PLN Akui PLTU Nagan Berkualitas Rendah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

PLN Akui PLTU Nagan Berkualitas Rendah

PLN Akui PLTU Nagan Berkualitas Rendah
Foto PLN Akui PLTU Nagan Berkualitas Rendah

* Transmisi Terganggu, Suplai Terhenti

BANDA ACEH – General Manager (GM) PLN Wilayah Aceh, Jefri Rosiadi mengakui bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Nagan Raya berkualitas rendah. Hal itu diungkapkan Jefri saat menerima audiensi organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam Aceh di Ruang Rapat Kantor PLN Aceh, Senin (29/5) sekitar pukul 10.20 WIB.

Dia katakan, pada saat pelelangan mesin pembangkit yang menjadi cikal bakal PLTU Nagan, semua perusahaan boleh berpartisipasi, termasuk dari Cina (Tiongkok).

“Mesin PLTU buatan Cina memang gampang rusak. Dulunya ini belum disadari, sebab yang membeli saat itu tertarik dengan harganya yang miring,” ujar Jefri.

Ia juga menyebut saat itu Cina sedang gencar-gencarnya berinvestasi di bidang kelistrikan di sejumlah daerah di Tanah Air, termasuk di Aceh. Ternyata benar, lanjutnya, harga tersebut sebanding dengan kualitasnya yang buruk.

Berkaca dari pengalaman itu, kata Jefri, pihak PLN sudah menutup celah bagi perusahaan Cina untuk berinvestasi di bidang kelistrikan. “Kami tdak lagi membeli mesin dari Cina karena sudah terbukti gampang rusak. Sparepart-nya pun sulit didapatkan, sehingga beberapa bagian PLTU harus dimodifikasi,” aku Jefri Rosiadi.

Terkait kondisi PLTU Nagan saat ini, lanjutnya, kedua pembangkit utama tersebut sedang dalam kondisi labil. Untuk PLTU Nagan I, sudah kembali normal pada Senin (29/5) sekitar pukul 05.43 pagi. Sedangkan Unit II akan mulai firing pada 31 Mei 2017, dan ditargetkan kembali normal pada 1 Juni 2017. “Kalau Nagan I dan II normal, maka daya yang ada cukup, tidak ada pemadaman,” ujarnya.

Dia tambahkan, kondisi listrik secara keseluruhan di Aceh pada Minggu (28/5) malam sudah mencapai beban puncak, yaitu sekitar 360 Megawatt (MW), sehingga pihaknya harus memadamkan listrik di sebagian besar wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar, untuk menghindari kerusakan mesin.

“Dengan terpaksa kami lakukan itu, sebab kenyataannya setiap malam pada bulan puasa ini kita selalu mencapai beban puncak,” jelasnya.

Mendengar ‘curhatan’ sang GM, seorang peserta audiensi bernama Riski Nyakwang dari Front Pembela Islam (FPI) Aceh Besar justru mengajukan pertanyaan spontan. “Apa di rumah Pak GM mati lampu juga semalam?” tanya Riski yang membuat seisi ruangan terdiam sejenak.

Dengan malu-malu, Jefri Rosiadi mengaku bahwa rumahnya tidak terkena pemadaman. “Saya kebetulan tetangganya gubernur dan listrik memang hidup semalam di rumah saya,” ujarnya seraya menjelaskan bahwa rumah dinas GM PLN Aceh, Pendapa Gubernur Aceh, Kapolda Aceh, dan Pangdam Iskandar Muda termasuk ke dalam kawasan prioritas yang tidak dipadamkan.

Riski pun menimpali lagi jawaban tersebut. “Bagaimana amirul mukminin begini, tidak merasakan apa yang dirasakan rakyat,” ujarnya sambil menggelengkan kepala, dan spontan disambut tawa kecil peserta audiensi. GM PLN pun terpaksa ikut tertawa malu sambil menundukkan wajahnya.

Sementara Ketua Umum PW Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Aceh, Tuanku Muhammad seusai audiensi mengatakan, pihaknya berharap agar PLN dapat bekerja semaksimal mungkin untuk memperbaiki kerusakan di PLTU Nagan Raya.

Selain itu, dia meminta masyarakat Aceh dapat bersabar atas kondisi ini, karena pemadaman itu terkait masalah teknis mesin. “Kami juga meminta pemimpin Aceh kedepan agar menjadikan masalah ketidakcukupan daya listrik Aceh sebagai prioritas yang harus diselesaikan,” kata Tuanku. Hadir pula dalam audiensi itu perwakilan Rabithah Thaliban Aceh (RTA).

Sementara itu, pihak PLN Area Meulaboh menyatakan, terhentinya suplai arus dari PLTU berkapasitas 2×100 megawatt (WM) di Nagan Raya yang selama ini sering terjadi, lebih disebabkan gangguan transmisi. “Tapi selama ini kejadian trip diawali dengan gangguan transmisi. Jadi, bukan akibat internal PLTU,” ujar Manajer PLN Area Meulaboh, Redi Zusanto, menjawab Serambi, Senin (29/5).

Menurut Redi, trip yang terjadi dua hari terakhir justru karena gangguan transmisi Bireuen-Sigli yang menyebabkan PLTU ikut terhenti suplai atau berhenti operasi. Gangguan transmisi juga terjadi beberapa waktu lalu di jalur Sigli-Nagan Raya dan gangguan transmisi di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. “Ketika trip, maka proses start-up dari awal butuh waktu delapan jam hingga arus masuk sistem lagi,” katanya.

PLN Area Meulaboh yang membawahkan wilayah kerja Kabupaten Aceh Barat, Nagan Raya, dan Aceh Jaya, suplai arusnya saat ini dari PLTU Nagan Raya hanya dari unit/mesin 2. Sedangkan dari unit/mesin 1 masih dalam masa recovery atau pemeliharaan hingga 31 Mei 2017. “Penyebab gangguan transmisi bisa karena petir dan ada pohon yang dilarang tebang oleh masyarakat, sehingga mengenai jaringan transmisi,” kata Redi.

Ia tambahkan, arus dari PLTU untuk unit 2 mulai Senin (29/5) subuh sudah kembali menyuplai dengan harapan secara bertahap arus kembali normal. Namun, kalaupun adanya pemadaman sudah sedikit atau berkurang bila dibandingkan pada Minggu malam terjadi di sejumlah kabupaten di Aceh, termasuk Aceh Barat. “Kemungkinan padam masih tetap ada. Listrik baru aman insya Allah menunggu unit 1 masuk jaringan transmisi pada 31 Mei ini,” ujar Redi. (fit/riz) (uri/aufik/arahdiba/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id