Tim Saber Sita Rp 65 Juta | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Tim Saber Sita Rp 65 Juta

Tim Saber Sita Rp 65 Juta
Foto Tim Saber Sita Rp 65 Juta

* OTT di SMKN 1 Lhokseumawe

LHOKSEUMAWE – Tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) Lhokseumawe, melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) di SMKN 1 Lhokseumawe, Rabu (24/5) siang. Tim menyita uang tunai Rp 65.030.000 yang diduga hasil pungli oknum di sekolah itu. Tim juga membawa tiga orang ke Mapolres Lhokseumawe untuk diperiksa.

Ketua Tim Saber Pungli Lhokseumawe, Kompol Isharyadi didampingi Ketua Penindakan AKP Budi Nasuha menyebutkan, awalnya tim tersebut mendapatkan informasi tentang adanya pengutipan uang pada siswa sekolah itu. Pengutipan uang itu diduga dilakukan secara ilegal. (Lihat, dana yang dikutip/siswa)

Awalnya, kata Isharyadi, tim menemukan uang Rp 630.000. Setelah digeledah ditemukan lagi Rp 60 juta lebih. “Hasil pemeriksaan awal, kutipan uang sebesar 525 ribu rupiah pada setiap siswi dan 510 ribu rupiah pada setiap siswa, akan digunakan untuk pembelian pakaian,” ujar Kompol Isharyadi yang juga Wakapolres Lhokseumawe.

Namun, kata Kompol Isharyadi, ada dugaan kesalahan administrasi dalam pengutipan uang tersebut. Seharusnya, sebelum pengutipan harus terlebih dahulu digelar rapat komite yang melibatkan wali murid. “Wali murid yang menyepakati baik terhadap harga dan apakah dibeli oleh sekolah secara kolektif atau tidak,” ujarnya.

Dalam menindaklanjuti kasus OTT tersebut, pihaknya sudah memintai keterangan panitia penerimaan siswa baru, kepala sekolah, dan juga unsur UPTD di Lhokseumawe. Namun sejauh ini belum dipastikan apakah ada unsur pidana atau tidak dalam perkara tersebut.

Untuk menentukan apakah ada unsur pidana atau tidak dalam kasus OTT itu, pihaknya masih menunggu hasil kajian tim terpadu dari Kejaksaan Negeri Lhokseumawe. “Artinya, sejauh ini belum ada yang kita tetap sebagai tersangka,” demikian Kompol Isharyadi.

Kepala SMKN 1 Lhokseumawe Armia SPd MM didampingi Ketua Komite Sekolah Sulaiman SD MSi, mengakui keputusan pembelian pakaian secara kolektif itu tidak dimusyawarahkan lagi dengan wali murid. Sebab waktu yang sangat singkat. “Tapi sebelum kita putuskan, sudah dirapatkan terlebih dahulu dengan unsur pimpinan sekolah dan para komite,” katanya.

Selain itu, pembelian pakaian secara kolektif rutin dilakukan tiap tahun, demi keseragaman. Bila ada siswa baru yang tidak bisa melunasi langsung biaya tersebut, pakaian atau seragam itu tetap diberikan pada siswa tersebut. Namun siswa tersebut tetap diwajibkan melunasinya, walau secara menyicil.

“Kadang-kadang ada siswa yang baru mampu melunasi uang pakaian itu satu sampai dua tahun. Jadi kebijakan pembelian pakaian secara kolektif ini kita lakukan, juga bertujuan bisa menolong siswa-siswa yang orang tuanya kurang mampu untuk melunasi uang pakaian sekaligus,” pungkasnya.(bah) (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id