Masyarakat Sudah tak Percaya Lagi pada PLN | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Masyarakat Sudah tak Percaya Lagi pada PLN

Masyarakat Sudah tak Percaya Lagi pada PLN
Foto Masyarakat Sudah tak Percaya Lagi pada PLN

Masyarakat Aceh marah besar pada PLN yang layanannya semakin sangat mengecewakan. Listrik bisa padam dua sampai tiga kali sehari. Tak peduli sedang buka puasa atau lagi makan sahur, PLN tetap dengan “kebijakannya” memadamkan secara bergilir.

Keburukan layanan PLN dengan berbagai alasan yang tak dipercaya lagi oleh kebanyakan masyarakat, juga ikut dirasakan Gubernur Aceh terpilih, Irwandi Yusuf. Ia bukan hanya menyampaikan rasa kecewanya pada PLN, Irwandi pun menyampaikan rencananya menghidupkan kembali proyek geothermal Seulawah yang pernah ia gagas tapi tidak dilanjutkan penerusnya.

Curhatan Irwandi di laman facebooknya berjudul “Defisiensi Arus Listrik di Aceh” mendapat beragam tanggapan dari warganet yang pada intinya mendukung upaya “penyembuhan penyakit listrik” di Aceh. “Kekurangan suplai listrik untuk Aceh bukanlah barang baru. Janji demi janji sudah sering kita dengar mulai dari tahun `alif’ hingga sekarang tahun `waw’. Tapi kita tetap harus bilang wow, hoiii, dan …,” tulis pria yang belakangan akrab panggil BW alias Bang Wandi.

Dalam pandangan Irwandi, persoalan defisiensi listrik bukan terletak pada siapa General Manager PLN. Tetapi, kecukupan arus listrik terletak pada kecukupan pembangkit listrik dan kehandalan jaringan.

Saat ini Aceh memproduksi 280 megawatt (MW) listrik, sedangkan kebutuhan Aceh pada saat beban puncak (peak hour) mencapai 330 MW. Aceh, ulasnya, memerlukan injeksi dari Sumut sebesar 50 MW pada peak hour. Ternyata, injeksi listrik dari Sumut pun tidak sampai 50 MW karena saat peak hour di Aceh, di Sumut juga sedang peak hour.

“Saya berandai-andai. Andai kata proyek panas bumi Seulawah yang saya persiapkan tujuh tahun lalu, dan bahkan sudah memperoleh dana hibah USD 10 juta dari Jerman dan jaminan pembiayaan dari KFW Bank, diteruskan oleh pengganti saya, Aceh tentu sudah tidak perlu menunggu surplus arus listrik dari Sumut,” katanya.

Kendati demikian, Irwandi sudah bertekad akan memberi solusi untuk mengatasi defisiensi arus listrik di Aceh setelah dirinya dilantik menjadi gubernur nanti. Yang sudah terpikir Irwandi adalah menghidupkan lagi proyek geothermal Seulawah, menunggu arus listrik 250 MW dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Lhokseumawe, mengembangkan program baru berupa geothermal Geureudong tetapi butuh waktu lima tahun, memanfaatkan PLTA Peusangan 1 & 2 berkapasitas 85 MW yang butuh waktu satu tahun, PLTA Jambo Aye 100 MW yang butuh waktu lima tahun, dan PLTA di beberapa tempat lainnya sekitar 500 MW dalam waktu 10 tahun.

Ya, tampaknya kita sependapat dengan Bang Wandi. Apalagi ini bulan puasa. Kita harus menjaga mulut kita. Jangan lagi memaki-maki PLN. Sebab, sampai puasa kita batalpun listrik tetap padam.

Dengan kata lain, kita akan lebih berpengharapan pada program-program produksi listrik yang direncanakan Irwandi ketimbang menanti janji PLN yang tak pernah direalisasikan. Dan, kita juga mempertanyakan, apa arti sistem interkoneksi bagi Aceh jika saat listrik di sini “down” tapi Sumut tak bisa membantu? (uri/ilati/sra/MU)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id