Mereka yang Bisa Hidup dari Kebun | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Mereka yang Bisa Hidup dari Kebun

Mereka yang Bisa Hidup dari Kebun
Foto Mereka yang Bisa Hidup dari Kebun

MANGGAMAT. Ini sebuah kemukiman yang terdiri atas 13 desa. Kawasan ini dikelilingi gunung. Letaknya persis di tengah-tengah. Ada sekitar 9.000 warga yang bermukim di kawasan ini. Mereka punya beragam mata pencaharian. Sebagian besar berkebun. Ada juga yang mendulang emas.

Soetrisno, warga setempat, mengatakan, belasan tahun lalu masyarakat di kawasan ini bisa hidup dengan hasil kebun. Ada nilam, pinang, kelapa sawit, dan palawija lainnya. Ini belum termasuk hasil hutan lain yang tak terhitung potensinya seperti kayu. Paling tidak, warga tak kesulitan mengambil kayu sekadar untuk kebutuhan membangun rumah. Namun, nasib mereka berubah sejak lima tahun lalu, ketika izin-izin eksploitasi sumber daya alam diberikan secara serampangan. “Dulu kami bisa hidup tenang dengan kebun. Lebih dari cukup hasilnya. Beberapa tahun setelah PT (perusahaan pertambangan -red) masuk, kami menjadi tidak tenang. Sedikit saja hujan turun bisa banjir. Kebun kami hancur,” kata Soetrisno.

Dalam setahun terakhir, sudah beberapa kali banjir besar. Pada Juli 2016, misalnya, semua palawija warga tersapu banjir dengan kerugian yang tak terhitung. Lalu, banjir juga terjadi lagi pada September dan November 2016, kemudian pada 7 Januari 2017. Banjir di awal bulan Januari itu bahkan membuat warga Gampong Siurai-urai, Kemukiman Menggamat, Kecamatan Kluet Tengah, harus dievakuasi ke luar Manggamat. Ketinggian air mencapai 1-2 meter.

Kala itu, petugas sempat kesulitan mengevakuasi karena mereka harus menyeberangi Sungai Kluet yang arusnya cukup deras. Kemukiman Manggamat dikelilingi pegunungan yang masuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Jika saja dieksploitasi secara tidak terkendali di bagian hulu, maka besar kemungkinan kemukiman ini dan sekitarnya akan tamat riwayatnya.

Pada 17 Desember 2015, masyarakat Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah sepakat meminta aktivitas pertambangan dihentikan setelah beberapa tahun beroperasi. “Kami merasakan tidak nyaman setelah adanya pertambangan. Banjir kerap datang dan banyak perkebunan yang hancur dan rusak berat,” kata keuchiek, kepala mukim, dan ketua pemuda dari belasan gampong dalam surat keputusan yang diteken bersama pada 17 Desember 2015.

Keuchik Koto Manggamat, Hib Bahir meminta pemerintah mengeruk Sungai Manggamat sepanjang 8 kilometer yang kini dangkal. “Tidak ada cara lain. Sungai harus dikeruk 8 kilometer. Pengaman tebing juga harus dibangun 8 kilometer, mulai dari Jambo Papeun sampai Simpang Dua,” katanya kepada Serambi pekan lalu. (uri/strid/lleonora/AE)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id