Siap Fisik, Psikis, Ilmu, dan Harta | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Siap Fisik, Psikis, Ilmu, dan Harta

Siap Fisik, Psikis, Ilmu, dan Harta
Foto Siap Fisik, Psikis, Ilmu, dan Harta

Oleh Prof. Dr. Syamsul Rijal, M.Ag Guru Besar Filsafat Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh Email: [email protected]

PERINTAH melakukan puasa bagi setiap muslim dewasa dalam keadaan sadar serta sehat lahir-batin adalah wajib dengan tujuan pelakunya memperoleh derajat takwa. Dari sudut normatif tidak ada perbedaan pandangan akan kewajiban menunaikan puasa. Namun, dari sudut waktu, kapan misalnya dimulai berpuasa (baca: menentukan 1 Ramadhan) dan atau mengakhirinya (baca: 1 Syawwal sebagai hari Idul Fitri) muncul ragam pandangan.

Sebagian menentukan dengan rukyat al-hilal (melihat bulan), sementara yang lainnya menentukannya dengan cara hisab (perhitungan kalender). Dengan cara pandang seperti inilah terlahir kelompok organisasi Islam yang berbeda pegangan penentuannya, terkadang tidak sepakat penentuan itu dan bahkan juga pernah sepakat.

Rasulullah saw bersabda, Man fariha bidukhuli ramadhan ghufira lahu ma taqaddama min zambihi (Siapa saja yang merasa gembira –apresiatif dengan mempersiapkan diri akan kehadirannya– maka diampuni baginya dosa-dosa yang lalu). Transformasi normatif ini secara sadar atau tidak sadar, telah melahirkan kultur baragam di tengah-tengah kehidupun setiap muslim dalam mereka berislam.

Di Aceh penyambutan sukacita jelang Ramadhan ditandai dengan sebutan meugang (tradisi membawa pulang daging sapi ke rumah) itu sarat nilai-kultural yang dalam. Kepala keluarga membawa pulang daging sapi untuk diolah oleh ibu rumah tangga adalah barometer kultural yang jika tidak dilakukan ada sesuatu yang hilang dari kehidupan ini. Pembiasaan ini juga telah menjadi standard “kelas” sebuah keluarga dan jika tidak terasa ada yang tidak sempurna dalam keluarga tersebut.

Kultural lain yang telah melekat, paling tidak dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, warga berduyun-duyun memenuhi bibir pantai, rileks, makan bersama keluarga. Bahkan, di titik pantai tertentu warga berjubel penuh sesak dan ini mentradisi hingga muncul bahasa gaulnya “minggu terakhir”. Suka atau tidak suka, inilah fenomena sosio-religi yang ngetren dan menjadi bagian historisitas keberislaman di Aceh.

Ada sisi positif memang, misalnya memberi peluang riak-aktivitas ekonomi mikro dengan menjamurnya penjaja makanan dan tidak terbantahkan pula ada sisi yang seharusnya menjadi atensi serius negara dalam melindungi warga ke atmosfir budaya yang menggerus nilai-nilai budaya Aceh yang islami. Pesta pantai dengan camping di malam hari di kalangan generasi muda menjadi kurang relevan, apalagi dikaitkan dengan kultural keacehan.

Kultural lain tidak kalah pentingnya juga terkait dengan penyambutan Ramadhan di instansi pemerintah, BUMN, dan institusi pendidikan membuat kelompok pengajian ataupun di mushalla yang ada materi yang disampaikan dapat dipastikan perihal kesiapan umat di dalam menyambut Ramadhan. Dan bahkan ada yang membuat FGD guna menpertajam pengetahun tentang ibadah di bulan Ramadhan, sehingga terasa hikmah ibadah yang ditunaikan bagi berkehidupan.

Kuktural tersebut sangat patut diapresiasi dan ditumbuh-kembangkan, sehingga warga mendapat akses ilmu yang cukup dalam beribadah. Mencermati kenyataan sosio-religi ini, amatlah patut bagi setiap muslim mempersiapkan diri dengan bekal mentalitas pengetahuan lahir-batin perihal puasa. Sehingga setiap orang dapat menunaikan puasanya secara lebih sempurna dan dapat meraup hikmah dari setiap perilaku ibadahnya itu.

Perlu kesiapan
Sejatinya di dalam menghadapi Ramadhan yang bersimbah keberkahan ini perlu kesiapan fisik (al-i’daad al-jasadi), karena ibadah puasa memerlukan stamina tubuh yang prima serta sehat, sehingga dapat meningkatkan iman, ilmu dan amal saleh sepanjang beribadah di bulan Ramadhan. Kesiapan lain adalah psikis (al-i’daad ar-ruh). Kesiapan ini membentuk mentalitas sehat dengan membersihkan, menjaga dan menata hati, meluruskan niat dalam beribadah semata mengharapkan redha Allah serta ikhlas karena beribadah untuk-Nya bukan karena untuk selain itu. Kondisi ini merupakan mentalitas prima menata hati menuju derajat ketakwaan.

Kesiapan berikutnya adalah setiap muslim sejatinya di dalam beribadah memiliki kesiapan ilmu (al-i’dad al-fikr) yaitu kesiapan pencerdasan intlektual, pergunakanlah setiap waktu dan kesempatan meningkatkan ilmu-ilmu tentang ibadah yang akan ditunaikan. Demikain juga dengan kesiapan harta (al-i’daad al-maal) dalam artian setiap orang di dalam beribadah haruslah memiliki orientasi untuk menggunakan harta yang dimiliki untuk berbagi di jalan Allah, meningkatkan shilaturrahim dan saling memaafkan.

Apa yang anda miliki secara material sejatinya haruslah men-support ibadah yang akan Anda tunaikan sepanjang Ramadhan ini. Bukakanlah lorong jalan menuju ibadah yang sarat dengan hikmah bagi berkehidupan kita dengan menyinergikan tata nilai normatif dengan kenyataan historisitas yang dapat membangun karakter kreatif positif bagi generasi yang beribadah dalam ridha-Nya.

Selamat berpuasa, semoga kita meraih keberkahan Ramadhan! Wallahu a’lam bi al-shawwab. (uri/inaldy/eryance/RG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id