Black Angus, Leumo Aceh, Wagyu, dan Makmeugang | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Black Angus, Leumo Aceh, Wagyu, dan Makmeugang

Black Angus, Leumo Aceh, Wagyu, dan Makmeugang
Foto Black Angus, Leumo Aceh, Wagyu, dan Makmeugang

Oleh Ahmad Humam Hamid

BLACK Angus, Leumo Aceh, dan Wagyu sesungguhnya bersaudara. Ketiganya adalah sapi yang telah menjadi teman dan makanan manusia selama lebih kurang 10.000 tahun lalu, ketika nenek moyang mereka yang liar dijinakkan dan menjadi hewan peliharaan manusia. Black Angus adalah jenis sapi Eropa (Bos taurus) yang berasal dari Abeerden, Scotlandia, mempunyai rasa paling enak dan harganya sangat mahal. Menurut catatan yang ada, Leumo Aceh adalah jenis sapi Zebu (Bos indicus) sapi asal India yang merupakan jenis sapi Asia. Wagyu adalah sapi Jepang, sapi dari hasil perkawinan sapi Asia dan sapi Eropa pada abad ke-19, karena rasanya yang lezat juga menjadi incaran para pencinta daging sapi.

Semua jenis sapi itu menjadi satu nama ketika menjadi daging (sie leumo, daging sapi, beef), menjadi bagian dari kelompok daging yang mempunyai hierarkhi tertinggi dalam pengelompokan makanan manusia. Demikian pentingnya daging hewan sebagai makanan, terlihat dari hampir semua agama samawi yang memperlihatkan keterkaitan antara ritual agama dan budaya makan daging yang sangat erat, dengan sejumlah perbedaan dan persamaan jenis dan tata cara. Sebaliknya, hampir semua agama Timur yang berasal dari India, utamanya Hindu, Budha dan Jaism, melarang umatnya mengonsumsi daging hewan.

Mungkin karena hirakhi itulah maka daging menjadi penting dalam setiap budaya, dan karena itu pula penjelasan tentang hubungan makmeugang dan daging dapat dijelaskan. Apa yang menjadi unik barangkali karena hampir tidak ada tempat lain di dunia yang mempunyai tradisi meugang, hari daging (beef day) seperti di Aceh.

Tidak ada penjelasan tertulis tentang asal mula meugang, kecuali sebuah peristiwa yang terus berulang setiap tahun ketika bulan Ramadhan akan tiba.

Demikian sakralnya meugang, sehingga ada fenomena menyatu mulai dari politik pangan pemerintah, harga daging dan bisnis lokal, kesiapan dan persiapan rumah tangga, hubungan keluarga dan jaringan sosial, sampai dengan isyu daging lokal dan non-lokal. Eksistensi kepala keluarga diwujudkan dalam bentuk kemampuan menyediakan daging untuk anggota keluarganya, eksistensi pemimpin diukur dari perhatian kepada anak buah dan jaringannya. Demikian uniknya, seolah meugang yang sesungguhnya ritual budaya seolah menyatu dengan puasa, sehingga nyaris menjadi ritual keagamaan.

Makmeugang dan budaya
Apa sesungguhnya hakekat keterkaitan agama, budaya, dan makanan dalam sebuah masyarakat? Seringkali kita melihat makanan sebagai sesuatu yang enteng dan sederhana; panen, olah, atau beli, masak, dan makan, selesai. Kita sering abai tentang makna pentingnya makanan, dan bahkan jenis makanan pada berbagai peristiwa kehidupan. Kita lupa bahwa sebuah acara perkawinan, ritual kematian, turun anak, maulid Rasul, dan berbagai upacara kegembiraan, peringatan, dan acara syukuran lainnya akan janggal kalau tidak disertai makanan. Sampai di sini, secara perlahan kita mulai sadar bahwa makanan berperan tidak hanya penting secara biologis, tetapi juga mempunyai makna sosial yang cukup penting dalam kehidupan manusia.

Tidak ada agama dan masyarakat yang tidak menempatkan pentingnya makanan dalam kehidupan, mulai dari yang boleh dan tidak boleh dimakan, makanan sehari-hari, jenis makanan pada berbagai upacara dan pesta, makanan favorit, dan bahkan makanan tertentu pada saat tertentu. Makanan kemudian menjadi pernyataan identitas masyarakat atau komunitas, tali penyambung sosial dan solidaritas, dan bahkan cermin status sosial individu.. Makanan lalu menjadi simbol sosial yang tak pernah habis digali dan dikaji oleh pencinta, pengamat, dan peneliti.

Dalam hal tradisi menyambut Ramadhan di Indonesia, dari 12 daerah yang terdokumentasi, hanya tiga daerah yang berhubungan dengan makanan, sedangkan selebihnya tradisi yang tidak berurusan dengan makanan. Ketiga daerah itu adalah lemang, malamang, di Sumatera Barat; makan bersama keluarga, mungguhan, di tanah Sunda, Jawa Barat; dan meugang di Aceh. Tanpa mengecilkan arti penyambutan Ramadhan di provinsi lain, penyambutan Ramadhan di Aceh, makmeugang, memang “juara” di kelasnya, baik dari sumber daya dan kesungguhan yang dibutuhkan.

Tanpa bermaksud menggali lebih dalam makna makmeugang dalam masyarakat Aceh, secara kasat mata paling kurang makmeugang memenuhi kriteria yang mirip dengan sebuah judul film kontemporer, Eat, Pray, and Love. Ada suasana fiesta (kegembiraan dan syukur) dalam keluarga dan masyarakat dalam menyambut bulan ibadah yang refleksi materialnya diwujudkan dalam bentuk konsumsi daging sebagai makanan utama yang wajib. Makmeugang memang bukan ritual keagamaan, tetapi ia telah terurai dan menyatu dengan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Hubungan keluarga, hubungan sosial, dan berbagai jalinan, perhatian, serta cinta kasih keluarga, seolah pada hari itu hanya tertumpu pada daging.

Lebaran di tingkat Nasional dan meugang di Aceh selalu berkonotasi dengan kenaikan harga daging. Tidak ada penjelasan yang runtut mengapa harga daging sapi kita naik selangit dan bahkan konon tertinggi di ASEAN dan di dunia. Statistik konsumsi Indonesia menyebutkan konsumsi daging sapi perkapita pada 2016 sekitar 2,7 kg perkapita per tahun, dengan DKI, Bali, dan Kalimantan Timur di atas 10 kg pertahun. Aceh tidak sangat jelek, karena konsumsi paling rendah perkapita ditemukan di Papua, Maluku, dan Maluku Utara.

Kalaulah konsumsi perkapita dianggap sebagai variabel penting kenaikan harga, mengapa hal itu tidak terjadi di Malaysia dan Singapura yang konsumsinya mencapai 15 kg perkapita per tahun, dan harganya hanya sekitar Rp 55.000 per kg. Pada saat yang sama harga daging di Indonesia telah melewati Rp 100.000 per kg, dan diperkirakan pada lebaran tahun ini akan lebih dari Rp 120.000 per kg. Di Aceh sendiri, harga daging meugang tahun ini diperkirakan akan mencapai Rp 150.000 per kg. Selanjutnya, kalaulah disebutkan berbagai biaya produksi yang diperlukan, sehingga akan mempengaruhi harga pokok produksi, mengapa harga jual ekspor daging India hanya Rp 36.864 per kg dan Brazil Rp 57.856 per kg?

Sangat kompleks
Persoalan harga daging sapi Nasional kita adalah persoalan yang sangat kompleks. Alasan mekanisme pasar dengan kurva penawaran dan permintaan saja tidak cukup menjelaskan, karena ada peran pemerintah dalam menentukan kebijakan impor, dan tak jarang pula menjadi arena bancakan kolusi cukong dan kekuasaan. Niat swassembada daging yang ambisius dan seringkali diwarnai oleh perencanaan yang tidak matang dan realisasi program yang setengah hati adalah penyebab dari petaka kenaikan harga. Dari pengalaman beberapa tahun terakhir, optimisme swasembada daging seringkali berujung dengan pengurangan impor dan mengakibatkan harga daging naik.

Walaupun banyak pihak menyebutkan harga daging kita dipengaruhi oleh harga internasional, namun karut marut domestik tidak kurang pula pengaruhnya. Produksi daging lokal, populasi sapi lokal, transportasi dan logistik, dan persoalan tata niaga adalah beberapa hal utama yang menjadi faktor penentu harga daging. Dan memang, dengan melihat kepada trend konsumsi yang terus menaik akibat pertambahan penduduk dan peningkatan pendapatan, salah satu pilihan yang tersedia dan memungkinkan adalah dengan memperbanyak populasi sapi lokal.

Data terakhir Kementan menunjukkan penyusutan angka populasi sapi lokal dalam tiga tahun terkhir. Pada 2012 jumlah sapi Indonesia 15,98 juta ekor, dan pada tahun lalu jumlah itu menyusut menjadi 12,36 juta ekor. Ini artinya ada penyusutan lebih dari 3 juta ekor sapi lokal pertahun. Ini juga berarti banyak induk sapi betina yang dijadikan daging oleh peternak dan pedagang, karena memang dengan harga betina yang murah dan harga daging mahal maka pedagang akan memanfaatkan situasi dengan menyembelih sapi betina.

Nasib konsumen daging kini berada di tangan pemerintah. Membuka kran impor berarti mematikan usaha peternakan sapi. Sebaliknya menguatkan petani sapi potong berarti mengurangi impor, dan meminta konsumen, terutama konsumen kota untuk membayar mahal, yang keuntungannya tidak sepenuhnya jatuh kepada peternak sapi. Membayangkan penguatan petani kecil sapi lokal untuk bersaing dengan daging sapi internasional adalah pekerjaan yang mustahil, karena di hampir semua negara produsen besar sapi, pemainnya adalah perusahaan besar yang berkutat dengan riset dan inovasi yang berbasis pengetahuan.

Sementara di Indonesia, mayoritas petani kecil sapi di kawasan pedesaan, tidak tahu apa yang sedang dikerjakan oleh pemerintah untuk sektor yang mereka geluti. Sudah saatnya pemerintah lebih serius membantu petani kecil sapi kita dengan berbagai kebijakan penguatan yang berbasiskan pengetahuan dan penelitian, pengaturan logistik, dan perhubungan. Kalau tidak, peternakan sapi kita akan tergerus untuk kemudian akan hilang, dan kita akan menjadi seperti Singapura, daging murah impor. Konsumen senang tentu saja bagus, tapi ingat jumlah peternak kecil kita terlalu banyak untuk ditinggalkan begitu saja. Nah!

* Prof. Dr. Ir. Ahmad Humam Hamid, M.A., staf pengajar Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam, Banda Aceh. Email: [email protected] (uri/aufik/arahdiba/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id