Kecemasan Melanda Warga | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kecemasan Melanda Warga

Kecemasan Melanda Warga
Foto Kecemasan Melanda Warga

SYARIMAH (50) bergegas masuk ke dalam rumah begitu melihat Serambi memotret rumah-rumah yang nyaris amblas ke sungai. Warga Gampong Mersak, Kecamatan Kluet tengah, ini baru ke luar kembali setelah warga setempat memanggilnya.

Dari balik pintu dapur rumahnya, dia coba menyapa Serambi. “Sudah sejak dua kali puasa begini, Pak,” katanya dalam bahasa Aneuk Jamee, salah satu bahasa lokal yang dipakai warga Kluet di Aceh Selatan.

Syarimah mengaku tak bisa tidur pada malam hari. Setiap kali hujan turun, rasa waswas memuncak, khawatir rumah akan hanyut terbawa aliran sungai. Dia tinggal berempat bersama anaknya. Saat ditanya di mana sang suami, Syarimah menggeleng-gelengkan kepalanya. “Hilang,” kata dia.

Ceritanya, pada suatu pagi empat tahun silam suaminya berangkat ke kebun. Namun, hingga magrib tiba, dia tak pernah kembali. Berhari-hari kemudian masyarakat mencarinya, namun tak pernah bertemu, termasuk jasadnya.

Mirisnya, rumah berkonstruksi papan itu nyaris jatuh ke sungai. Beberapa meter tanah Syarimah sudah amblas. “Sebagian dapur saya telah hanyut. Dua tahun lalu sampai ke situ tanah saya,” kata dia menunjuk ke arah air sungai mengalir.

Bukan cuma Syarimah, beberapa rumah lainnya juga bernasib serupa. Setidaknya, lima tetangga Syarimah punya rumah yang Fondasinya persis di bibir sungai. “Mudah-mudahan ada solusinya untuk kami. Tidak bisa tidur kalau hujan, takut hanyut,” kata perempuan ini seraya masuk kembali ke dalam rumah dan menutup pintu belakang.

Semakin lama sungai di belakang rumah Syarimah semakin melebar dan dangkal. Batu-batu pecah dari hulu memenuhi sungai. Air yang mengalir membentuk alur-alur kecil, seperti ada sungai di dalam sungai. Pendangkalan yang terjadi telah membentuk tanah timbul atau delta di pinggir sungai. Adanya limbah industri yang masuk melalui hulu sungai bisa menjadi penyebab timbulnya endapan. Beberapa kali warga mendapatkan ikan yang mati di sungai ini, namun belum ada yang memastikan penyebabnya. “Saya pernah melihat beberapa kali ikan mati terapung-apung, beberapa bulan lalu,” kata warga lainnya yang enggan disebutkan namanya.

Beberapa warga di kawasan ini memang tak mudah diajak bicara. Mereka khawatir sekaligus curiga jika ada orang asing yang datang. “Kalau salah-salah ngomong, bisa hilang nanti,” kata pria ini yang juga tokoh masyarakat setempat.

Hujan pun mulai turun. Setengah jam kemudian kami menelusuri kembali jalan pulang. Seorang tokoh setempat meminta Serambi segera meninggalkan lokasi. “Kalau hujan begini, Anda tak bisa pulang nanti. Buruan pulang,” kata dia.

Baru sekitar satu kilometer mobil merayap, air hujan sudah menggenangi badan jalan hingga setapak. Di beberapa titik, material longsoran sudah memenuhi badan jalan. Kami hentikan mobil sejenak untuk memindahkan beberapa batu yang sulit dilalui mobil Toyota Kijang Innova. Sekitar sejam berlalu, kami pun meninggalkan kawasan Manggamat yang penuh misteri. (uri/sih/ebrinaldy/AF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id