Menuju Ramadhan Produktif | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Menuju Ramadhan Produktif

Menuju Ramadhan Produktif
Foto Menuju Ramadhan Produktif

Oleh Ahmad Faizuddin

ALHAMDULILLAH, kita telah bertemu lagi dengan Ramadhan tahun ini. Fenomena yang sering terjadi di masyarakat adalah banyak yang keluar dari tuntunan dalam mempersiapkan Ramadhan. Ada yang beramai-ramai ke laut atau sungai, mandi bersama dengan alasan membuang sial sehingga dapat memasuki bulan yang mulia dengan bersih. Padahal ini adalah praktik yang tidak berdasarkan syariat Islam. Dalam sebuah hadis shahih riwayat Imam Muslim, Nabi saw dengan tegas menyatakan bahwa amalan yang tidak ada contohnya dari beliau, maka ia tertolak dan barangsiapa yang mencontohi amalan suatu kaum maka ia termasuk dalam kaum tersebut.

Dalam Lathaif al-Ma’aarif disebutkan bahwa Mu’alla bin al-Fadhl berkata, “Dulunya para Salaf berdoa kepada Allah Swt (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka bedoa kepada-Nya (selama) enam bulan berikutnya agar Dia menerima (amal-amal saleh) yang mereka kerjakan.” (h. 174). Oleh karena itu, persiapan Ramadhan hendaknya mengikuti tuntutan dan kaedah yang telah ditetapkan syara’. Ada dua persiapan yang paling penting disiapkan yaitu persiapan mental dan persiapan fisik sehingga Ramadhan kita lebih produktif dibandingkan dengan sebelumnya.

Persiapan mental
Persiapan utama menyambut Ramadhan adalah persiapan mental. Dimulai dengan hati yang gembira dan lapang dada akan bertemu dengan bulan yang mulia. Sekarang di media sosial dan baliho sudah banyak disebarkan pesan Marhaban ya Ramadhan, yang sering diterjemahkan dengan “Selamat Datang Bulan Ramadhan”. Namun dalam bahasa aslinya (Arab), akar katanya adalah ra-ha-ba yang bermakna tanah lapang. Jadi marhaban bukan berarti selamat datang, tetapi menerima kedatangannya dengan dada yang lapang.

Persiapan mental perlu dilakukan agar saat Ramadhan tiba seperti sekarang ini, jiwa kita sudah siap (ready mode on) untuk melaksakan ibadah sepanjang waktu (full time) dan seoptimal mungkin. Kalau selama ini kita dapat menyusun agenda kegiatan duniawi dari pagi sampai malam dengan begitu teliti, alangkah baiknya kalau kita juga dapat menyusun rutinitas ibadah dengan lengkap. Alangkah indahnya kalau kita dapat mempersiapkan diri dengan bijak dan menggapai tujuan utama dari puasa, yaitu menjadi orang yang bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183).

Rasul saw memberikan kabar gembira akan kedatangan Ramadhan dengan berbagai keutamaannya sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah, menjelang kedatangan Ramadhan, Nabi saw bersabda, “Telah datang kepada kalian bulan yang diberkahi. Diwajibkan kepada kalian berpuasa padanya.Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan syaitan-syaitan dibelenggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, brangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam itu, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi).

Untuk mendapatkan nikmatnya Ramadhan, harus ada persiapan awal supaya amalan yang kita lakukan lebih khusyu’ dan bermakna. Persiapan ilmu khususnya sangat penting sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah Atsar bahwa Mu’adz bin Jabal berkata, “Hendaknya kalian memperhatikan ilmu karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah.” Mengomentari pendapat tersebut, Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya.”

Berkaitan dengan amalan Ramadhan ada baiknya kita kembali membaca buku atau kitab tentang fiqh yang menyangkut puasa, shalat Tarawih, i’tikaf dan sebagainya. Hal ini penting untuk diperhatikan supaya kita mengetahui batas-batas syara’ dalam melakukan ibadah. Jangan sampai di bulan Ramadhan nanti kita sibuk mempermasalahkan shalat Tarawih yang 8 dan 20 padahal ia adalah ibadah sunnat dan masing-masing ada dalilnya. Ilmu harus kita dahulukan sebelum beramal.

Termasuk dalam persiapan mental adalah membersihkan hati dan saling memaafkan sesama. Sebelum masuknya Ramadhan, dianjurkan untuk memperbaiki hubungan dengan manusia (hablum minannas) dan hubungan dengan Allah (hablum minallah) yaitu bertaubat. Allah Swt berfirman, “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31).

Dalam Tafsir al-Jalalain dijelaskan maksud ayat tersebut, “(Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman) dari apa yang telah kalian kerjakan, yaitu sehubungan dengan pandangan yang dilarang ini dan hal-hal lainnya yang dilarang (supaya kalian beruntung) maksudnya selamat dari hal tersebut karena taubat kalian diterima.” Sementara Quraish Shihab menafsirkan, “Bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang Mukmin, atas segala kesalahan kalian. Lakukanlah selalu etika-etika agama agar kalian memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.”

Persiapan dana bisa dikatagorikan dalam persiapan mental. Karena mentalitas manusia secara umum adalah suka menerima tetapi enggan memberi. Persiapan dana bisa diagendakan dengan baik karena Ramadhan adalah bulan dilipat-gandakannya pahala. Keluarkan infaq dan shadaqah sebanyak-banyaknya dengan membantu fakir miskin, memberikan makan orang berbuka puasa dan sebagainya. Ibnu Abbas ra meriwayatkan, “Nabi SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Produktivitas amal
Persiapan fisik untuk menjalankan ibadah puasa itu penting. Kalau fisik lemah tentunya amal ibadah akan terganggu. Padahal kita sudah mempersiapkan target yang banyak untuk Ramadhan yang akan datang, seperti memperbanyak membaca al-Qur’an, shalat sunnat tarawih, rawatib, dhuha dan sebagainya. Meskipun orang yang sakit diperbolehkan untuk mengganti puasanya dibulan lain, alangkah baiknya kalau kita berdo’a supaya jangan sakit di bulan Ramadhan. Disamping itu kita juga harus menjalani rutinitas kerja sebagaimana biasanya.Oleh karena itu, Ramadhan bukan halangan untuk produktifitas kerja dan ibadah.

Mulailah dengan niat yang baik supaya Ramadhan kali ini jangan sampai kita lewati dengan banyak makan dan banyak tidur. Mempersiapkan Ramadhan dengan memborong makanan dan minuman sehingga bisa balas dendam makan sebanyak-banyaknya ketika berbuka dan sahur tidaklah dianjurkan. Aturlah waktu dengan sebaik-baiknya dengan menjaga pola makan, waktu istirahat, dan aktivitas yang seimbang. Selama ini kita selalu berdalih dengan hadis, Naumus shaim ‘ibadah, wa shumtuhu tasbih, wa ‘amaluhu mudha’af, wa du’auhu mustajab wa dzanbuhu maghfur (Tidurnya orang berpuasa itu ibadah, diamnya tasbih, aktifitasnya digandakan (pahalanya), doanya di-ijabah, dosanya diampuni) (HR. Al-Baihaqi).

Derajat hadis ini menurut Syaikh Al-Albani adalah lemah (dha’if) (Silsilah Al-Dha’ifah, No.4696). Ini dapat melegitimasi supaya orang yang berpuasa dapat bermalas-malasan dalam bulan Ramadhan. Namun suatu perbuatan bisa bernilai ibadah kalau niatnya benar. Menurut Imam An-Nawawi, “Sesungguhnya perbuatan mubah (seperti makan, tidur dan berhubungan suami isteri), jika dimaksudkan dengannya untuk mengharapkan wajah Allah Ta’ala, maka dia akan berubah menjadi suatu ketaatan dan akan mendapatkan balasan.” (Syarh Muslim, 6/16).

Jadi tidur yang bernilai ibadah itu yang bagaimana? Ibnu Rajab menerangkan, “Jika makan dan minum diniatkan untuk menguatkan badan agar kuat ketika melaksanakan shalat dan puasa, maka seperti inilah yang akan bernilai pahala. Sebagaimana pula apabila seseorang berniat dengan tidurnya di malam dan siang harinya agar kuat dalam beramal, maka tidur seperti ini bernilai ibadah.” (Latha’if al-Ma’arif, 279-280). Maka setiap perbuatan itu tergantung niatnya.

Ketika kita sudah terbiasa melakukan hal-hal yang baik, maka InSya Allah akan terbiasa pula di bulan-bulan yang lain. Inilah sebenarnya target utama Ramadhan, yaitu sebagai bulan latihan. Dengan berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan di saat fisik kita lemah tanpa makanan dan minuman, kerja kita tetap produktif. Jadi seharusnya ada peningkatan amal di luar Ramadhan ketika kita tidak berpuasa.

Akhirnya, persiapan-persiapan tersebut adalah bukti nyata bahwa Ramadhan adalah bulan yang dinanti-nantikan oleh semua Muslim. Sekarang adalah bagaimana melaksanakan ibadah di dalamnya dengan sebaik-baiknya dan menjaganya tetap produktif. Sambutlah Ramadhan ini dengan dada yang lapang dan persiapan yang matang. Jangan sampai Ramadhan sudah hampir berlalu, baru kita sibuk mempersiapkan diri mengejar ketertinggalan yang terlampaui. Masih ada waktu sebentar lagi, maka persiapkan diri dengan teliti. Marhaban ya Ramadhan.

Ahmad Faizuddin, kandidat Ph.D bidang Educational Management and Leadership di Kulliyyah of Education, International Islamic University Malaysia. Email: [email protected] (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id