Enam Nelayan Dieksekusi ke LP | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Enam Nelayan Dieksekusi ke LP

Enam Nelayan Dieksekusi ke LP
Foto Enam Nelayan Dieksekusi ke LP

MEULABOH – Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Barat, Selasa (23/5) mengeksekusi enam nelayan Aceh Barat ke Lembaga Permasyarakatan (LP) Meulaboh untuk menjalani masa hukuman. Enam terpidana dihukum masing-masing 2 bulan penjara dan denda Rp 500 ribu subsidair 1 bulan kurungan dalam perkara penggunaan alat tangkap trawl (pukat harimau).

Eksekusi dilakukan setelah terpidana dan JPU menyatakan menerima vonis hakim Pengadilan Negeri (PN) Meulaboh pada sidang penutup Jumat (19/5) lalu. Enam terpidana yang merupakan nelayan Aceh Barat tersebut yakni M Mizar (34), Aliman (52), Erfin (36), Baktiar (37), Yuli Saputra (31) dan M Din (56). “Keenam tervonis hari ini (kemarin) kita eksekusi ke LP,” kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Aceh Barat, Dedek Sumarta Suir SH kepada Serambi kemarin.

Sementara itu Penasehat Hukum (PH) keenam terpidana dari LBH Banda Aceh Pos Meulaboh Herman SH secara terpisah kemarin mengatakan perkara enam nelayan tersebut sudah berkekuatan hukum tetap.

Dikatakannya pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan LP Meulaboh tempat selama ini para terpidana ditahan. Sementara itu berdasarkan laporan keenam terdakwa akan dibebaskan dari LP pada 25 Mei 2017. “Harapan kita setelah bebas, mereka dapat kembali berkumpul dengan keluargannya,” kata Herman.

Sementara itu dalam sidang terpisah Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Aceh Barat menuntut dua terdakwa Edi Ratna (54) dan Frandrik (26) sebagai Komisaris Utama dan Direktur Utama PT Rezeki Sungaimas masing-masing delapan bulan penjara dan denda Rp 50 juta subsidair 3 bulan kurungan dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Meulaboh, Jumat (19/5).

Terdakwa dijerat dengan Undang-undang (UU) Keimigrasian karena mempekerjakan lima warga negara asing (WNA) asal Tiongkok dan Malaysia secara ilegal. Sidang diketuai Said Hasan SH dan hakim anggota M Tahir SH dan M Al-Qudri SH. Sementara JPU Dedek Sumarta Suir SH. Dua terdakwa Edi dan Fandrik yang merupakan ayah dan anak itu duduk di kursi pesakitan. JPU menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan perbuatan pidana sebagaimana Pasal 122 huruf b UU Nomor 6/2011 tentang Keimigrasian.

Selain dituntut masing-masing delapan bulan penjara denda Rp 50 juta subsidair 3 bulan kurungan, keduanya juga tetap ditahan. Kedua terdakwa dalam kesempatan pembelaan secara lisan menyampaikan harapan kepada majelis hakim agar memberi keringanan hukuman. Bahkan mereka menyatakan tidak akan mengulangi lagi perbuatan tersebut ke depan. Hakim kembali melanjutkan sidang pada 29 Mei 2017 dengan agenda pembacaan vonis.(riz) (uri/atih/artanto/RH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id