Sprit dan Pesan Moral Meugang | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Sprit dan Pesan Moral Meugang

Sprit dan Pesan Moral Meugang
Foto Sprit dan Pesan Moral Meugang

Oleh Adnan

MEUGANG atau makmeugang merupakan satu tradisi dalam kultur masyarakat Aceh untuk menyambut bulan puasa Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, dan Idul Adha. Yaitu sebuah rangkaian tradisi memobilisasi masyarakat Aceh menuju pasar rakyat untuk membeli daging. Daging itu kemudian diolah dan dimasak di rumah masing-masing, serta disantap bersama keluarga.

Konon, tradisi unik ini sudah ada sejak abad ke-14 M dan diperingati serentak sejak masa Kerajaan Aceh Darussalam periode Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Bahkan ketika itu, pelaksanaan meugang instruksi langsung dari kerajaan.

Sebab itu, hingga saat ini masyarakat Aceh masih membumikan tradisi meugang tersebut. Ini menunjukkan Aceh sebagai daerah yang eksis dan mampu merawat dan melestarikan tradisi endatu. Sebab, keberadaan tradisi dalam khazanah kebudayaan masyarakat Aceh tidak pernah terpisahkan; Adat bak po teumeureuhom, hukum bak syiah kuala, qanun bak putroe phang, reusam bak laksamana.

Bahkan bagi masyarakat Aceh merawat dan melestarikan tradisi merupakan sebuah keharusan; Mate aneuk meupat jrat mate adat hana pat tamita. Peribahasa Aceh ini memberikan filosofi penting dalam merawat dan melestarikan tradisi endatu. Sebab, jika tradisi tidak dirawat dan dilestarikan dengan baik, maka dipastikan tradisi tersebut akan punah. Sehingga menghilangkan identitas diri masyarakat Aceh di masa mendatang.

Sebab itu, berbagai tradisi di Aceh terus dipelihara dan dilestarikan keberadaannya sebagai bentuk penghormatan kepada endatu. Bahkan kini, tradisi dapat menjadi medium dakwah kultural dalam menyebarkan Islam kepada masyarakat. Beberapa tradisi yang masih terpelihara dan menjadi medium dakwah, semisal peusijuek, khanduri blang, khanduri laot, khanduri jrat, peutroen aneuk, madeung, dan termasuk meugang setiap menjelang Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha.

Karena itu, tradisi bukan hanya sekadar kegiatan ritual yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok masyarakat. Tapi, tradisi memiliki nilai (value), pesan moral, filosofi, dan spirit yang penting dalam hidup bermasyarakat. Sebab itu, sebuah tradisi merupakan identitas suatu masyarakat. Artinya, ketika sebuah tradisi hilang, maka akan menghilangkan identitas masyarakat setempat.

Pesan moral
Pun tradisi meugang, hendaknya tradisi ini tidak sekadar menjadi hajatan tiap menjelang bulan Ramadhan dan hari raya saja. Tapi, harus membumikan spirit dan pesan-pesan moral yang dikandungnya. Berikut beberapa pesan moral yang dapat dipetik dari tradisi meugang, di antaranya: Pertama, rindu dengan kehadiran Ramadhan. Ramadhan merupakan bulan suci yang dirindukan oleh seluruh umat Islam di dunia. Sebab, bulan Ramadhan memiliki berbagai keistimewaan dan kelebihan (fadhilah) yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lain.

Sebab itu, masyarakat Aceh sebagai bagian dari umat Islam yang rindu dengan kehadiran Ramadhan menyambut dengan sukacita dan penuh gembira. Di antara bentuk penyambutan tersebut dilaksanakan tradisi meugang. Sebab, dulu ketika endatu Aceh membeli daging ke pasar, tidak semuanya diolah dan dimakan hari itu juga, tapi mereka menyimpan sebagian daging tersebut untuk kebutuhan berpuasa, baik untuk makanan berbuka atau sahur.

Karena itu, dikenal istilah sie thoe, yaitu daging yang dikeringkan, disimpan dan dimasak sedikit demi sedikit sesuai dengan kebutuhan selama melaksanakan puasa Ramadhan. Dengan demikian, ketika masyarakat Aceh memiliki sie thoe, maka akan mudah, nyaman, dan fokus melaksanakan ibadah puasa. Tidak lagi sibuk memikirkan kebutuhan rumah tangga ketika melaksanakan ibadah puasa. Sebab, bagi masyarakat Aceh beribadah itu harus fokus, nyaman, dan tidak boleh terganggu dengan duniawi.

Dengan demikian, meugang menjadi bukti kebahagiaan endatu dalam menyambut kehadiran bulan Ramadhan. Pesan profetik; barang siapa yang senang dan gembira dengan datangnya Ramadhan, maka diharamkan jasad atau tubuhnya disentuh api neraka. Sebab itu, meugang merupakan satu bentuk kegembiraan masyarakat Aceh dalam menyambut bulan suci Ramadhan yang penuh rahmat, ampunan, dan bebas dari api neraka. Karena itu, hendaknya meugang dimaknai sebagai bentuk kegembiraan menyambut bulan suci Ramadhan. Marhaban ya Ramadhan.

Kedua, medium mempererat silaturrahmi keluarga. Meugang merupakan sebuah tradisi yang dilaksanakan serentak bersama-sama. Seluruh anggota keluarga berkumpul pada satu titik, semisal di rumah orang tua, untuk melaksanakan tradisi meugang. Karena itu, dikenal berbagai ungkapan populer di masyarakat, semisal; nyan beuk tuwoe kawoe bak makmeugang (jangan lupa pulang ketika hari meugang). Ini menunjukkan bahwa meugang merupakan momentum berkumpul setiap anggota keluarga sebelum melaksanakan ibadah puasa.

Sebab itu, dari tradisi meugang ini muncullah interaksi antarkeluarga, sehingga mempererat hubungan silaturrahmi dan harmonisasi keluarga. Tradisi meugang telah memberikan kontribusi positif dalam menyatukan dan mempererat harmonisasi keluarga. Biasanya masing-masing anggota keluarga sibuk dengan pekerjaan yang digeluti, tinggal jauh dari kampung halaman, dan merantau ke negeri seberang. Tapi, hari meugang menyatukan mereka dengan penuh kebahagiaan, kebersahajaan, dan kemuliaan.

Ketiga, melatih kepekaan sosial. Meskipun meugang merupakan satu tradisi yang dilaksanakan di Aceh. Tapi, tidak semua masyarakat Aceh memiliki ekonomi mapan untuk membeli sejumlah daging di hari meugang. Mereka yang tergolong mustadz’afin, anak yatim, fakir miskin, dan kaum marginal, tentu tidak memiliki dana/uang untuk memenuhi kebutuhan daging di hari meugang.

Dari sana diharapkan muncul kepekaan sosial masyarakat yang memiliki kemampuan dan kemapanan, serta pemerintah untuk menyuplai daging meugang kepada kaum papa tersebut. Konon, dulu, Sultan Iskandar Muda juga membagi-bagikan daging kepada fakir miskin di hari meugang. Ini mengajarkan kepada anak cucu, bahwa jangan sampai keluarga kita makan daging sepuas-puasnya, tapi tidak peka dengan tetangga mustadz’afin di samping rumah.

Sebab itu, tradisi meugang diharapkan mampu melatih kepekaan sosial sesama masyarakat Aceh untuk saling menolong, membantu, dan berbagi. Sehingga dari sana muncullah kerukunan dan keguyuban dalam lingkungan sosial. Sebab, rukun dan guyub harus terus dipupuk sesama anggota masyarakat, di antaranya dengan berbagi daging meugang kepada masyarakat tidak mampu. Agar semua masyarakat lintas profesi dan status sosial dapat menikmati daging di hari meugang bersama keluarga mereka.

Keempat, menjaga harga diri. Meugang merupakan hari mempertaruhkan harga diri bagi setiap keluarga. Pantang ada keluarga yang tidak masak daging di hari meugang, karena menyangkut harga diri keluarga di lingkungan sosial. Bahkan untuk menyambut hari meugang, biasanya setiap keluarga sudah jauh-jauh hari mempersiapkan dana/uang untuk membeli kebutuhan daging di hari meugang. Meskipun mereka tidak mampu secara finansial, namun sekilo daging harus mereka masak di hari meugang. Karena itu, setiap keluarga akan bekerja habis-habisan untuk mencari uang agar bisa membeli sekilo daging pada hari meugang, guna disantap bersama keluarga.

Dan, kelima, balas budi. Meugang juga bentuk balas budi seorang anak kepada orang tua. Anak yang sudah bekerja, mereka membeli daging kepada orang tua di hari meugang. Sebab itu, meugang juga akan menjadi momen haru-biru antara anak dengan orang tua. Meskipun anak tidak pernah mengirimkan uang dari perantauan kepada orang tua, tapi pantang untuk tidak membawa pulang daging di hari meugang.

Itulah lima pesan moral tradisi meugang yang harus dibumikan masyarakat Aceh. Biarkan ritual meugang bergeser dari pasar daging tradisional ke mal-mal megah, tapi pesan-pesan moral meugang tidak boleh pudar ditelan masa. Semoga!

* Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: [email protected] (uri/inaldy/eryance/RG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id