Ramadhan ‘Tamu Agung’ | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Ramadhan ‘Tamu Agung’

Ramadhan ‘Tamu Agung’
Foto Ramadhan ‘Tamu Agung’

Oleh Agustin Hanafi

BEBERAPA saat lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh berkah yang sangat dirindukan kehadirannya. Ramadhan adalah bulan istimewa, tamu agung, yang selalu menebar kebajikan, rahmat dan ampunan bagi semua insan yang mengharapkan bertemu dengannya, seraya berucap Marhaban Ya Ramadhan.

Kata marhaban berasal dari kata rahb yang berarti “luas atau lapang”, sehingga menggambarkan bahwa tamu yang datang disambut dan diterima dengan dada lapang, penuh kegembiraan, serta dipersiapkan baginya ruangan yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya.

Dengan demikian, orang beriman akan menyambutnya dengan hati gembira serta berpuasa dengan penuh keimanan yang hanya mengharapkan balasan dari Allah, tidak pernah berfikir materialis dan jauh dari kekhawatiran yang akan menimpa dirinya seperti barang dagangannya akan sepi dari pembeli karena dia meyakini betul bahwa Allah Maha Kuasa, tidak pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang berbuat saleh dan akan memberikannya rezeki dengan cara yang tidak disangka-sangka.

Sedangkan arti Ramadhan adalah “membakar” atau “mengasah”. Karena pada bulan ini dosa-dosa manusia pupus, habis terbakar, akibat kesadaran dan amal salehnya. Atau disebut demikian karena bulan tersebut dijadikan sebagai waktu untuk mengasah dan mengasuh jiwa manusia. Karena Ramadhan diibaratkan sebagai tanah subur yang siap ditaburi benih-benih kebajikan yang pada waktunya menuai hasil sesuai dengan benih yang ditanamnya.

Menyambut gembira
Ramadhan mengandung nilai kebaikan yang sungguh luar biasa, sebagaimana diungkapkan dalam hadis Nabi saw, “Sekiranya umatku mengetahui rahasia yang terkandung pada bulan suci Ramadhan, maka niscaya mereka berharap agar sepanjang tahun dijadikan bulan suci Ramadhan.” Karena akan diampuni segala dosa-dosanya dan diberikan pahala yang berlipat, jangankan berpuasa di bulan suci tersebut, orang yang menyambutnya saja dengan hati gembira dan dada yang lapang akan dimasukkan ke dalam surga-Nya.

Maksud bergembira di sini, bukan meluapkannya dengan cara bersenang-senang memburu pantai, tempat rekreasi, dengan mengajak yang bukan mahram-nya yang oleh sebagian anak muda kita disebut “mandi meugang”. Tetapi makna bergembira di sini adalah bersyukur atas anugerah dan karunia Allah Swt karena masih dipertemukan dengan Ramadhan, sehingga memiliki waktu dan kesempatan untuk memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya atas segala dosa, berjanji akan meningkatkan frekuensi serta kualitas ibadah yang lebih baik dari sebelumnya.

Betapa banyak kawan dan kerabat kita yang pada bulan Ramadhan sebelumnya makan sahur dan berbuka puasa bersama kita, tetapi pada Ramadhan kali ini absen, karena ia telah lebih dulu dipanggil menghadap Sang Khaliq. Dengan demikian, dia menyambut dengan sukacita dan melakukan hal-hal yang positif seperti membersihkan rumah, halaman, menyiapkan perlengkapan, dan sarana ibadah, serta tentu saja memiliki program khusus seperti khatam Quran, ber-tadarrus, iktikaf, shalat Tarawih, safari masjid, meningkatkan ibadah sosial, dan lain-lain.

Kalau merujuk praktik baginda Rasulullah saw menjelang Ramadhan tiba, beliau menyampaikan dan mendiskusikannya dengan keluarganya akan keutamaan bulan suci tersebut sehingga keluarga termotivasi untuk beribadah sebanyak-banyaknya. Baginda Rasulullah saw sangat dekat dengan keluarganya, segala sesuatu beliau mulai dari lingkungan keluarga, mendiskusikan dan bermusyawarah dengan keluarga, jadi penghargaan terhadap keluarga begitu penting di mata Rasulullah, beliau tidak memutuskan sesuatu secara sepihak.

Hal ini patut kita contoh bahwa eksistensi sebuah keluarga dalam sebuah kehidupan begitu penting dan tidak boleh diabaikan. Kita berdiskusi dengan sanak keluarga, terlebih ketika memasuki bulan suci Ramadhan seperti ini; membuat program bersama seperti memperbanyak shalat sunnat, bertadarrus, berupaya memahami dan mendalami kandungan Alquran, bermunajat, taubat memohon ampun atas segala dosa-dosa dan lain-lain. Bukan hanya diam seribu bahasa dan ingin beribadah sendirian, seolah-olah hanya ingin masuk surga sendiri tanpa ada inisiatif mengajak pasangan. Sebagaimana yang terlihat secara kasat mata, sebagian suami begitu tekun beribadah, tetapi tidak peduli dan masa bodo terhadap istrinya, begitu juga sebaliknya.

Tidak sedikit juga orang tua yang begitu tekun beribadah tetapi tidak begitu peduli dan cuek terhadap anaknya, bahkan anaknya tidak pernah diperhatikan dan dikontrol apakah benar-benar melaksanakan ibadah mahdah dan kehadirannya ke tempat ibadah benar-benar murni beribadah atau hanya melakukan perbuatan sia-sia seperti main gadget, sibuk dengan WhatsApp, media sosial, selfie di sana sini dan lain sebagainya, yang tidak pernah merasakan manisnya keutamaan Ramadhan sehingga menjadi orang yang merugi.

Menggapai takwa
Mengisi Ramadhan dengan meningkatkan amal ibadah untuk menggapai predikat takwa dengan melakukan shalat sunnah, berinfak dan bersedekah, bukan mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya untuk mempersiapkan keperluan lebaran seperti baju baru, perabot baru, aneka kue, minuman yang berwarna warni dan lain sebagainya. Karena sebagian orang jauh-jauh hari sudah sibuk memikirkan model baju, jilbab, mukena, yang akan dipakai ketika hari raya nanti, sajian apa yang dipersiapkan untuk para tamu, bagaimana bentuk gorden, gelas yang ideal, cat warna apa yang menarik buat pagar rumah, jalan-jalan kemana dan sebagainya. Kalau demikian berarti sungguh kita telah menyia-nyiakan kehadiran Ramadhan tersebut, maka kita termasuk orang yang merugi padahal “tamu agung” tersebut berada di tengah-tengah kita hanya satu bulan.

Kemudian, yang perlu disadari adalah bahwa bulan Ramadhan bulan pengekangangan terhadap hawa nafsu. Dengan demikian, seharusnya kebutuhan, belanja dan pengeluaran kita lebih hemat dan lebih irit dari bulan yang lain sehingga merasakan kesulitan dan penderitaan orang lemah sehingga muncul sikap sosial, dan toleransi untuk membantu dan mengurangi beban mereka, namun kenyataannya kebutuhan orang di bulan Ramadhan jauh lebih tinggi dan meningkat dari bulan yang lain, maka masih layakkah dia disebut sebagai shaim yang benar-benar mengekang hawa nafsunya?

Kemudian Ramadhan hanya sekali dalam setahun, maka jangan pernah menjadikannya hanya sebatas rutinitas dan sekadar untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi tempalah jasmani dan rohani, untuk menjadikan hidup bermanfaat. Dengan menunaikan amanah penuh tanggung jawab, menahan diri dari mencerca dan berkata-kata yang mubazir, tahanlah nafsu dari keserakahan, tamak, rakus, sombong, iri hati, emosi dan berbagai sifat atau nafsu angkara murka, bukankah Rasulullah telah mengingatkan, “Sekian banyak orang-orang yang berpuasa tetapi tidak memperoleh hasil apapun dari puasanya kecuali hanya lapar dan dahaga.” Wallahu a`lam bi al-shawab.

* Dr. H. Agustin Hanafi, MA., Dosen Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, dan anggota Ikatan Alumni Timur Tengah (Ikat) Aceh. Email: [email protected] (uri/atih/artanto/RH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id