Dua Wanita Satu Bayi Tunggu ‘Pengusiran’ dari Malaysia   | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Dua Wanita Satu Bayi Tunggu ‘Pengusiran’ dari Malaysia  

  • Reporter:
  • Minggu, Mei 28, 2017
Dua Wanita Satu Bayi Tunggu ‘Pengusiran’ dari Malaysia   
Foto Dua Wanita Satu Bayi Tunggu ‘Pengusiran’ dari Malaysia  

BANDA ACEH – Pemerintah Aceh melalui Dinas Sosial meluruskan kesimpangsiuran informasi yang berkembang selama ini terkait jumlah maupun proses hukum terhadap warga Aceh yang ditangkap oleh Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) pada 1 Mei 2017 termasuk laporan adanya lima orang yang segera dipulangkan.

Terkait informasi ada lima wanita asal Aceh yang sudah dibebaskan, menurut Kadis Sosial Aceh, Alhudri, jumlah sebenarnya bukan lima tetapi tiga, yaitu seorang wanita tua bernama Syamsiah Hasan (67) asal Beureunuen, Pidie, Tia Wati (25) asal Ujong Pacu, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe bersama bayinya bernama Tiara Salsabila berusia delapan bulan.

“Sebelumnya sempat diinformasikan lima orang warga asal Aceh yang sudah diampuni namun yang benar adalah tiga. Dua lainnya ternyata asal Sumatera Barat,” kata Alhudri kepada Serambi, Jumat (26/5) malam.

Kedua wanita bersama bayi delapan bulan tersebut, menurut Alhudri sudah mendapatkan pengampunan berdasarkan putusan Mahkamah (Pengadilan) Sipil Malaysia namun tetap saja belum bisa dibawa pulang ke Aceh karena ada satu tahapan lagi yang harus ditunggu yaitu pengusiran atau deportasi.

“Ya, kita tidak bisa memaksakan kehendak terhadap aturan yang berlaku di negara orang, namun kita tidak tinggal diam. Meski tim yang ditugaskan Pemerintah Aceh sudah kembali tetapi komunikasi terus kita lakukan dengan pihak KBRI di Malaysia,” kata Alhudri.

Alhudri menegaskan, untuk kepentingan meluruskan kesimpangsiuran informasi terkait nasib warga Aceh yang ditahan di Malaysia, Pemerintah Aceh menugaskan tim dari Dinas Sosial ke Malaysia.

“Sebenarnya saya yang berangkat akan tetapi karena izin untuk kepala dinas ke luar negeri harus dari Mendagri yang membutuhkan proses agak lama, makanya kita utus staf untuk tugas khusus itu biar bisa langsung berangkat,” kata Alhudri.

Staf Dinsos yang melaksanakan tugas dari Pemerintah Aceh melalui Kadis Sosial Aceh bertemu dengan First Secretary/Consular Affair KBRI Malaysia, Dahlia Kusuma Dewi.

“Saya ingin tegaskan kepada semua pihak bahwa Pemerintah Aceh serius mengurus warganya yang menghadapi masalah hukum di luar negeri. Namun semua perlu proses karena antarnegara. Kalau pun ada tim yang kita tugaskan ke sana, tidak bisa langsung bertemu tetapi harus melalui KBRI,” kata Alhudri.

Dikatakan Alhudri, berdasarkan data dari KBRI tercatat 68 WNI yang ditahan. Dari jumlah itu, warga Aceh 43 orang. Rinciannya, 35 orang laki-laki di Penjara Sungai Buloh menjalani hukuman selama tiga bulan, lima perempuan yang juga sudah divonis tiga bulan menjalani hukuman di Penjara Kajang serta tiga lainnya terdiri atas dua wanita dan seorang bayi di Penjara Semenyih.

Data terbaru itu juga sudah dilengkapi identitas lengkap terhadap 35 laki-laki yang ditahan di Penjara Sungai Buloh. Sedangkan identitas lengkap lima wanita yang ditahan di Penjara Kajang belum sempat dihimpun karena keterbatasan waktu kunjungan tim. “Mereka yang ditahan di Penjara Sungai Buloh maupun Penjara Kajang dalam kondisi sehat. Kita sudah sampaikan permohonan melalui KBRI agar mereka mendapatkan pengampunan, namun semuanya perlu proses,” ujar Alhudri.(nas) (uri/hon//JK)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id