Ketika Rakyat Harus Berbuka dalam Gelap | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Ketika Rakyat Harus Berbuka dalam Gelap

  • Reporter:
  • Senin, Mei 29, 2017
Ketika Rakyat Harus Berbuka dalam Gelap
Foto Ketika Rakyat Harus Berbuka dalam Gelap

udep pajan mangat ate kah (hidup sesuka hati kamu)
peumate cit ata nyan keurija (mematikan memang itu tugas)
peu peugah nyoe jeh akai paleh cit ata kana (bilang ini, bilang itu akal bulus memang sudah ada)
menyo bak bayeu cit hanjeut teulat (kalau giliran bayar tidak boleh telat)
bacut lewat laju kabie denda (sedikit lewat langsung didenda)

PENGGALAN kalimat di atas merupakan lirik lagu berjudul Peu-udep Lampu Nanggroe (PLN) dinyanyikan solo oleh Pan Amroe yang juga vokalis Band Genk Tengkorak.

Sekilas lagu ini menggambarkan keperihatinan dan kekesalan masyarakat akibat persoalan listrik yang hingga kini tak pernah ada solusinya. Bahkan di saat-saat penting seperti halnya melaksanakan ibadah puasa listrik masih kerap hidup mati tak tentu waktu.

Lirik lagu yang diunggah di akun facebook itu telah dibagikan 3.054 kali, setidaknya mencerminkan sebuah kekecewaan rakyat Aceh yang secara keseluruhan menjadi korban ulah egoisnya PT PLN Aceh yang kerap memadamkan listrik, tanpa tentu waktu. Rakyat terlanjur dibuai janji-janji manis yang terlontar dari mulut pejabat yang menjamin listrik tetap aman dan stabil selama Ramadhan. Tapi toh, ternyata janji hanyalah tinggal janji, manis di mulut namun tak pernah wujud dalam kenyataan. Kondisi listrik yang byar pet kian mengiris jantung rakyat.

Rakyat hanya bisa menumpahkan perasaan di berbagai saluran media sosial. Sebagiannya lagi, pasrah dan apatis menerima keadaan. Tapi tidak sedikit yang melampiaskan kekecewaan, dan gundah hingga lontaran caci maki kepada PLN yang sudah bertahun-tahun melukai hati rakyat. Tak terhitung foto di media sosial muncul sebagai gambaran betapa listrik sudah menjadi persoalan kronis dan menggurita di hati rakyat. Lebih ironis dan terkadang tak manusiawi listrik mati saat rakyat tengah berbuka puasa.

Seharusnya berbuka puasa bersama keluarga di rumah adalah saat-saat yang paling membahagiakan. Namun PT PLN telah memupuskan semua harapan indah itu menjadi sebuah kenyataan pahit. Ini pula yang disuarakan Fauzan Daud melalui foto yang diunggah di akun instagramnya berjudul “Selamat berbuka puasa”. Foto itu menggambarkan betapa keluarga ini harus berbuka puasa dalam kegelapan hanya diterangi lilin sebagai pengganti lampu yang padam menjelang waktu berbuka tiba, Minggu (28/5) malam.

Pemilik akun instagram lainnya ibnue_hadjare juga mengunggah foto yang tak kalah mirisnya. Foto itu diberi judul “Berbuka puasa lam seupoet kloe” menggambarkan beberapa piring lauk dan nasi teregeletak di atas lantai dalam kondisi minim cahaya karena hanya diterangi dua lilin.

Pada kedua foto yang diunggah nitizen warga Aceh Besar itu jelas tampak betapa PLN telah merenggut hak rakyat sebagai warga negara mendapat pelayanan listrik maksimal. Listrik yang seharusnya menjadi kebutuhan vital, malah menjadi pemicu warga naik pitam. Tak hanya warga Banda Aceh dan Aceh Besar, sejumlah wilayah lainnya di Aceh juga mengalami nasib yang sama. Seperti yang dirasakan masyarakat di Kecamatan Tapaktuan dan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan, Sabtu (26/5) lalu. Listrik mati pukul 19.00 WIB saat warga tengah berbuka puasa.

“Bagaimana tidak kesal baru hendak mencicipi menu buka puasa listrik dipadamkan, padahal katanya listrik akan diupayakan tidak akan padam selama Ramadhan, ini kok padam juga. Kesalnya pemadaman tersebut terjadi pas di saat kami hendak mencicipi menu buka puasa,” kata Mawaddah (30), warga Komplek Perumnas Samadua. Kekesalan dan kekecewaan juga dilontarkan May Fendri, warga Lorong Meudeng, Kecamatan Tapaktuan.

Dia mengecam keras pemadaman listrik sepihak yang dilakukan PLN Rayon Tapaktuan. “Kita berharap pemadaman seperti ini tidak terulang lagi,” ujarnya.

Listrik padam pada malam pertama Ramadhan yang berlanjut hingga sahur dan shalat subuh hari kedua, juga terjadi di sejumlah desa di Samatiga, Aceh Barat. Keprihatinan serupa juga dilaporkan masyarakat Kota Subulussalam. “Sungguh sangat mengganggu dan menyedihkan, apalagi mati lampu saat berbuka dan makan sahur,” kata Ramona, warga Subulussalam.

Seperti halnya lanjutan dari lirik lagu Pan Amroe berjudul Peu-udep Lampu Nanggroe (PLN), seharusnya apabila pejabat dan otoritas yang berwenang mengurusi PLN serius dan berikhtiar, maka pemadaman pasti tidak akan terjadi.(sar/riz/lid/ttu) (uri/hon//JK)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id