Irwandi Tanggapi Krisis Listrik | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Irwandi Tanggapi Krisis Listrik

Irwandi Tanggapi Krisis Listrik
Foto Irwandi Tanggapi Krisis Listrik

BANDA ACEH – Gubernur Aceh terpilih, Irwandi Yusuf menanggapi persoalan kelistrikan Aceh yang tak kunjung normal, termasuk dalam bulan puasa sekarang ini. Untuk mengatasi ‘penyakit’ ini, Irwandi berencana menghidupkan kembali proyek geothermal Seulawah yang pernah digagasnya namun tidak dilanjutkan oleh penerusnya.

Persoalan listrik tersebut diungkap Tgk Agam, sapaan akrab drh H Irwandi Yusuf MSc, di laman facebooknya, Senin (29/5). Tulisan itu diberi judul, “Defisiensi Arus Listrik di Aceh” mendapat beragam tanggapan dari warganet yang pada intinya mendukung upaya Tgk Agam.

Tetapi ketika Serambi menghubungi kembali nomor hp yang biasa digunakannya tidak aktif. “Kekurangan suplai listrik untuk Aceh bukanlah barang baru. Janji demi janji sudah sering kita dengar mulai dari tahun `alif’ hingga sekarang tahun `waw’. Tapi kita tetap harus bilang wow, hoiii, dan .,” tulis suami Darwati A Gani ini.

Mengutip dari laman facebooknya, Irwandi menuliskan, sebenarnya persoalan defisiensi listrik bukan terletak pada siapa General Manager PLN. Dia pun, katanya, merupakan korban dari janjinya yang terpaksa itu. Tetapi, kecukupan arus listrik terletak pada kecukupan pembangkit listrik dan kehandalan jaringan.

Dia menjelaskan, Aceh saat ini memproduksi 280 megawatt (MW) listrik, sedangkan kebutuhan Aceh pada saat beban puncak (peak hour) mencapai 330 MW. Aceh, ulasnya, memerlukan injeksi dari Sumut sebesar 50 MW pada peak hour. Ternyata, injeksi listrik dari Sumut pun tidak sampai 50 MW karena saat peak hour di Aceh di Sumut juga sedang peak hour.

“Lalu apa yang terjadi ketika semua saklar dihidupkan? Yang terjadi adalah ketidakcukupan arus listrik, bisa-bisa travo terbakar. Untuk mencegah hal ini terjadi, PLN melakukan pemadaman,” ungkap Ketua Partai Nanggroe Aceh (PNA) ini.

Untuk mengatasi hal tersebut, Irwandi, mempunyai beberapa solusi. Salah satunya dengan memanfaatkan kembali proyek gothermal (energi panas bumi) Seulawah yang pernah digagasnya saat menjabat sebagai Gubernur Aceh periode 2006-2012, tetapi tidak dilanjutkan oleh Pemerintahan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf (Zikir).

“Saya berandai-andai. Andai kata proyek panas bumi Seulawah yang saya persiapkan tujuh tahun lalu, dan bahkan sudah memperoleh dana hibah USD 10 juta dari Jerman dan jaminan pembiayaan dari KFW Bank, diteruskan oleh pengganti saya, Aceh tentu sudah tidak perlu menunggu surplus arus listrik dari Sumut,” katanya.

Kendati demikian, Irwandi sudah bertekad akan memberi solusi untuk mengatasi defisiensi arus listrik di Aceh setelah dirinya yang berpasangan dengan Nova Iriansyah sah menjadi Gubernur Aceh dan Wakil Gubernur Aceh periode 2017-2022.

Menurutnya, ada beberapa solusi yang akan dikembangkannya pada pemerintahan mendatang. Seperti menghidupkan lagi proyek geothermal Seulawah yang mati suri meskipun butuh waktu tiga tahun, menunggu arus listrik 250 MW dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Lhokseumawe, mengembangkan program baru berupa geothermal Geureudong tetapi butuh waktu lima tahun, memanfaatkan PLTA Peusangan 1 & 2 berkapasitas 85 MW yang butuh waktu satu tahun, PLTA Jambo Aye 100 MW yang butuh waktu lima tahun, dan PLTA di beberapa tempat lainnya sekitar 500 MW dalam waktu 10 tahun.

Terakhir, “Dari pada memaki gelapnya malam, mari diam-diam menyalakan lilin sambil menunggu listrik hidup lagi,” tulisnya sedikit berguyon. “Tapi, dalam waktu maksimal dua tahun lagi pemadaman listrik di Aceh akan berhenti. Saya pun ada melihat kemungkinan Aceh akan berpeluang punya listrik mandiri, the PLA (Pembangkit Listrik Aceh). Amin,” tutupnya.

Tidak jalan
Wakil Ketua I DPRA, Drs Sulaiman Abda MSi mengatakan, kalau dilihat dari jadwal penyaluran dana hibah Pemerintah Jerman melalui perbankannya, KFW senilai 7,8 Euro (Rp 115 M) kepada Pemerintah RI untuk proyek geothermal Seulawah Agam di Aceh Besar pada 2009 sampai 2017, berarti proyek itu sudah delapan tahun belum ada kegiatan fisik.

“Harusnya, pada tahun keempat proyek itu sudah jalan dan menghasilkan daya listrik untuk tahap pertama sebesar 55 MW,” kata Sulaiman Abda kepada Serambi, Senin (29/5).

Proyek geothermal Seulawah Agam, sambung Sulaiman Abda, telah dirintis semasa gubernur Irwandi Yusuf. Anehnya, sudah lima tahun berjalan Pemerintah Zaini Abdullah proyek itu belum juga bisa direalisasikan.

Informasi terakhir, kegiatan proyek tersebut pada 10 Mei 2016 telah dilaksanakan penandatangan pemegang saham antara Pemerintah Aceh diwaliki PDPA dengan Pertamina selaku perusahaan yang akan mengeksploitasi dan mengelola proyek tersebut.

Setelah penandatangan kerja sama tersebut, PDPA dan Pertamina membentuk satu perusahaan yang diberi nama PT Geothermal Energi Seulawah (GES). “Sudah sampai di mana kemajuan pelaksanaan proyek tidak terdengar lagi,” kata politisi Golkar tersebut.

Pada awal 2017, DPRA mendapat informasi Pemerintah Jerman melalui KFW akan menarik kembali dana hibah khususnya untuk proyek gethermal Seulawah karena Pemerintah RI dan Pemerintah Aceh dinilai tidak serius.

Mendengar Pemerintah Jerman akan menarik kembali dana hibahnya, kata Sulaiman, pada 4 Maret 2017, Bappenas memanggil PDPA dan Pertamina. Pihak PDPA dan Pertamina melaporkan, progres persiapan proyek sudah sampai kepada join venture dan buat rencana tindak lanjut penarikan dana hibah untuk pelaksanaan eksplorasi potensi sumber panas buminya. “Setelah itu, DPRA tidak lagi mendapat informasinya, sampai kini,” ujar Sulaiman Abda.(mas/her) (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id