskan secara perlahan, dari tahap ke tahap, dengan harapan ia dapat mengerti dengan baik makna di balik segala aktivitas Ramadhan. Setelah mendengar penjelasan saya, ia justru takjub. Ia tak menyangka kalau muslim tekun berpuasa tanpa gembar-gembor. Lantas ia bertanya lagi, “Apakah semua muslim begitu?”

Untuk menghindari kesalahpahaman, saya jawab bahwa tak semua muslim sama. Pembeda mereka adalah iman dan takwa dan itu tempatnya di sini, sambil saya tunjuk dada.

Kemudian, saya kembalikan pertanyaan yang sama kepadanya tentang apakah semua orang Tiongkok itu sama? Ia hanya tersenyum. Saya pun kembali mengambil alih perbincangan, “Ya begitulah dengan kami, tidak semua muslim itu taat. Tapi kalau yang beriman sudah tentu dia muslim sedang muslim belum tentu ia beriman.”

Saya hanya dapat berpesan pada beliau, “Pelajarilah lebih jauh tentang Islam, maka tidak ada satu kata pun yang kamu dapati di dalamnya terdapat kejelekan kepadamu, melainkan kamu akan semakin tertarik untuk mengetahuinya lagi dan lagi.”

Saya juga merekomendasikan dia untuk menonton kisah perjalanan orang-orang pencari kebenaran, sehingga menemukan Islam sebagai wujud nyata dari tujuan hidupnya. Saya tak ingin dia mencintai Islam karena penyampaian saya, tapi benar-benarlah karena apa adanya, Islam seperti apa yang saya katakan. Sehingga, saya mengarahkannya untuk mempelajari langsung dengan memahami Islam dari sumber hakikatnya yang jelas.

Pembicaraan saya dengannya semakin hangat ketika pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan. Tampaknya masih sangat banyak orang belum terlalu paham dengan Islam, hanya membaca sampai di sampulnya saja, tidak menyentuh isi di dalamnya. Itu sebab banyak orang yang mengambil kesimpulan-kesimpulan sendiri dengan mendiskreditkannya, sedang mereka tidak tahu bahwa Allahlah yang menjaga agama ini sehebat apa pun makhluk itu berupaya merusaknya.

Berbicara dengan orang yang berpengetahuan seperti awak media tadi ternyata lebih mudah “nyambung” karena Islam memang agama yang bisa diterima akal sehat. Sedapat apa pun ia mengkritisinya, toh Islam selalu mempunyai jawaban atas segala hal yang dicari manusia. Tidak percaya? Pelajari saja sampai habis seluk-beluk dan segala hal tentangnya dari awal sampai akhir, hingga Anda tersadar siapa diri Anda, dari mana Anda diciptakan, dan untuk apa Anda diciptakan.

Bagi nonmuslim di Tiongkok ini, puasa terkesan sebagai hal yang mustahil. Malah, seorang guru di kelas Survey of China ternganga mulutnya saat mendengar kami masih belum makan dan minum sedangkan saat itu hari mulai petang, tapi belum masuk waktu berbuka. Ia sontak kaget tak percaya mendengar kami dapat melakukan itu.

Pernah seorang teman komunis coba berpuasa dan ia tidak sanggup. Ia lakukan itu berawal dari rasa penasaran dengan apa yang para muslim lakukan, hingga ia pun tak mau kalah untuk mencoba seberapa kuat dapat melakukannya. Saat hal itu ia ceritakan, saya hanya berkata, “Tidak semua bisa instan, maka lakukanlah dengan perlahan.”

Apalagi di sini waktu puasanya lebih panjang dibandingkan dengan Indonesia, berkisar 16 jam. Tentu menjadi waktu yang lama bagi orang-orang yang terbiasa berpuasa 14 jam. Musim panas yang sedang dilalui Tiongkok juga membuat suhu udara kian panas, bahkan bisa mencapai 34 derajat Celcius. Ini juga memengaruhi budaya berpakaian orang-orang di sini, terutama kaum hawanya. Mereka mulai mengenakan pakaian minim dan tembus pandang.

Bagi saya yang muslim, ini tentu hal yang sangat menguji iman. Sehingga, saya sering berucap kepada teman-teman di Tanah Air bahwa berpuasa di Tiongkok layaknya debut uji nyali seperti acara “Dua Dunia” di stasiun televisi Indonesia. Mereka pun tertawa memberi isyarat mengerti apa yang saya katakan.

Tak hanya itu, saat melihat ke kanan, kiri, depan, dan belakang Anda ada saja orang makan es krim atau minum minuman dingin di siang bolong saat matahari begitu terik, sedangkan Anda sedang berpuasa. Bahkan Anda akan temukan orang berciuman di jalanan, berpelukan, dan berbagai pemandangan dahsyat lainnya. Dalam keadaan begini, hanya iman sajalah yang mampu menjadi perisai diri. Pendeknya, luar biasa cobaan iman berpuasa di negeri yang dihuni mayoritas berideologi komunis ini bagi saya yang berpuasa dan berstatus lajang.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: [email protected] (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id