Ini Penyebab RPH Banda Aceh Jorok dan Berbau | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Ini Penyebab RPH Banda Aceh Jorok dan Berbau

Ini Penyebab RPH Banda Aceh Jorok dan Berbau
Foto Ini Penyebab RPH Banda Aceh Jorok dan Berbau

URI.co.id, BANDA ACEH – Penanggung Jawab UPTD Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Banda Aceh di Gampong Pandee, Roni mengaku bahwa selama ini fasilitas tersebut kurang dibersihkan, sehingga jorok dan menebarkan bau tak sedap di sekitar lokasi.

Penyebabnya, kata Roni, karena pembersihan fasilitas tersebut hanya dilakukan oleh dua petugas.

Kondisi itu menurutnya jelas tidak cukup untuk meng-cover seluruh areal tersebut.

“Kami berharap ada penambahan petugas, agar kebersihan RPH bisa optimal,” kata Roni kepada URI.co.id, Senin (22/5/2017), saat rombongan Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh melakukan sidak ke RPH.  

Roni mengatakan, kondisi finansial petugas rumah potong hewan juga jauh dari kata sejahtera. Dalam satu bulan lanjutnya, setiap petugas hanya menerima gaji Rp 500 ribu.

“Saya terus terang prihatin dengan mereka. Tak jarang mereka harus lembur, tapi gajinya tetap segitu,” kata dia, dan berharap agar Pemko Banda Aceh menaikkan gaji para anggotanya itu.      

Selain itu tambah Roni, masalah lainnya yaitu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di rumah potong itu hanya berfungsi sebagai tempat penampungan limbah sementara. Menurutnya, saringan IPAL tidak berfungsi baik dan sering tersumbat.

“Air hasil penyaringan kotor, dan kami tidak berani mengalirkannya ke parit sekitar lagi,” ujar Roni, yang mengaku sering dikomplain warga terkait bau busuk dari RPH.

Sementara itu, Kepala Dinas Pangan Pertanian Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Banda Aceh, Ir T Iwan Kesuma melalui Sekretaris, Ir Bahagia yang ikut mendampingi rombongan mengatakan, permasalahan IPAL di RPH akibat posisinya yang sudah lebih rendah dari pemukiman warga.

“Kondisi ini menyebabkan IPAL cepat penuh karena berisi banyak air. Sehingga petugas harus menyedotnya setiap hari,” kata Bahagia.

Menurutnya, kondisi tersebut kian parah pada saat meugang, di mana aktivitas memotong sapi tinggi dan menghasilkan limbah yang lebih banyak pula.

Pihaknya sudah mengusul anggaran perbaikan khusus IPAL Rp 1,4 Miliar lewat Dana Otsus ke Bappeda Kota.

“Selanjutnya usulan itu diserahkan ke Bappeda Provinsi, dan dibahas di DPRA. Semoga saja bisa disetujui untuk tahun 2018,” ujarnya.

Bahagia juga mengaku bahwa RPH itu sudah tidak layak lagi, sehingga harus dicari lokasi penggantinya.

Menurutnya, selain dekat dengan permukiman warga, fasilitas itu mudah keropos karena berlokasi dekat pantai. (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id