Instalasi Limbah RPH Tersumbat | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Instalasi Limbah RPH Tersumbat

Instalasi Limbah RPH Tersumbat
Foto Instalasi Limbah RPH Tersumbat

* Dewan: Harus Segera Diperbaiki

BANDA ACEH – Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) milik UPTD Rumah Potong Hewan (RPH) Banda Aceh di Gampong Pandee, tersumbat sejak dua tahun terakhir. Sehingga limbah darah dan kotoran hewan di dalam fasilitas berbentuk septic tank itu harus disedot setiap hari, dan disalurkan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gampong Jawa.

“Kami berharap agar IPAL di RPH ini segera diperbaiki. Apalagi saat hujan begini, RPH mengeluarkan bau tidak sedap,” ujar Ketua Komisi B DPRK Banda Aceh, Aiyub Bukhari, ketika meninjau RPH Gampong Pandee, Senin (22/5).

Dalam kunjungan itu Aiyub Bukhari juga didampingi Sekretaris Askari, serta tiga anggota yaitu Razali Ismail, Syarifah Munirah, dan Arida Syahputra.

Menurut Aiyub, IPAL di RPH harus menjadi prioritas pemerintah kota maupun provinsi untuk dibenahi. Sebab, rusaknya fasilitas itu dapat berpengaruh pada kesehatan hewan maupun masyarakat di sekitar RPH.

Aiyub menambahkan, kebersihan tempat penyimpanan serta ruang pemotongan sapi juga perlu ditingkatkan. Karena di provinsi yang menerapkan Syariat Islam, kehalalan dan kebersihan produk harus menjadi keharusan. “Produk yang dihasilkan harus halalan tayyiban. Kami harap pengelola RPH bisa membenahi masalah kebersihan ini,” jelasnya.

Amatan Serambi, ruang pemotongan hewan di kompleks Dinas Pangan Pertanian Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Banda Aceh itu juga menebar bau busuk. Bahkan bau tersebut sudah tercium puluhan meter sebelum rombongan masuk ke fasilitas itu. Selain itu, lantai dan dinding ruangan juga berflek kecoklatan. Begitu juga dengan alat potong sapi (Restraining Box) yang jorok dan berkarat.

Sekertaris DPPKP Banda Aceh, Ir Bahagia mengatakan, IPAL di RPH bermasalah akibat posisinya yang sudah lebih rendah dari pemukiman warga. “Kondisi ini menyebabkan IPAL cepat penuh karena berisi banyak air. Sehingga petugas harus menyedotnya setiap hari,” kata Bahagia.

Menurutnya, kondisi itu semakin parah pada saat meugang, di mana aktivitas memotong sapi tinggi dan menghasilkan limbah yang lebih banyak pula. Diakuinya sudah mengusul anggaran perbaikan Rp 1,4 miliar lewat Dana Otsus ke Bappeda Kota.

Sementara itu, Penanggungjawab UPTD RPH Kota Banda Aceh, Roni mengatakan, fasilitas tersebut sulit dibersihkan karena terbatasnya petugas kebersihan. Dua petugas kebersihan menurutnya tidak cukup untuk meng-cover seluruh areal itu. “Kami berharap ada penambahan petugas, agar kebersihan RPH lebih optimal,” katanya.

Dia juga mengungkapkan bahwa IPAL rumah potong itu hanya berfungsi sebagai tempat penampung limbah sementara. “Saringan IPAL tidak berfungsi baik. Maka dari itu air hasil penyaringan kotor dan tidak bisa dialirkan lagi ke parit sekitar,” ujar Roni, dan mengaku sering dikomplain warga terkait bau busuk dari RPH.(fit) (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id