Ayo, Perkaya Bahasa Indonesia dengan Bahasa Aceh | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Ayo, Perkaya Bahasa Indonesia dengan Bahasa Aceh

  • Reporter:
  • Minggu, Mei 28, 2017
Ayo, Perkaya Bahasa Indonesia dengan Bahasa Aceh
Foto Ayo, Perkaya Bahasa Indonesia dengan Bahasa Aceh

Oleh: Dindin Samsudin | Penulis, Peneliti di Balai Bahasa Jawa Barat.

Indonesia merupakan salah satu negara pemilik bahasa daerah terbanyak di dunia. Berdasarkan hasil penelitian kekerabatan dan pemetaan bahasa-bahasa di Indonesia yang dilakukan oleh Badan Bahasa, di Indonesia terdapat 746 bahasa dan hingga tahun 2011 baru 514 bahasa yang berhasil diidentifikasi.

Namun, hal tersebut justru bertolakbelakang dengan kondisi bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia masih kekurangan kosakata sehingga ketika tidak menemukan kosakata bahasa Indonesia yang tepat, pengguna bahasa tidak sedikit yang menggunakan bahasa asing untuk mengungkapakan ide atau gagasannya.

Akibatnya, bahasa asing menjadi tersebar luas dalam penggunaan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia hingga kini terus berupaya untuk menjadi bahasa pengantar ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai pengantar ilmu pengetahuan dan teknologi, bahasa berfungsi untuk menyampaikan informasi secara cepat agar pembaca atau pendengar dapat memahami dan menguasai ilmu tersebut. Untuk itu, kosakata bahasa Indonesia harus diperkaya disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi terakhir (Edisi V), bahasa Indonesia memiliki127.036 lema. Jumlah tersebut tentu sangat jauh tertinggal dari bahasa Inggris, sebagai bahasa internasional. Oxford English Dictionarymemuat daftar lebih dari 250.000 kata berbeda, tidak termasuk istilah-istilah teknis, sains, dan bahasa gaul yang jumlahnya juga sangat banyak.

Bahkan, menurut tim riset gabungan peneliti Havard University dan Google, jumlah total kata dalam bahasa Inggris telah mencapai 1.022.000 kata. Untuk memperkaya kosakata bahasa Indonesia, Badan Bahasa Kemendikbud menargetkan lema KBBI mencapai 200.000 pada 2019. Kekayaan bahasa daerah yang kita miliki tentu dapat dijadikan modal untuk memperkaya koskata bahasa Indonesia. Penyerapan kosakata bahasa daerah erupakan suatu cara yang sangat tepat dalam usaha pengembangan bahasa Indonesia.

Hal ini juga merupakan salah satu upaya dalam konservasi dan revitalisasi bahasa.Dalam hubungannya dengan bahasaIndonesia, salah satu fungsi ahasa daerah yaitu sumber kebahasaan untuk memperkaya bahasa Indonesia. Jadi, bahasa daerah harusdapat dimanfaatkan untuk memperkasa bahasa Indonesia. Salah satu contoh istilah yang telah dimanfaatkan dan sudah diterima oleh masyarakat adalah kata unduh dan unggah yang diserap dari bahasa Jawa sebagai padanan kata download dan upload.

Berdasarkan penghitungan yang dilakukan Adi Budiwiyanto (Badan Bahasa), diketahui bahwa dalam KBBI Pusat Bahasa Edisi Keempat (2008) kosakata serapan bahasa daerah berjumlah 3.592 entri. Bahasa Jawa merupakan bahasa yang paling banyak menyumbang kosakata bahasa Indonesiayaitu sebanyak 1109 kata. Kemudian, disusul oleh bahasa Minangkabau, Sunda, Madura, Bali, dan bahasa Aceh berada di urutan keenam dengan jumlah kosakata yang disumbang sebanyak112 kata.

Sementara itu, berdasarkan perhitungan, kosakata bahasa Aceh yang sudah masuk dalam KBBI Edisi V sekitar 250 lema. Beberapa bahasa Aceh yang sudah ada dalam KBBI V, di antaranya “alue” yang artinya ‘anak cabang sungai atau rawa yang buntu’, “bengka” yang bermakna memperlonggar, memperbesar lubang cuping telinga seorang gadis’, “cato” ‘menjahit dengan pola petakpetak (tentang kasur)’, “jendrang” ‘batang padi di sawah yang masih panjang setelah dipotong tangkainya’, “kemamah” ‘ikan kayu’, “nuga” ‘palu kecil dari kayu untuk memukul pasak kayu’, “pipot” ‘mematahkan bagian demi bagian atau sedikit demi sedikit’, “pilik” ‘memegang sesuatu dengan ujung jari sambil memperlihatkan keadaannya (tentang kain)’, “rande” ‘mengangkat sesuatu beramai-ramai dan mendorongnya lambat-lambat’, “rentah” ‘masak sekali (tentang padi)’, “ruek” ‘kering sekali atau menjadi kering (tentang buah-buahan seperti pinang, jagung)’, “rudui” ‘jatuh terkulai’, “simprak” ‘duduk mengangkang (misalnya di atas kuda)’, “selugot” ‘hutan belukar yang berpaya-paya’, “semong” ‘tsunami’, “seulumat” ‘kulit ari-ari pada pusat anak ayam yang baru menetas’, “sebon” ‘tidak bersemangat; tidak bernafsu makan, sangat lemah’, “talum” ‘memasukkan sesuatu kedalam mulut dalam jumlah besar’, dan “timpeng” ‘melangkah panjang-panjang untuk naik atau turun”.

Besarnya jumlah penutur memang berkorelasi dengan jumlah kosakata bahasa daerah yang diserap ke dalam bahasaIndonesia. Makin besar jumlah enuturnya, makin besar kecenderungan kosakata yangdiserap. Namun, faktor lain dalam penyerapan bahasa daerah juga adalah kekerapan penggunaan kosakata bahasa daerah oleh wartawan di media massa, oleh penulis atau sastrawan dalam karangannya,oleh tokoh publik, dan ketersediaan konsep baru pada kosakata bahasa daerah yang tidak dimiliki oleh bahasa Indonesia.

Bahasa Aceh sudah menyumbang sekitar 250 kata kepada bahasa Indonesia. Akan tetapi, mungkin masih terdapatbanyak leksikon bahasa Aceh ang dapat kembali memperkaya perbendaharaankosakata bahasa Indonesia karena belum ada konsepnya dalam bahasa Indonesia. Seandainya ada pun, konsep tersebut mungkin tidak efisien karena masih berupafrasa.

Dalam Pedoman Umum Pembentukan Istilah, salah satu syarat penyerapan kosakata dalam bahasa Indonesia, yaitukata yang diserap lebih singkat aripadayang lain yang berujukan sama. Oleh karena itu, ayo perkaya lagi bahasa Indonesia dengan bahasa Aceh. (uri/hon//JK)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id