Komunikasi yang Membahagiakan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Komunikasi yang Membahagiakan

Komunikasi yang Membahagiakan
Foto Komunikasi yang Membahagiakan

Oleh Marwan Nusuf Ilyas, B.HSc, MA Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Aceh Email: [email protected]

RAMADHAN mengajarkan kita konsep hidup bahagia di dunia dan di akhirat kelak. Bukan saja menahan diri dari lapar dan haus mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, namun hal-hal lain yang dapat membatalkan atau mengurangi pahala puasa harus tetap dijaga. Termasuk dalam aktivitas komunikasi baik lisan maupun tulisan.

Satu faktor penting yang berpengaruh besar terhadap kelangsungan hidup manusia, baik sebagai individu, kelompok, maupun bangsa adalah komunikasi. Dalam Alquran sangat mudah ditemukan pedoman konkret bagaimana Allah berkomunikasi dengan hamba-Nya melalui wahyu.

Nabi Muhammad saw juga telah menunjukkan tata cara efektif dalam berkomunikasi dengan Sang Pencipta, keluarga, sahabat, dan umatnya. Tata cara komunikasi Rasulullah saw dapat dilihat dalam kumpulan hadis-hadis yang menjadi penguat penjelasan Alquran sebagai petunjuk bagi kehidupan umat manusia.

Kalau dilihat dalam berbagai referensi yang ada kaitannya dengan komunikasi dalam Islam (Islamic Communications), paling kurang ada enam perkataan (qaulan) yang dapat digolongkan sebagai prinsip komunikasi dalam Islam: Pertama, qaulan sadida, yaitu ucapan atau perkataan yang benar, baik substansi maupun tata bahasanya.

Allah Swt berfirman, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa:9);

Kedua, qaulan baligha. Kata baligh di sini dapat diartikan sebagai fasih, jelas, dan tepat sehingga berbekas. Dengan kata lain, qaulan baligha dapat dipahami sebagai kata-kata yang komunikatif dan mudah dipahami. Allah Swt berfirman: Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka, karena itu berpalinglah kamu dari mereka dan berilah mereka pelajaran dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. (QS. An-Nisa 63);

Ketiga, qaulan ma’rufa. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar kata ma’ruf, yang dari segi bahasa berarti baik. Ucapan yang ma’ruf adalah ucapan yang ada manfaat dan berimbas kepada kebaikan. Allah Swt berfirman, “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya harta (mereka yang ada dalam kekuasaan) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan, berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (QS. An-Nisa: 5).

Keempat, qaulan karima. Kata karim bermakna mulia, sama halnya dengan kata syarif. Qaulan karima adalah ucapan yang mulia dan mengandung makna saling menghormati. Dalam etika komunikasi orang Aceh, ada sebutan gata untuk yang lebih muda dan sebutan droeneuh untuk yang lebih tua atau sebaya. Sebutan-sebutan ini mengandung nilai kemuliaan dan rasa saling menghormati dibandingkan dengan sebutan kah (Anda/kamu) walaupun usianya lebih muda.

Dalam bahasa Aceh ada lagi sebutan untuk diri sendiri yang tersirat kesan beretika, yaitu ulon, ulon tuan (saya/aku), dan sebutan pasaran yang terkesan kurang beretika, yaitu droekuh, kee (saya/aku).

Alquran mengajarkan kita agar senantiasa mengucapkan perkataan mulia, sebagaimana firman Allah Swt, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orang tuamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra: 23).

Kelima, qaulan laiyina, yamg bermakna lemah lembut. Qaulan laiyina dapat dipahami sebagai ucapan yang lemah lembut dengan suara yang enak didengar, dibarengi dengan sikap yang ramah. Allah Swt berfirman: Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut. (QS. Thaha: 44).

Tidak sedikit orang beranggapan bahwa bahagia selalu identik dengan kecukupan materi. Karena dengan berlimpahnya materi, seseorang bisa membeli apa pun yang diinginkannya. Tetapi orang sering lupa bahwa materi bukanlah jaminan segala-galanya.

Keenam, qaulan maisura, dapat diartikan sebagai ucapan yang mudah dimengerti dan diresapi atau menggunakan kata-kata yang menyenangkan. Allah Swt berfirman: Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka perkataan yang mudah. (QS. Al-Isra: 28).

Setiap orang pasti menginginkan kebahagiaan dalam mengarungi hidup ini. Seandainya kita bertanya kepada setiap orang yang latar belakang dan profesinya beragam, apa yang diinginkan dalam hidup ini, dapat dipastikan jawabannya adalah ingin mendapatkan kebahagiaan. Tidak ada orang yang menginginkan kesukaran dalam hidup ini.

Walaupun terkadang orang lain menganggap hidup seseorang kelihatan susah, pahit serta sulit, tapi belum tentu orang yang mengalaminya merasakan hal yang sama. Boleh jadi susah dalam pandangan orang lain, tapi bahagia yang dirasakannya. Inti dari kebahagiaan bukan semata-mata diukur berapa banyak materi yang dimiliki, tapi lebih kepada cara menjalani hidup ini.

Menurut Ali bin Abi Thalib ra, ada tujuh kunci kebahagiaan hidup: (1) Jangan membenci siapa pun walau ada yang menyalahi hak kamu; (2) jangan bersedih berlebihan walaupun masalah memuncak; (3) hiduplah dalam kesederhanaan walaupun serba ada; (4) berbuatlah kebaikan walaupun banyak musibah yang datang; (5) perbanyaklah memberi walaupun kamu sedang susah, dan; (6) tersenyumlah walaupun hati kamu sedang menangis serta jangan memutus doa bagi saudara mukmin.

Semoga kita termasuk orang-orang yang berbahagia menjalani ibadah puasa dan beragam rutinitas lainnya di bulan suci Ramadhan ini dalam rangka mencapai derajat takwa. Sehingga apa yang dikerjakan dalam bulan ini menjadi titik awal optimalisasi implementasi komunikasi dalam Islam di masa yang akan datang. Amin. (uri/homas/ebriani/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id