Kian Parah, Kekerasan di Lembaga Pendidikan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kian Parah, Kekerasan di Lembaga Pendidikan

Kian Parah, Kekerasan di Lembaga Pendidikan
Foto Kian Parah, Kekerasan di Lembaga Pendidikan

Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Lhokseumawe mulai memeriksa para santri Dayah Modern Pendidikan Arun (Yapena) yang diduga menjadi korban penganiayaan para senior mereka. Hingga Minggu (21/5), lima korban sudah dimintai keterangan. “Para santri yang mengaku menjadi korban juga telah memberikan keterangan tentang bagaimana proses terjadinya penganiayaan terhadap mereka,” kata polisi.

Pejabat kepolisian setempat menjelaskan, berdasarkan keterangan sejumlah korban, ada delapan senior mereka yang terindikasi melakukan kekerasan terhadap mereka. Nama delapan senior tersebut sudah didata polisi. Setelah selesai pemeriksaan korban, baru dilanjutkan dengan pemeriksaan terhadap para pengurus yayasan, sebelum memanggil para tersangka.

Sekitar delapan santri diduga dianiaya sejumlah senior mereka pada Rabu (17/5) malam. Orang tua korban yang mengetahui hal itu marah dan membuat pengaduan resmi ke polisi.

Kasus penganiayaan adik kelas oleh kakak kelas di asarama berbagai lembaga pendidikan memang sedang menjadi bahan perbincangan masyarakat. Dan, yang kini sedang menyita perhatian publik secara nasional adalah kasus tewasnya Brigadir Dua Taruna Mohammad Adam, taruna tingkat II Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang, Jawa Tengah. Ia diperkirakan tewas ketika apel pembinaan oleh para seniornya di luar kegiatan resmi sekolah tersebut. Ada belasan seniornya yang sudah ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan hingga menewaskan adam.

Sebelumnya kita juga masih ingat tentang tewasnya beberapa mamahsiswa IPDN, siswa SMA Taruna, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, dan lain-lain. Mereka semua tewas akibat kekerasan yang terjadi lingkungan asrama tempat mereka sedang menimba ilmu.

Demikian pula di Aceh, kekerasan juga pernah terjadi di beberapa sekolah berasrama dan pesantren. Ini tentu sangat bertolak belakang dengan salah satu misi lembaga pendidikan diharapkan mencetak generasi berakhlaqul karimah dan berpengetahuan. “Bukan mencetak preman yang suka bertengkar, memukul, dan mengeroyok sampai menghilangkan nyawa seseorang,” kata seorang pengamat pendidikan.

Yang sangat kita sesalkan, kenapa penganiayaan itu masih terulang di lingkungan pendidikan. Dan, perpeloncoan atau orientasi pengenalan siswa selalu menjadi alat legitimasi penganiayaan. Padahal, sejak bertahun-tahun lalu perpeloncoan dan apapun namanya sudah sangat dilarang mengingat kegiatan itu lebih banyak berdampak buruk ketimbang baiknya.

Dan, yang kedua, lingkungan asrama juga sangat membuka peluang bagi senior untuk “mengerjai” juniornya. Dan, yang pasti peluang itu lebih terbuka lagi ketika pengelola atau pengawas asrama sering mengabaikan kewajiban atau tanggungjawabnya.

Oleh sebab itu, kita berharap sistem pengelolaan dan pengawasan penghuni asrama di lembaga pendidikan tetap dilakukan oleh guru atau para penanggung jawabnya lainnya. Jadi, tidak boleh memberi kesempatan kepada senior untuk “membina” juniornya. (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id