Berharap Pemimpin Peduli | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Berharap Pemimpin Peduli

Berharap Pemimpin Peduli
Foto Berharap Pemimpin Peduli

Oleh Zarkasyi Yusuf

TULISAN ini mungkin tulisan yang kesekian kalinya sebagai upaya berkontribusi membangun Aceh baru, setidaknya untuk saling mengingatkan. Saya yakin, siapa pun penulisnya bukan berarti untuk menggurui, bukan pula untuk mendekte, tetapi nasihat yang mungkin bermakna serta didengar oleh para pemimpin baru Aceh.

Tulisan ini bermula dari sebuah perenungan mendalam, terkait fenomena kehidupan sosial masyarakat Aceh dewasa ini, baik tingkah-polah pemimpin maupun respons rakyat. Tulisan ini pula sebagai wujud kepedulian untuk saling membantu dan melengkapi sesuai dengan kapasitas masing-masing dalam rangka menuju Aceh yang tamaddun di masa mendatang.

Jika melihat Kamus Bahasa Indonesia, kepedulian berasal dari kata peduli yang memiliki makna mengindahkan, memperhatikan, menghiraukan. Sementara kata kepedulian diartikan sebagai perihal sangat peduli, sikap mengindahkan dan memperhatikan sesuatu yang terjadi dalam masyarakat. Kepedulian yang timbul dalam sanubari manusia akan mendorong mereka untuk bertindak, baik dengan nasehat (lisan) maupun dengan aksi nyata (perbuatan).

Kepedulian itu timbul karena rasa empati yang mendalam, apalagi melihat ketimpangan yang tidak sejalan dengan pikiran dan aturan (hukum). Namun, kepedulian akan menjadi semu, apabila rasa kepedulian yang muncul dalam hati hambar, serta tidak diikuti dengan wujud dari rasa kepedulian itu sendiri.

Saling menguatkan
Sudah sewajar dan sepatunya, jika pemimpin harus peduli kepada rakyatnya, begitu juga sebaliknya. Rakyat diharuskan pula untuk peduli kepada pemimpinya. Dua pertautan ini, tidak dapat dipisahkan dan saling melengkapi guna melahirkan sebuah kerja sama yang saling menguatkan. Jika membuka sejarah, betapa Umar bin Khattab tidak tidur waktu siang. Alasannya, jika tidur takut mengabaikan urusan rakyatnya.

Selanjutnya, khalifah Umar rela berkeliling malam hari serta menyamar menjadi orang biasa demi melihat langsung kehidupan rakyatnya. Diceritakan bahwa suatu hari Khalifah Umar bin Khattab pernah menolak makanan lezat berupa punuk dan hati unta, padahal sebelum masuk Islam makanan ini paling digemari Amirul Mukminin, “Saya akan menjadi pemimpin paling buruk seandainya saya memakan daging lezat ini dan meninggalkan tulang-tulangnya untuk rakyat.” Demikian penolakan Umar bin Khattab.

Lain hari, ketika kelaparan melanda kota Madinah, Amirul Mukminin pernah disuguhkan remukan roti yang dicampur samin. Sebelum makan, Umar bin Khattab mengajak seorang Badui untuk turut makan bersamanya. Umar bin Khattab tidak menyuapkan makanan ke mulutnya sebelum Badui menyantapnya terlebih dulu. Sang Badui berkata “saya tidak pernah makan dengan samin (minyak zaitun), saya juga sudah lama tidak menyaksikan orang-orang memakannya sampai sekarang”.

Mendengar jawaban sang Badui, Umar bin Khattab bersumpah tidak akan pernah makan lemak sampai semua rakyatnya hidup layak. Kisah kisah terkait Umar bin Khattab ini dapat dibaca detailnya dalam kitab Ar Rijal Haula Rasul yang ditulis oleh Khalid Muhammad Khalid atau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Biografi 60 Sahabat Nabi. Kisah ini hanya sebahagian kecil tentang kepedulian Pemimpin kepada rakyatnya, bagaimana pengorbanan mereka dalam memperjuangkan nasib rakyatnya. Kepedulian yang langsung ditunjukkan dengan aksi nyata, sebagai manivestasi rasa prihatin dan sayang mereka kepada rakyatnya.

Jemy V. Confido dalam majalah Lionmag (in-flight magazine) edisi April 2017 menyebutkan setidaknya ada 12 prinsip kepedulian yang harus dimiliki oleh seseorang ketika ia menyatakan peduli. Antara lain adalah memberi perhatian kepada hal-hal kecil yang mengakibatkan dampak besar (bukan memberikan perhatian perhatian kepada sesuatu yang besar tetapi berdampak kecil).

Jika para pemimpin baru Aceh hasil seleksi rakyat melalui Pilkada telah menyatakan komitmenya untuk peduli nasib rakyat, maka mulailah dari sesuatu yang kecil tetapi berdampak besar bagi rakyat. Sejatinya, para tim sukses dan “tim s’ah” membisikkan juga hal-hal kecil yang kelihatnnya sepele, tetapi bagi rakyat banyak itu adalah sesuatu yang besar bahkan berdampak dalam kehidupan mereka. Sebut saja persoalan listrik yang masih belum normal, kenaikan harga sembako menjelang ramadhan dan lebaran serta hal-hal lainnya yang didalamnya terdapat pertaruhan kehidupan rakyat.

Tidak hanya memberikan perhatian, kepedulian berarti melakukan tindakan dengan segera. Saya rasa, bertindak dengan segera adalah impian rakyat Aceh terhadap pemimpin baru, terutama menyikapi hal-hal krusial yang semakin merajarela terjadi dalam masyarakat Aceh dewasa ini. Bagaimana sikap pemimpin baru nantinya dalam mengambil kebijakan tegas untuk mencari solusi?

Sebut saja persoalan narkoba, misalnya, yang semakin merajarela dan menghantui setiap generasi muda Aceh. Bayangkan saja bagaimana nasib generasi muda Aceh jika mereka telah ternoda oleh Narkoba, apalagi mereka hidup di bumi yang berjuluk serambi Mekkah. Mengantisipasi ini, diperlukan kebijakan-kebijakan tegas bagaimana memutuskan mata rantai peredaran narkoba, mulai dari pedesaan hingga ke wilayah perkotaan.

Prinsip kepedulian
Masih menurut Jemy V Confido, yang tidak kalah pentingnya dan menjadi prisip kepedulian adalah menyucikan diri dari kepentingan pribadi. Harus diakui bahwa pemimpin juga memiliki kehidupan pribadi, mewajibkan mereka melaksanakan tanggung jawabnya. Namun, kehidupan pribadi mereka tidak mengotori tugas dan kepentingan mereka sebagai pemimpin dan pelayan rakyat. Jika kepentingan pribadi dan golongan masih didahulukan, maka komitmen peduli mereka hanya menjadi semboyan belaka, komitmen peduli mereka hanya menjadi penghibur “telinga” rakyat.

Kita selalu berdoa semoga siapun yang ditakdirkan Allah menjadi pemimpin kita agar diberikan kekuatan dan kesanggupan untuk menjalankan amanah dan tugas mereka sebagai sang Pemimpin. Begitu pula kita sebagai rakyat, sejatinya memberikan semangat dan dukungan serta menyukseskan setiap rencana, program dan aksi yang baik dan bermartabat dalam upaya menyejahterakan rakyat, serta mewujudkan Aceh madani yang selalu dalam naungan dan ridha Ilahi, Amin.

* Zarkasyi Yusuf, peminat masalah sosial dan keagamaan di Aceh. Email: [email protected] (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id