Sukacita Menyambut Ramadhan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Sukacita Menyambut Ramadhan

Sukacita Menyambut Ramadhan
Foto Sukacita Menyambut Ramadhan

SABTU (27/5) besok, umat Islam di seluruh dunia akan memulai menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1438 H. Pada bulan ini, Allah mewajibkan berpuasa di siang hari dan menganjurkan shalat malam (qiyamullail) di malam hari. Di bulan ini pula, Allah akan melipatgandakan setiap amal ibadah hamba-Nya.

Ramadhan, memang bulan paling mulia, paling agung, sehingga semua manusia ingin menyambutnya dengan sukacita dan bermacam cara. Ada yang menyambutnya dengan pawai, membersihkan masjid dan meunasah, serta berbagai kegiatan lain yang akan memberi kenyamanan beribadah selama bulan Ramadhan.

“Jiwa yang terpenuhi dengan keimanan tentu sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri untuk meraih keutamaan serta keberkahan yang yang ada di dalamnya, seperti pengampunan dosa serta mencapai derajat ketaqwaan,” ujar Ustaz Masrul Aidi Lc, Pimpinan Dayah Babul Maghfirah Cot Keu’eung Aceh Besar, saat mengisi pengajian Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI), di Rumoh Aceh Kopi Luwak, Banda Aceh, Rabu (24/5) malam.

Alumnus Al-Azhar Kairo Mesir ini menjelaskan, di Timur Tengah, penyambutan akan datangnya Ramadhan ini sangat terasa. Para pedagang menghias tokonya dengan umbul-umbul dan berbagai pernak-pernih khas Ramadhan. Pemerintah pun memang lampu-lampu hias di jalanan, sehingga malam bulan Ramadhan terasa sangat semarak. “Sukacita menyambut Ramadhan benar-benar ditunjukkan lahir dan batin,” ujarnya.

Sementara di Aceh, kata Ustaz Masrul, penyambutan Ramadhan baru dilakukan oleh kalangan yang terbatas. Misalnya anak-anak SD yang melakukan pawai tarhib (menyambut) Ramadhan, serta beberapa masjid yang “bersolek” untuk memberikan suasana baru dan kenyamanan bagi jamaah yang ingin memperbanyak ibadah di Bulan Mulia ini.

Dalam pengajian bertema “Fiqh Ramadhan”, Ustaz Masrul juga mengingatkan bahwa bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk memperbanyak ibadah, karena pahalanya akan dilipatgandakan. Karena itu tentu akan sia-sia jika selama Ramadhan lebih banyak tidur dan bermalas-malasan.

“Ada banyak diantara kita umat Islam di bulan Ramadhan ini mereka mengira bahwa itu merupakan kesempatan untuk banyak istirahat, sehingga tidak bisa produktif. Ini adalah anggapan keliru, karena Ramadhan itu sesungguhnya bulan perjuangan yang harus terjaganya keseimbangan ibadah yang harus meningkat serta kerja mencari nafkah juga tidak boleh berkurang,” ungkap Masrul Aidi.

Jaga persatuan
Ustaz Masrul Aidi juga menyerukan pentingnya persatuan umat tetap terjaga dalam mengawali puasa, serta persatuan dalam berbagai ibadah di malam hari Ramadhan seperti shalat terawih. “Intinya, perbedaan dalam pelaksanaan ibadah sunat shalat terawih itu jangan sampai menimbulkan perpecahan umat. Persatuan harus tetap diutamakan. Jika perlu dalam satu masjid itu bisa melaksanakan shalat terawih baik yang 8 mupun 20 rakaat itu secara bersamaan. Begitu yang 8 rakaat selesai, yang 20 terus lanjut sampai akhir,” jelasnya.

Dalam pelaksanaan shalat terawih ini, Ustaz Masrul Aidi juga menyarankan jangan sampai dikerjakan secara terburu-buru, ingin cepat selesai dan mengejar waktu tanpa adanya jeda. “Kerjakan shalat terawih ini dengan santai, dengan waktu cukup tersedia. Tidak terburu-buru sehingga membuat ibadah tidak nyaman, sehingga tujuan ibadah itu tidak tercapai karenanya tanpa adanya keikhlasan, dan unsur keterpaksaan lebih dominan,” kata Masrul Aidi.

Ramadhan adalah bulan penuh berkah, karena di dalamnya diturunkan permulaan Alquran. Maka, di bulan ini umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak membaca, memahami, serta mengamalkan ajaran-ajaran dalam Alquran.

Tadarus itu berasal dari kata da-ra-sa yang artinya belajar. Maka, di dalam tadarus tidak saja terkandung pengertian membaca, tetapi juga memahami. “Sementara yang kita praktekkan selama ini, yaitu membaca Alquran pada malam Ramadhan di meunasah atau masjid itu belum level tadarus, tapi masih berada pada level tilawah,” kata Ustaz Masrul Aidi Lc, pimpinan Dayah Babul Maghfirah Cot Keueung, Aceh Besar.

Penjelasan itu disampaikan Ustaz Masrul Aidi saat menanggapi salah seorang penanya pada acara pengajian rutin KWPSI, di Rumoh Aceh Kopi Luwak, Banda Aceh, Rabu (24/5) malam. Masrul Aidi memaparkan, seharusnya jika ingin bertadarus dengan makna sebenarnya, maka harus dipimpin oleh seorang teungku atau ustaz yang menyimak bacaan dan menegur atau mengajarkan jika ada bacaan yang salah. Jika memungkinkan, maka setiap ayat yang dibaca itu dibacakan artinya sehingga bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karenanya, jika tidak ada pembimbing (teungku yang menyimak bacaan), maka sebaiknya bacaan Alquran itu dibaca perlahan, tidak harus menggunakan pengeras suara (mik). “Boleh menghidupkan mik, tapi cukup yang terdengar di dalam masjid saja. Sebab, jika ada bacaan yang salah, maka yang berkewajiban menegur adalah yang di dalam saja. Tapi kalau bacaannya terdengar ke seluruh kampung, maka jika ada bacaan yang salah, orang yang di rumah pun wajib menegur dan memperbaiki kesalahan itu. Jika tidak, maka orang yang tahu kesalahan itu pun ikut berdosa,” ungkap alumni Al-Azhar Kairo ini.

Penceramah kondang ini pun berharap kepada masyarakat dan orang-orang yang memahami ilmu agama agar menyosialisasi tentang pentingnya membaca Alquran dengan benar, sehingga tidak mengganggu atau menyebabkan dosa bagi orang lain. “Di bulan Ramadhan dianjurkan memperbanyak membaca Alquran, kemudian terus belajar agar bacaan Alquran semakin baik. Serta jangan sampai bacaan kita mengganggu orang lain, terlebih lagi gangguan yang bisa menyebabkan dosa orang lain,” ujar Masrul Aidi.(nal) (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id