Tebar Janji dari Tahun “Alif” Hingga Tahun “Waw”, Listrik Masih Padam di Aceh | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Tebar Janji dari Tahun “Alif” Hingga Tahun “Waw”, Listrik Masih Padam di Aceh

Tebar Janji dari Tahun “Alif” Hingga Tahun “Waw”, Listrik Masih Padam di Aceh
Foto Tebar Janji dari Tahun “Alif” Hingga Tahun “Waw”, Listrik Masih Padam di Aceh

URI.co.id, BANDA ACEH – Gubernur Aceh terpilih, Irwandi Yusuf, turut menanggapi persoalan kelistrikan Aceh yang sering padam terutama saat bulan Ramadhan, di laman facebooknya. Ia memberi judul tulisannya tersebut, “Defisiensi Arus Listrik di Aceh”.

Menurutnya, kekurangan suplai listrik untuk Aceh bukanlah barang baru. “Janji demi janji sudah sering kita dengar mulai dari tahun alif hingga sekarang tahun waw. Tapi kita tetap harus bilang wow, hoiii, dan &)!&&&$(.,” tulis suami dari Darwati A Gani ini.

Tulisan itu diposting Senin (29/5/2017). Hingga pukul 10.32 WIB, tulisan Tgk Agam, begitu sapaan Irwandi, sudah disukai dan lainnya oleh 1.5 juta pengguna facebook, dikomentari sebanyak 477 kali dan telah dibagikan 252 kali. Para nitizen memberi komentar beragam yang pada intinya mendukung program Tgk Agam untuk memulihkan krisis listrik Aceh.

Tgk Agam menuliskan, sebenarnya persoalan defisiensi listrik bukan terletak pada siapa GM PLN. Dia pun, katanya, merupakan korban dari janjinya yang terpaksa itu. Menurutnya, kecukupan arus listrik terletak pada kecukupan pembangkit listrik dan kehandalan jaringannya.

Dikatakannya, Aceh sekarang memproduksi 280 MW listrik, sedangkan kebutuhan Aceh waktu peak hour adalah 330 MW.

Aceh memerlukan injeksi dari Sumut sebesar 50 MW pada saat beban puncak (peak hour). Injeksi listrik dari Sumut pun ternyata tidak sampai 50 MW karena saat peak hour di Aceh di Sumut pun sedang peak hour.

“Lalu apa yang terjadi ketika semua saklar dihidupkan? Yang terjadi adalah ketidakcukupan arus listrik, bisa-bisa travo terbakar. Untuk mencegah hal ini terjadi, maka PLN melakukan pemadaman,” ungkap Ketua Partai Nanggroe Aceh (PNA) ini.

Untuk mengatasi hal tersebut, Tgk Agam, mempunyai beberapa solusi.

Salah satunya dengan memanfaatkan Panas Bumi Seulawah yang pernah digagasnya saat menjabat sebagai Gubernur Aceh periode 2006-2012, tetapi tidak dilanjutkan oleh Pemerintah Zaini Abdullah – Muzakir Manaf (Zikir).

“Saya berandai-andai. Andaikata proyek Panas Bumi Seulawah yang saya persiapkan 7 tahun lalu, dan bahkan sudah memperoleh dana hibah USD 10 juta dari Jerman dan jaminan pembiayaan dari KFW Bank, diteruskan oleh pengganti saya, Aceh tentu sudah tidak perlu menunggu surplus arus listrik dari Sumut,” katanya.

Kendati demikian, Tgk Agam sudah bertekad akan memberi solusi untuk mengatasi defisiensi arus listrik di Aceh setelah dirinya yang berpasangan dengan Nova Iriansyah sah menjadi Gubernur Aceh dan Wakil Gubernur Aceh periode 2017-2022.

Ada beberapa solusi yang akan dikembangkannya nanti yaitu.

1. Menghidupkan lagi proyek Geothermal Seulawah yang mati suri (butuh waktu 3 tahun), 2. Menunggu arus listrik 250 MW dari KEK, 3. Program baru: Geothermal Geureudong (butuh waktu 5 tahun), 4. PLTA Peusangan 1 & 2, 85 MW (butuh waktu 1 tahun), 5. PLTA Jambo Aye, 100 MW (butuh waktu 5 tahun, 6. PLTA dibeberapa tempat lainnya sekitar 500 MW dalam waktu 10 tahun.

Terakhir, “Dari pada memaki gelapnya malam, mari diam-diam menyalakan lilin sambil menunggu listrik hidup lagi,” tulisnya sedikit berguyon.

“Tapi, dalam waktu maksimal 2 tahun lagi pemadaman listrik di Aceh akan berhenti. Dan saya pun ada melihat kemungkinan Aceh akan berpeluang punya listrik mandiri, the PLA. Amin,” tutupnya. (uri/wi/ovi/ovianti/DNN)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id