Madani tanpa Asap | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Madani tanpa Asap

Madani tanpa Asap
Foto Madani tanpa Asap

Oleh Dian Rubianty

SATU berkah bulan Ramadhan untuk para perempuan dan anak-anak adalah hari tanpa asap rokok! Tak perlu menutup hidung. Tak perlu memohon agar si perokok tak melanjutkan kesenangan pribadinya, demi paru-paru kecil anak yang sedang tumbuh dan bekerja. Bahkan tak perlu susah-susah untuk berkampanye, 31 Mei adalah Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dengan sendirinya, puasa berhikmah pada absennya asap rokok di siang hari untuk satu bulan lamanya.

Aceh adalah surga para perokok? Mungkin hal ini ada benarnya. Pertama, kita bisa melihat dari pola konsumsi masyarakat kita berdasarkan hasil survei. Ternyata, pengeluaran rumah tangga untuk tembakau menempati urutan belanja terbesar ketiga, setelah belanja “makanan dan minuman jadi” berada di tempat teratas, diikuti belanja “padi-padian” di urutan kedua (Susenas, Maret 2015).

Jelas, data tersebut menunjukkan bahwa tembakau memiliki “posisi penting” dalam pola konsumsi masyarakat di Aceh. Padahal rata-rata jumlah perokok di setiap kabupaten/kotanya, tak lebih dari 30 persen total penduduk provinsi ini (Rosemary, 2017). Tak heran bila Dinas Kesehatan dan WHO (2010) dalam survei yang lain menemukan bahwa nanggroe syariah ini adalah daerah pengguna rokok tertinggi di Indonesia.

Selain pola konsumsi, mudahnya akses untuk membeli rokok juga menjadi faktor pendukung. Tak ada pembatasan usia. Siapa saja yang memegang uang, pasti bisa membeli rokok. Adalah pemandangan biasa, bila kita melihat orang dewasa meminta anak di bawah umur untuk membeli rokok ke warung.

Akhirnya, yang paling mencemaskan adalah ketika pola konsumsi kemudian menjadi keseharian yang membentuk “budaya”. Cermati bahasa yang biasa digunakan untuk bertanya tentang tips atau imbalan; Nyoe na peng rukok? (Ini ada uang rokoknya?). Perhatikan juga dengan anekdot suksesi perjuangan masa konflik dulu. Ungkapan tinggai sibak rukok teuk (tinggal sebatang rokok lagi) sering sekali kita dengar.

Jadi, merokok bukan saja merupakan pola konsumsi yang dianggap lazim, dengan akses memperolehnya yang demikian mudah di nanggroe kita. Merokok juga perlahan menjadi sesuatu yang “lazim”, mengakar dalam budaya lewat ungkapan bahasa. Sesuai ungakapan endatu kita, Adat lazem, kayem biasa, bahwa kebiasaan yang sering kita lakukan, akan menjadi kelaziman. Adat yang akan dianggap menjadi sesuatu yang “biasa”. Sungguh miris membayangkan, bahwa kebiasaan buruk seperti merokok, dianggap sesuatu yang lazim di nanggroe syariat.

Beban sosial
Lantas apa ruginya? Tidakkah aktifitas merokok baik untuk laju perputaran roda perekonomian? Sebagaimana Serambi Indonesia (2010) pernah menulis tentang besarnya cukai rokok yang disumbangkan Aceh untuk negeri ini? Angka Rp 8,7 miliar per minggu dari cukai rokok tentu mencengangkan bagi kita. Utamanya, ia disumbangkan oleh sebuah provinsi, yang angka kemiskinannya masih masuk dalam urutan sepuluh besar tertinggi di Indonesia.

Lebih menyakitkan lagi, kalau ditelisik lebih lanjut perbandingan antara total penerimaan Aceh dari cukai rokok dengan biaya kesehatan dan biaya sosial yang dikeluarkan. Kita akan paham bahwa pada akhirnya yang diuntungkan sebenarnya hanya pemilik perusahaan rokok saja. Kesejahteraannya terus meningkat, dan semakin mengukuhkan kedudukan mereka di deretan orang-orang paling kaya di Nusantara.

Adakah kerugian yang harus ditanggung oleh para perokok? Selain biaya kesehatan, bila kemudian terkena kanker atau penyakit kronis lainnya? Karena bagi rakyat Aceh, mungkin hal ini tidak perlu terlalu dipusingkan. Ada biaya kesehatan yang tersedia untuk berobat gratis?

Bagaimana dengan beban ekonomi? Mungkin bagi para perokok, beban ekonomi akan dianggap sebagai beban pribadi, yang “paling-paling” hanya merugikan keluarga sendiri. Toh uang itu mereka hasilkan dengan keringat sendiri. Jadi terserah akan dikonsumsikan untuk belanja apa yang mereka senangi.

Setelah beban biaya kesehatan dan beban ekonomi ini dinafikan, ternyata ada beban sosial yang perlu kita pikirkan bersama. Setiap hari, anak-anak terpapar dengan sosok perokok. Bahkan tak jarang ada penngajar di lembaga pendidikan yang juga merokok. Dilengkapi dengan iklan rokok, yang seakan menggambarkan merokok adalah wujud “laki-laki sejati” yang mapan, serta mudahnya akses pembelian, maka dengan mudah akan mendorong anak yang sedang berada di usia penuh rasa ingin tahu, untuk mencoba “nikmatnya” merokok. Inilah satu dampak sosial yang muncul, meningkatnya angka perokok di bawah umur di gampong kita. Ada contoh, ada rokok yang diperoleh dengan mudah.

Di samping itu, sebaik-baiknya non-perokok menghindar-diri dari menjadi perokok pasif, ternyata asap rokok yang disumbangkan oleh para ahli hisap ini, tidak seketika menghilang di udara. Asap rokok ini ada yang tertinggal di permukaan baju, rambut, kuku, permukaan perabotan dan berbagai barang yang dilewati para perokok. Bila kita bersentuhan dengan baju, dan aneka barang ini, maka zat bernama Tobacco-Specific Nitrosamines (TSNas) ini akan terbawa bersama kita. Hasil penelitian sebuah laboratorium di Berkeley, Amerika Serikat, ini diungkapkan oleh Astri Kurniati, seorang manager Nutrifood Research pada CNN Indonesia. Bayangkan, bila kemudian TSNas yang berbahaya ini terpapar pada bayi dan balita kita secara terus-menerus setiap harinya, tanpa kita sadari.

Ketegasan hukum
Alhamdulillah, Pemerintah Kota Banda Aceh mengeluarkan Peraturan Walikota (Perwal) No.47 Tahun 2011 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR), yang kemudian dikukuhkan dengan Qanun No.5 Kota Banda Aceh Tahun 2016. Adanya peraturan ini tentu melegakan bagi warga kota yang bukan perokok. Akhirnya, kepentingan mayoritas disuarakan di ruang-ruang publik.

Tapi perwal dan qanun ini perlu ketegasan hukum dalam penerapannya. Sanki yang jelas dan tegas diperlukan untuk setiap pelanggaran. Kalau tidak, perwal dan qanun ini akan bernasib sama seperti peraturan “wajib pakai helm” dan “larangan menerobos lampu merah”. Hanya dipatuhi saat ada razia atau hadirnya aparat. Selebihnya, warga masyarakat tak merasa bahwa menciptakan KTR adalah bagian dari menjadi warga negeri madani. Bahwa hadirnya kita di tengah marasyakat tidak membawa mudharat bagi orang lain.

Semoga seiring waktu dengan perjuangan kita bersama mendukung perwal dan qanun ini, KTR akan terwujud di nanggroe kita. Demikianlah adanya satu ciri “Kota Madani Tanpa Asap”. Menjadikan KTR sebagai keseharian yang membudaya, bukan hanya pada peringatan “Hari Tanpa Tembakau” saja.

* Dian Rubianty, SE, Ak., MPA., Fulbright Scholar, Staf Pengajar FISIP UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/strid/lleonora/AE)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id