Rumah Potong Hewan jangan Berbau Busuk | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Rumah Potong Hewan jangan Berbau Busuk

Rumah Potong Hewan jangan Berbau Busuk
Foto Rumah Potong Hewan jangan Berbau Busuk

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) milik UPTD Rumah Potong Hewan (RPH) Banda Aceh di Gampong Pandee, ternyata sudah dua tahun tersumbat. Dan, selama itu bau busuk dihirup masyarakat sekitar. Untuk menanggulanginya, selama ini limbah darah dan kotoran hewan di dalam fasilitas berbentuk septic tank itu disedot setiap hari, dan disalurkan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gampong Jawa. “Kami berharap segera diperbaiki. Apalagi saat hujan begini, bau busuknya luar biasa,” ujar Ketua Komisi B DPRK Banda Aceh, Aiyub Bukhari.

Wakil rakyat ini mendesak Pemko Banda Aceh untuk secepatnya memperbaiki IPAL rumah potong hewan yang sumbat itu. “Ini harus menjadi prioritas pemerintah kota maupun provinsi untuk membenahinya. Sebab, kerusakan fasilitas itu dapat berpengaruh pada kesehatan hewan maupun masyarakat di sekitar RPH.”

Ya, pertama kita sepakati dulu bahwa limbah dari rumah potiong hoewan itu memang harus dikelola secara tepat. Sebab, pengelolaan limbah yang tak tepat, bisa berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat dan makhluk hidup di sekitarnya.

Syarat minimal rumah potong hewan, menurut Permentan No 60/2010 antara lain sebagai berikut. Pertama, lokasi RPH haruslah strategis. Yang dimaksud dengan strategis adalah tidak berada di tempat yang rawan banjir, tercemar asap, bau. Lokasi RPH tentunya juga tidak boleh menimbulkan gangguan atau pencemaran di lingkugan sekitarnya, mempunyai akses yang bersih. Kemudian, harus berada di tempat yang jauh dari industri logam dan kimia untuk menghindari pencemaran terhadap daging.

Kedua, RPH harus memiliki akses jalan yang baik, sumber air yang memenuhi syarat air bersih, sumber listrik yang cukup dan terus-menerus, serta adanya fasilitas penanganan limbah, baik limbah padat maupun limbah cair.

RPH yang baik terdiri dari bangunan utama, kandang penampungan, kandang isolasi, ruang pendingin, fasilitas pemusnahan bangkai, serta sarana untuk menangani limbah.

Ada ketentuan penting, yakni RPH harus memiliki dua bagian area yakni area bersih dan area kotor. Daerah kotor meliputi ruang pemingsanan, pemotongan, pengeluaran darah, dan beberapa ruangan untuk meletakkan bagian-bagian tubuh pemotongan, sedangkan daerah bersih meliputi daerah pemeriksaan dan penimbangan.

Tapi, fakta yang ada selama ini, hampir semua rumah potong hewan di Aceh tak memenuhi standar itu. Malah, keberadaan RPH di banyak daerah sangat dikeluhkan oleh masyarakat. Selain bikin kotor juga menimbulkan bau busuk yang sangat mengganggu.

Oleh karenanya, kita berharap, bukan hanya Pemko Banda Aceh, tapi juga Pemko dan Pemkab lainnya di Aceh perlu memperhatikan kondisi RPH-nya. Apalagi, dalam dua hari ini aktivitas di setiap akan RPH sangat meningkat berkaitan dengan pemotongan hewan meugang. (uri/ilati/sra/MU)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id