Kopi Gayo, Menjaga Mantra dari Kepunahan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kopi Gayo, Menjaga Mantra dari Kepunahan

Kopi Gayo, Menjaga Mantra dari Kepunahan
Foto Kopi Gayo, Menjaga Mantra dari Kepunahan

Oleh Muslahuddin Daud

PERUBAHAN iklim dan pemanasan global menjadi momok tak terhindarkan seiring dengan umur bumi yang semakin tua. Tak hanya manusia dan hewan yang merasakan dampaknya, tapi juga tanaman. Pemanasan global yang kemudian memunculkan berbagai perdebatan dari kalangan petani, akademisi, peneliti hingga pengusaha dunia pertanian. Pro-kontra ini tentunya dilandasi pada temuan fakta (evidence based findings).

Penulis mencoba menelusuri dampak dari pemanasan global ini pada satu komoditi andalan Aceh, yaitu Kopi Arabica Gayo. Tulisan ini adalah warning ketiga dari penulis dalam bentuk tulisan dan seminar Internasional kopi specialty, yang digelar setahun lalu di Takengon, Aceh Tengah.

Para peneliti di Eropa memprediksikan kopi arabika dunia bakal punah, extinction period pada 2070-2085. Dari berbagai sumber informasi, ditambah dengan observasi lapangan, fakta menunjukkan bahwa Kopi Arabica Gayo produksinya menurun hingga 50% dalam lima tahun terakhir. Meski data prediksi ini masih dalam perdebatan, namun kegelisahan soal penurunan produksi ini sudah sangat masif, mulai dari informasi dari media sosial hingga pengakuan petani dalam berbagai seminar dan diskusi. Bahkan Dr Herman Maulana, Peneliti TAC (Tropical Agriculture Centre) berani mengeluarkan wacana, bahwa kopi Gayo tidak akan mampu bertahan sampai 2070-2085. Paling lama hanya bertahan sampai 2030.

Ekstremnya kondisi kopi Gayo memiliki dasar analisis yang cukup kuat, Dr Maulana mendeskripsikan bahwa kenaikan suhu bumi di sekitar Gayo lebih dari 1º C, dan ketika menjelang 2030, suhu diperkirakan akan meningkat 2º C dari sekarang. Artinya produksi kopi saat ini yang tinggal 32,5%-56%, akan terjun bebas, tersisa tidak lebih dari 10% dari lima tahun lalu. Kalau lima tahun lalu produktivitas antara 600-1.000 kg/ha, pada 2030 nanti produksi kopi Gayo hanya akan bertahan tidak lebih dari 100-300 kg/ha/tahun.

Dengan kondisi produksi kopi Gayo di bawah 100 kg/ha, pada 2030, secara sosial ekonomi petani akan meninggalkan kopi sebagai bentuk usaha tani yang menguntungkan. Kondisi ini telah terlebih dulu dialami oleh petani kakao, di mana 10 tahun lalu, rata-rata Nasional produksi Kakao sekitar 700 kg/ha, namun dalam lima tahun terakhir tidak lebih dari 320 kg, sehingga produksi kakao Nasional terjun bebas dari 780.000 ton dalam kurun waktu 2007-2012, menjadi 310.000 ton/tahun pada 2017 .

Andaikan pada 2030, harga kopi Gayo menjadi USD 10 dolar AS/kg, maka pendapatan petani per KK yang punya rata-rata 1 ha, adalah 1.000 dolar/tahun, setara Rp 13,5 juta/tahun. Dengan jumlah jiwa per KK rata-rata 4 orang, berarti tiap jiwa atau orang berpendapatan 250 dolar AS/tahun. Artinya tiap orang hanya mempunyai kemampuan belanja 0,685 dolar. Dengan standar Bank Dunia batas miskin adalah 2 dolar/jiwa/hari, berarti petani Kopi Gayo sudah sangat miskin. Dalam kondisi ini, Kopi Gayo akan sulit mejadi sumber ekonomi keluarga.

Jangan sampai punah
Secara sosio-kultural, masyarakat yang gagal mempertahankan keberlangsungan ekonominya akan meninggalkan wilayah sentra produksi yang berujung pada pengabaian dunia secara ekonomi yang sudah tidak lagi memberikan harapan. Mereka akan mencari harapan baru di kota. Pada saat inilah kopi Gayo secara sosial-kultur punah. Seiring dengan terjadinya regenerasi, persentase penduduk yang memilih budidaya kopi juga akan semakin minim.

Bayangkan, dunia, Indonesia, dan Aceh tanpa kopi Gayo. Warung-warung yang menggantungkan harapan pada tanaman itu pun akan berimbas. Solusi tentu ada, membuat kopi Gayo tetap ada di meja, menjadi teman bergadang saat Anda membutuhkannya.

Ada dua peta jalan menuju ke sana: Pertama, harga yang tinggi, kalau kopi Gayo dapat bernilai 30 dolar/kg (sekitar Rp 400.000/kg. Pelaku usaha tani kopi Gayo akan mempunyai daya beli lebih dari 2 dolar AS/hari, tetapi apa mungkin padaa 2030 kopi Gayo berharga 30 dolar/kg? Seiring degan berkembangnya teknologi budidaya di Vietnam dan Amerika Latin, harga itu akan sulit disentuh. Kedua, adalah mempertahankan produktivitas kopi Gayo pada masa lalu, minimal 1 ton/ha, dengan harga 10 dolar/kg (setara Rp 130.000) petani akan mempunyai kemampuan pengeluaran 6,85 dolar/hari. Petani kopi Gayo akan naik ke kelas ekonomi menengah.

Bagaimana kondisi terkini kopi Gayo? Seorang eksportir kopi Gayo, Hadi Syahrizal yang juga Ketua Koperasi Arisarina menyatakan, keluh kesah dari para pekerja borongan pengupas gabah Kopi Gayo. Para pengupas gabah kopi, katanya, pendapatan meraka tahun ini turun lebih dari 50% dibandingkan tahun lalu. Ini artinya produksi tahun ini turun lebih dari 50% dari tahun lalu. Tahun ini harusnya ada panen raya lagi pada bulan April, tetapi buah yang awalnya bagus mengalami kekeringan, jadi hitam dan pematangan dini jadi kuning dan rontok, ada yang matang tidak sempurna menjadi biji kompong.

Persentase seperti ini sangat banyak, ketika penulis melakukan konfirmasi silang dengan pejabat daerah, ada yang mengakui produksi meningkat namun ada pula secara jujur mengakui penurunan produksi yang cukup signifkan. Saat ini, dapat dipastikan bahwa persentase wilayah produksi yang banyak cukup sedikit, hanya ada beberapa titik terpencar dengan petani telaten yang melakukan perawatan intensif dan kondisi tanah yang sangat subur.

Dr Maulana berpendapat, kondisi riil kopi Gayo saat ini mengalami wilting (layu) buah dan pematangan dini karena respirasi daun yang berlebihan dan terjadi akumulasi panas. Respirasi menyebabkan C (Carbon) yang terfiksasi jadi bahan organik kembali teroksidasi jadi CO2 yang menguap. Selain itu, tanaman mengalami malnutrisi karena maintenance (pemeliharaan) yang keliru. Daun mengalami penuaan dini mirip karat daun, rontok lebih cepat, buah kehabisan deposit makanan, kering dan jatuh. Sama dengan tamsil manusia di Somalia yang mengalami musibah kelaparan pada 1980-an.

Agar mampu bertahan
Bagaimana memulihkan produktivitas kopi Gayo? Dibutuhkan pengetahuan rekonstruksi alam yang dapat mengembalikan ekosistem alam berjalan secara normal. Artinya, ketika kopi tidak mampu bertahan dalam kondisi panas, rekayasa inilah yang dibutuhkan agar kopi mampu bertahan. Di sinilah dibutuhkan pengetahuan untuk diaplikasikan, sehingga tanaman kopi tidak merasakan panas akibat pemanasan global dan perubahan iklim. Peneliti TAC, menyatakan indikator panas Kopi Arabica dapat digeser sehingga dapat toleran sampai kenaikan suhu lebih dari 3º C.

Meningkatkan efisiensi metabolik dan mengurangi respirasi, mencegah terjadinya oksidasi CO2 respirasi yang berlebihan, mengurangi potensi panas permukaan daun, merekayasa fisiologis kopi Gayo akan membuat Kopi Gayo mengalami rejuvenation dan mempunyai kemampuan anti-aging.

Rekayasa fisiologis juga akan membuat daun kopi Gayo lebih tahan kekeringan dan mampu menyerap uap air dari udara dengan kelembaban rendah. Ini teknologi yang dibutuhkan hari ini, di mana penerapannya menganut prinsip keseimbangan antara tanah, mikro-organisme dan protein yang dibutuhkan. Tim TAC telah mengembangkan langkah-langkah aplikatif guna menjawab persoalan kronis yang sedang dan akan melanda beberapa komoditi utama. Kini, petani kakao sulit bangkit, jangan tunggu giliran petani kopi mengalami hal yang sama.

Bila prinsip yang diuraikan di atas dapat diaplikasikan, maka Kopi Gayo selamat dari pemanasan global dan perubahan iklim yang mengerikan. Kopi Gayo akan selamat dari kepunahan kalau kita memulai perubahan hari ini. Jangan tunggu besok, karena ini bukan siklus lima tahunan, tetapi kepunahan sistematis dan terbukti lima tahun terakhir telah membuat produksi turun drastis, paling ektrem adalah tahun ini, turun lebih dari 50%.

Banyak stakeholder di Aceh Tengah dan Benar Meriah masih berharap bahwa Kopi akan naturally rebound, artinya ada harapan akan pulih secara alami. Ini tidak mungkin terjadi tanpa intervensi yang tepat sekarang, jangan tahun depan. Menghidupkan kembali kejayaan kopi Gayo adalah asa semua warga, tak hanya petani tapi juga penikmat dari seluruh penjuru mata angin. Harapan juga pada mendengar mantra yang kerap didendangkan petani kopi saat memacak bibit di tanah yang dingin, untuk lebih dari 1.000 tahun lagi.

Bismillah// Siti Kewe kunikahen ko orom kuyu// Wih kin walimu// Tanoh kin saksimu// Lo ken saksi kalam-Mu. (Bismilah// Siti Kawa kunikahkan engkau dengan angin// Air sebagai Walimu// Tanah sebagai saksimu// Matahari sebagai saksi kalam-Mu).

* Muslahuddin Daud, Tenaga Ahli Perubahan Iklim, Program Support to Indonesia’s Climate Change Response (SICCR), EU-GIZ. Email: [email protected] (uri/ilati/sra/MU)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id