Ke Desa Dah, ‘Terpental’ ke Masa Lalu | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Ke Desa Dah, ‘Terpental’ ke Masa Lalu

Ke Desa Dah, ‘Terpental’ ke Masa Lalu
Foto Ke Desa Dah, ‘Terpental’ ke Masa Lalu

“BELUM merdeka daerah kami bang,” tulis Muhammad Yamin melalui layanan pesan instan WhatsApp yang diterima Serambi, dua hari lalu. “Masih naik rakit untuk mencapai Desa Dah,” lanjut Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Aceh tersebut.

Dah merupakan salah satu desa di Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam. Ruas jalan ke desa itu lumayan mulus, beraspal, sebagian saja yang sudah mulai rusak. Jarak dari ibu kota di Subulussalam sekitar 26 kilometer. Menggunakan sepeda motor dengan kecepatan rata-rata 70 km/jam butuh waktu 40 menit dari ibu kota Subulussalam.

Jika mengacu pada laporan Yamin, sebenarnya tidak sulit untuk mencapai Dah, bahkan termasuk lancar. Tapi, itu tadi, ketika kendaraan sedang meluncur di jalanan mulus tiba-tiba pengendaranya seperti memasuki lorong waktu dan ‘terpental’ ke masa lalu–ke sebuah era di mana rakit kayu masih mejadi alat penyeberangan.

Ya, sebuah rakit kayu dengan menggandengkan dua buah sampan berukuran sekitar 3 meter kali 50 cm dibangun oleh masyarakat sebagai alat penyeberangan di sungai seluas lebih kurang 50 meter itu. Lantai rakit seluas 2,5×2,5 meter hanya bisa memuat tiga unit sepeda motor untuk sekali menyeberang. Rakit digerakkan dengan sebuah mesin merek Honda seukuran mesin kukur kelapa.

Tarif yang ditetapkan oleh pengelola rakit terbilang sangat ekonomis yaitu Rp 5.000 sekali menyeberang untuk satu unit kendaraan. “Yang dihitung kendaraan bukan jumlah orang yang mengendarai kendaraan. Artinya, tarif berdasarkan unit kendaraan bukan jumlah orang,” kata Yamin.

Menurut Yamin, air sungai deras dan sering banjir hingga ke permukiman penduduk. Dah dan desa sekitarnya sering mendapat banjir kiriman jika hujan mengguyur Aceh Tenggara karena hulu sungai ini dari Sungai Alas.

Sebenarnya ada pembangunan jembatan yang sudah dimulai sejak tiga tahun lalu. Namun hingga saat ini masih berbentuk tiang penyangga yang sudah dibeton. Terbengkalai.

Yamin mengutip pengakuan Ibu Bolot yang tinggal persis di pinggir sungai dekat proyek jembatan yang tak kunjung jadi itu. Ibu Bolot mengatakan ke Yamin, balok dan tiang jembatan dibangun setahun sekali, sehingga dalam dua tahun ini sudah ada dua tumpuk tiang penyangga yang tidak dilanjutkan pekerjaannya. Sebuah proses yang tampaknya begitu sulit untuk bisa ke luar dari jeratan masa lalu.(nasir nurdin) (uri/itri/elmeizar/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id