Abdya Kehilangan PAD | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Abdya Kehilangan PAD

Abdya Kehilangan PAD
Foto Abdya Kehilangan PAD

* Ratusan Ternak tak Dikutip Retribusi

BLANGPIDIE – Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) kehilangan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pajak (retribusi) pemotongan dan kir kesehatan ternak. Ini terjadi karena ratusan ternak kerbau dan sapi yang disembelih pedagang untuk kebutuhan daging meugang Ramadhan 1438 H tidak dikutip retribusi. Kondisi ini juga terjadi pada tahun lalu.

Para pedagang ternak setempat tidak mengindahkan Surat Edaran Bupati Abdya tentang Penetapan Hari Meugang Ramadhan 1438 H yang jatuh pada Jumat, 26 Mei 2017. Namun yang terjadi banyak pedagang yang melakukan pemotongan dan penjualan daging kerbau dan sapi pada Kamis (25/5). Aktivitas pemotongan ternak di berbagai wilayah pada Kamis pagi tersebut lolos dari pengawasan Dinas Pertanian dan Pangan Abdya. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Abdya, Ir Muslim Hasan MSi, Sabtu (27/5) menjelaskan, kegiatan pemotongan ternak kerbau dan sapi, Kamis (25/5) bertentangan dengan surat edaran bupati yang menetapkan pemotongan ternak meugang pada Jumat (26/5).

“Kami memang tidak bisa mengutip retribusi pemotongan dan kir kesehatan ternak yang disembelih pada Kamis. Kalau kami kutip, sama halnya melegalkan kegiatan yang tak sesuai edaran bupati. Retribusi yang dikutip hanya terhadap ternak yang dipotong pada Jumat yang jumlahnya hanya sekitar 60 ekor,” kata Muslim Hasan. Harga daging yang dipotong hari Jumat sekitar Rp 150.000 per/kilogram.

Sedangkan ternak yang disembelih Kamis, menurut perkiraan Muslim hampir mencapai 200 ekor. Padahal, sesuai qanun daerah Abdya bahwa setiap ternak yang dipotong dikenakan retribusi pemotongan dan kir kesehatan ternak Rp 120.000 per ekor sebagai PAD pada Dinas Pertanian dan Pangan. Menurut Muslim Hasan, ternak yang dipotong pada Kamis juga lolos dari pemeriksaan administrasi dan kesehatan ternak. “Sesuai ketentuan, ternak yang dipotong harus lulus hasil pemeriksaan sehingga terjamin kesehatan dan kualitas daging yang dipasarkan,” katanya.

Muslim Hasan menyebutkan pihaknya tidak bisa berbuat banyak terkait ada pedagang ternak meugang yang melakukan pemotongan tidak sesuai surat edaran bupati. “Setahu saya, Bupati sudah meminta personel Satpol PP dan WH Abdya untuk mengamankan pelaksanaan surat edaran itu, tetapi bagaimana kemudian, saya tidak tahu,” ujarnya.

Sementara itu pedagang ternak/daging menjelaskan, tingginya permintaan daging pada Kamis (25/5) pagi menjadi alasan sehingga para pedagang mengabaikan surat edaran bupati.

“Banyak warga memesan daging meugang untuk hari Kamis. Kami perkirakan pembeli daging berkurang drastis pada hari Jumat, pedagang akan rugi bila dipaksakan harus memotong ternak hari Jumat,” kata Hendri, penjual daging di Abdya kepada Serambi.

Sejumlah pihak lainnya menyatakan surat edaran bupati Abdya tentang penetapan hari pemotongan ternak kebutuhan daging meugang dinilai aneh terkesan ingin mendobrak kebiasaan yang sudah sangat mengakar dalam masyarakat Abdya.

Sebab, tradisi yang masih sangat kuat dalam masyarakat setempat bahwa satu hari sebelum Ramadhan, warga menggelar acara yang dinamakan hari makan-makan, sehingga pemotongan ternak untuk kebutuhan daging meugang dilakukan satu hari sebelumnya.(nun) (uri/strid/lleonora/AE)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id