Bengkel Motor Dominasi Lapangan Usaha di Aceh | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Bengkel Motor Dominasi Lapangan Usaha di Aceh

Bengkel Motor Dominasi Lapangan Usaha di Aceh
Foto Bengkel Motor Dominasi Lapangan Usaha di Aceh

BANDA ACEH – Hasil pendaftaran Sensus Ekonomi (SE) 2016 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Mei-Juni 2016 menunjukkan perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan (bengkel) mobil dan sepeda motor mendominasi lapangan usaha di Aceh, yaitu 193.981 usaha atau 44,82 persen dari seluruh usaha nonpertanian di daerah ini.

Sedangkan jumlah tenaga kerja menurut lapangan usaha, sejalan dengan jumlah usaha tersebut 300.930 orang atau 29,67 persen dari tenaga kerja nonpertanian di Aceh. Kepala BPS Aceh, Wahyudin MM memaparkan data ini dalam kegiatan launching dan sosialisasi hasil SE 2016 BPS Aceh bertema “Membedah Potensi Ekonomi dan Daya Saing Daerah”. Acara ini di Gedung Amel Convention Center (ACC), Banda Aceh, Rabu (24/5).

“Perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil serta sepeda motor merupakan aktivitas ekonomi yang banyak dijalankan masyarakat,” kata Wahyudin yang pernah menjabat Kepala BPS NTB 2013-2016.

Wahyudin juga menyebutkan reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor terbanyak di Aceh Utara, yakni 10,87 persen, diikuti Bireuen dan Pidie masing-masing 8,02 persen.

Adapun aktivitas ekonomi kedua terbanyak dijalankan di Aceh adalah industri pengolahan, yakni 87.244 usaha atau 20,16 persen dan ketiga penyediaan akomodasi dan makan minum 57.476 usaha atau 15,59 persen. Selebihnya 19,43 persen merupakan lapangan usaha lainnya.

Untuk lapangan usaha industri pengolahan juga paling banyak di Aceh Utara, 12,47 persen, diikuti Pidie 11,84 persen, dan Bireuen 10,23 persen. Sementara lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum terbanyak juga di Aceh Utara 11,62 persen, Banda Aceh 8,55 persen, dan Bireuen 8,47 persen.

Wahyudin menyebutkan berdasarkan hasil pendaftaran SE 2016 ada 13 kategori lapangan usaha di Aceh, yaitu pertambangan, energi, pengelolaan air dan limbah, industri pengolahan, konstruksi, perdagangan besar dan eceran reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor, pengangkutan dan pergudangan, penyediaan akomodasi dan makan minum, informasi dan komunikasi, aktivitas keuangan dan asuransi, real estat, jasa perusahaan, pendidikan, aktivitas kesehatan manusia dan aktivitas sosial, dan jasa lainnya.

“Sensus ekonomi merupakan kegiatan pendataan lengkap atas seluruh unit usaha dan perusahaan, kecuali sektor pertanian yang berada dalam batas-batas wilayah suatu negara. Ini merupakan sensus ekonomi keempat yang dilaksanakan, sebelumnya sudah dilaksanakan pada tahun 1986, 1996, dan 2006,” sebutnya.

Tujuan dilaksanakan SE adalah untuk menyajikan data dasar unit usaha diluar usaha pertanian, menyusun peta dan direktori perusahaan usaha menengah besar (UMB) yang lengkap dan terpadu untuk setiap wilayah kabupaten/kota, serta memperoleh populasi UMB dan usaha mikro kecil (UMK) menurut wilayah maupun lapangan usaha.

Hasil SE2016 ini dilaunching oleh Staf Ahli Gubernur Aceh Bidang Perekonomian Keuangan dan Pembangunan Setda Aceh, Ir T Syakur. Menurutnya, data-data tersebut sangat membantu pemerintah dalam rangka mengembangkan potensi-potensi di Aceh sesuai bidang usaha.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah, Banda Aceh, Dr Aliasuddin SE MSi yang menjadi narasumber dalam acara tersebut menyampaikan ada dua bidang ekonomi yang dapat dikembangkan dan menjanjikan di masa depan, yaitu ekonomi kreatif dan ekonomi digital.

“Yang pertama karena ini tren, sekarang dunia mengarah kesana. Kedua, kita tidak bisa harapkan dari industri karena tidak ada investor yang masuk. Maka kita harus cari peluang lain supaya lebih maju,” ujarnya.

Aliasuddin mencontohkan, pariwisata merupakan ekonomi kreatif maka hal itu yang harus dijual. Beberapa yang termasuk ekonomi kreatif yaitu periklanan, arsitektur, design, fashion, film dan audio, penampilan seni, TV dan radio, video dan komputer games, seni kreatif, musik, museum dan lainnya.

“Banda Aceh sudah masuk ke ekonomi kreatif dengan dilaksanakannya festival kopi, festival layang,” demikian kata Aliasuddin yang meraih gelar doktor di Makro Ekonomi Internasional Universitas Putra Malaysia, 2009. (una) (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id