5 Algojo Cambuk Pasangan Homo | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

5 Algojo Cambuk Pasangan Homo

5 Algojo Cambuk Pasangan Homo
Foto 5 Algojo Cambuk Pasangan Homo

BANDA ACEH – Pasangan liwath (homoseksual) yang ditangkap warga akhir Maret lalu di sebuah rumah kos di Banda Aceh, menjalani hukuman cambuk di halaman Masjid Syuhada, Desa Lamgugop, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, Selasa (23/5). Pasangan sesama jenis ini dicambuk masing-masing 82 kali oleh lima algojo secara bergantian.

Pasangan homo tersebut adalah MT (23) dan MH (20). Sebagaimana diberitakan, keduanya ditangkap warga di rumah kos di Desa Rukoh, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, Selasa, 28 Maret 2017. Karena terbukti melakukan jarimah liwath MT, warga Sumatera Utara dan MH, warga Bireuen, itu dijatuhi hukuman oleh hakim Mahkamah Syari’ah Banda Aceh sebanyak 85 kali cambuk di muka umum, dikurangi masa tahanan, sehingga mereka hanya dicambuk 82 kali per orang.

Kemarin, uqubat cambuk disaksikan oleh ribuan warga. Amatan Serambi, warga ramai-ramai memadati halaman Masjid Syuhada. Bisa dikatakan, warga yang hadir menyaksikan uqubat cambuk kemarin lebih ramai dibandingkan prosesi uqubat cambuk sebelumnya. Ini kali pertama pasangan sejenis dicambuk setelah diberlakukannya Qanun Jinayah di Aceh pada tahun 2015. Warga yang hadir memang ingin melihat secara langsung uqubat cambuk bagi pasangan sejenis tersebut.

“Kami imbau bagi warga yang sudah hadir, agar tidak bercampur antara laki-laki dan perempuan. Bagi yang membawa anak-anak, silakan dibawa pulang, kita tidak akan memulai uqubat cambuk ini kalau masih ada anak-anak di bawah umur di arena masjid,” kata salah seorang pria berseragam Satpol PP WH melalui pelantang suara (mik).

Seperti biasa, eksekusi cambuk kemarin juga dihelat di atas panggung berukuran sekitar 4×4 meter empat yang ditutupi terpal dan beralaskan karpet merah. Warga yang tumpah ruah datang ke Masjid Lamgugop, berdiri di luar pagar pembatas menyaksikan langsung prosesi tersebut.

Selain MH dan MT, dalam uqubat kemarin, Kejari Banda Aceh juga mengeksekusi empat pasangan jarimah ikhtilat (bercumbu).

Pasangan homoseksual itu dieksekusi paling terakhir, setelah empat pasangan ikhtilat dicambuk oleh algojo. MT, terpidana homo pertama yang naik ke atas pentas menghadap sang algojo. Ia tampak pasrah saat diboyong petugas. “Huuu, huuuu, nyan lagoe ureung jih/Itu rupanya orangnya,” teriak warga. MT berlalu ke atas panggung sambil menutup wajahnya dengan tangan, disusul tiga algojo setelahnya yang juga ikut naik ke atas pentas.

“Algojo, siaaap?” tanya pria berseragam Satpol PP WH melalui pelantang suara. Ia menanyakan kesiapan sang algojo pertama untuk mengayunkan rotan ke tubuh MT. Algojo yang berdiri tegap hanya menjawab kecil, sedangkan seribuan warga di depan panggung, berteriak serentak “siaaaap”, lalu ayunan rotan pun mendera punggung MT.

MT dieksekusi oleh tiga algojo. Para eksekutor ini diganti setiap kelipatan hitungan tertentu. MT yang menahan sakitnya deraan rotan ke punggungnya hanya bisa menunduk. “Beuteuga lom, seupot laju/Lebih kuat lagi, cambuk terus,” teriak seseorang di depan panggung.

Pada hitungan ke-40, petugas juga sempat memberi minum MT, kemudian cambuk dilanjutkan hingga tuntas 82 kali.

Setelah itu, giliran MH yang diboyong ke atas pentas. Sama seperti MT, MH pun diteriaki macam-macam oleh warga yang menyaksikan. MH dieksekusi oleh dua algojo. Eksekutor pertama bertugas hingga cambukan ke-40, sedangkan algojo kedua hingga cambukan terakhir. MH juga sempat diberi minum oleh petugas saat cambukan ke-40.

Amatan Serambi, MT dan MH sama sekali tidak melawan saat para algojo menghunuskan rotan ke tubuh mereka. Seusai menjalani hukuman, keduanya langsung dimasukkan ke ruangan tertutup hingga akhirnya diejmput oleh keluarga masing-masing.

Prosesi uqubat cambuk kemarin, berlangsung aman dan lancar. Pihak kepolisian juga mengawal ketat jalannya eksekusi. Sejumlah wartawan, baik lokal, nasional, dan internasional turut hadir meliput prosesi cambuk bagi pasangan homo yang pertama sekali dicambuk di Aceh.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan WH Banda Aceh), Yusnardi, seusai eksekusi mengatakan, pasangan sesama jenis itu ditangkap warga di Desa Rukoh, Darussalam, Banda Aceh pada 28 Maret lalu. Keduanya kemudian diserahkan ke Satpol PP dan WH Aceh untuk diproses hukum. “Keduanya telah disidang sebanyak dua kali dan kemudian divonis 85 kali cambuk. Hukuman cambuk hampir setiap bulan ada, tapi untuk kasus liwath ini baru pertama kali, mereka sudah cukup bukti dan unsur melanggar Qanun Jinayah,” kata Yusnardi.

Ia sebutkan, MT dan MH terbukti melanggar Pasal 63 ayat (1) Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayah dengan hukuman paling banyak 100 kali cambuk atau denda paling banyak 1.000 gram emas murni, atau penjara paling lama 100 bulan. (dan) (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id